Uang? apakah itu penting?

Bagiku jawabannya adalah kebahagiaan lebih penting. Ya memang ketika orang bilang “kita gak bisa hidup tanpa uang” itu 100% benar, namun bagiku uang bukan segalanya. Sebelumnya aku sempat bekerja untuk perusahaan IT di bandung, gajiku tidak terlalu besar. Bandung adalah kota favoritku, disana tersimpan banyak cerita, susah, senang, sedih, bahagia. Aku besar di kota bandung apalagi sekarang bandung sudah sangat eksklusif semenjak kang emil menjabat menjadi wali kota. Di bandung aku punya banyak garapan, salah satunya dibidang seni standup comedy. Aku menjadi mentor di standupindo_cmh (Stand Up Indo Cimahi) akupun menjadi PIC sharingcomic standupindobdg (Stand Up Indo Bandung). Namun suatu saat setelah aku bekerja selama 1,5 tahun yang merupakan akhir dari kontrak di perusahaan IT tersebut, aku memilih pindah ke jakarta karena aku tidak mendapatkan penghasilan sesuai dengan yang aku harapkan.

Memang ada unsur “mata duitan” dari ceritaku diatas, namun sebenarnya aku tidak begitu mementingkan uang. Selama 1,5 tahun aku bekerja di perusahaan tersebut, aku sudah banyak memberikan kontribusi positif, aku sudah menyelesaikan 4 projek besar. Selain itu disana aku bekerja sebagai full-stack engineer (engineer serba bisa) yang artinya aku bisa mengkoordinir lebih dari satu tugas divisi IT. Namun menjelang akhir kontrak aku ditawari kenaikan gaji yang nominalnya tidak begitu besar. Aku tersinggung dengan tawaran mereka, gajiku hanya naik 200ribu. Katanya aku masih bisa bernegosiasi, namun pada akhirnya mentok di 1juta untuk 1,5 tahun kontrak kedepan. Aku tersinggung karena kontrobusiku selama ini tidak dihargai. Lalu mereka menanyakan hal yang membuatku agak marah read more..

Keluarga

Baru saja aku melihat sebuah video berdurasi kurang dari 5 menit di youtube. Sebenarnya video itu ditujukan untuk para wanita yang gila harta dan didalamnya ada pembelaan dari seorang pria untuk jangan menilai pria dari hartanya. Namun entah kenapa sejenak aku teringat pada keluargaku.

Aku tidak tau keharmonisan keluargaku akan mengarah kemana yang jelas sekarang ibuku sedang merasakan ada yang berbeda dari bapakku. Bapakkupun berperilaku tidak seperti biasanya. Kata “biasanya” disini mungkin sekitar 3 tahun lalu, artinya sudah 3 tahun aku merasakan aura yang berbeda dengan keluargaku yang sekarang. Beberapa kali ibuku sering bercerita tentang sifat bapakku yang berubah, katanya semenjak nenekku kabur.

read more..

Wanita ini, tak ingin kutemui lagi

Sekitar tahun 2007 aku yang masih seorang penyiar radio komunitas diberi tugas untuk mewakili komunitasku dalam rangka perkumpulan radio komunitas se-jawa barat. Tempatnya di lembang, aku berangkat dengan director-ku. Dari sebagian besar radio komunitas yang berisi penyiar-penyiar yang sudah senior dari segi umur, aku melihat satu radio yang mayoritas penyiarnya masih seumuran denganku, ditambah lagi mayoritas dari mereka seorang wanita. Jujur aku ngeceng satu orang wanita yang diantara wanita yang lain dia terlihat lebih menawan. Ketika malam terkahir ada sesi perkenalan antar radio, otomatis akan ada giliran si wanita itu untuk memperkenalkan diri. Ternyata sampailah saat dia memperkenalkan diri. Namanya Irma. read more..

Saling Mengerti

Malam ini terasa sangat gerah, bandung sudah berubah banyak. Terkadang sangat dingin, terkadang sangat gerah. Baru saja 2 minggu lalu badanku membeku sampai tak berhenti bersin. Tapi sekarang udara sangatlah gerah. Aku menulis sekarang dalam keadaan telanjang, tidak telanjang bulat, tapi topless (tanpa pakaian saja). Bingung apa yang akan aku tulis tentang orang tuaku, namun aku sangat menyadari mereka adalah pasangan yang aku impikan. Aku berharap jika suatu saat aku sudah berkeluarga, aku ingin seperti mereka.

Bukan karena mereka berdua seorang guru. Aku tidak pernah terpikir untuk menjadi orang yang berada di depak kelas dan mengajarkan pelajaran matematik terhadap muridnya. 7 dikali 7 pun aku tidak tau. Ayahku berasal dari keluarga kurang mampu. Setiap kali aku sedang sendiri di kamar, terkadang jika dia merasa kesepian, dia menghampiriku dan bercerita tentang masa kecilnya. Terkadang aku benci mendengar ceritanya, karena aku harus menahan sedih yang ia simpan dalam setiap kata-kata yang menceritakan tingkahnya ketika kecil. Dia perah menjadi tukang cuci pakaian yang hanya sekedar memenuhi uang jajannya. Dia pernah berjalan dengan jarak yang sangat jauh dari rumah sepupunya ke sekolah, hanya karena ia tidak diberi ongkos. sekarang dia sudah menjadi seorang guru yang disegani di sekolahnya.  Ibuku pernah bercerita, dia orang yang pendiam, tidak banyak bicara, berwajah seram (dibaca : jutek). Tak jarang teman-temanku yang main ke rumah semasa SD dulu, mereka takut melihat wajahnya. Namun ketika dia tersenyum, mereka menyadari jika dia adalah orang yang ramah.

Sementara ibuku, dia berasal dari keluarga berada. Ayahnya anggota ABRI. Tidak banyak aku mendengar kepedihan dari cerita hidupnya. Hanya saja yang membuatku kagum adalah, mereka berdua bisa bersatu. Dia orang dari latar belakang ekonomi yang berlawanan bisa bersatu. Sungguh aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Aku bisa belajar banyak hal dari mereka. Berbeda dengan aya, ibuku adalah orang yang periang, mudah bersosialisasi dan mudah tertawa. Bukan hanya latar belakang ekonimi yang berbeda, karakter merekapun berbeda. Hanya satu kesamaan dari mereka, yaitu saling mengerti. Ya mereka saling mengerti, mereka tau kapan harus menentang dan mengalah.

Owh sial.. aku kehabisan kata-kata. Semuanya terbatas untuk hari ini. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca J

Pertama kali

Mungkin kalo diibaratin dengan sebuah benda, benda ini udah usang, depenuhi sama sarang laba-laba. Ya udah lama banget kejadiannya, tapi kenangan sama dia gak pernah ilang sampe sekarang. Yaa kayak panu.. ilangnya susah. Bapak aku guru, ibu aku juga guru. Makanya nilai rapot aku harus bagus. Cuman kenyataannya aku naik kelas bersyarat, kalo mau naik kelas harus pindah sekolah. Kalo bahasa sundanya “naek tajong”. Gak perlu dijelasin lagi, kalian semua telah berpikir kalo aku orang yang bodo waktu kecil. Itu benar sekali. Makanya sekarang gak nyangka bisa kerja di perusahaan IT yang pekerjaannya ngeforsir otak banget. Tapi yang aku ingin ceritain sekarang bukan tentang prestasi, tapi tentang seseorang.

Ya semenjak aku “naek tajong” aku pindah dari SD 3 ke SD 1 yang jaraknya lumayan jauh. SD 3 di tengah perkampungan sementara SD 1 bisa dibilang sekolah elit. Aku pindah sekolah ketika kelas 5 SD dan dengan susah payah akhirnya aku naik ke kelas 6, itupun hampir “naek tajong” lagi. Fenomena yang paling menggemparkan ketika itu adalah aku bertemu dengan bapak aku. Kebetulan bapak aku mengajar kelas 6 di SD 1. Sebagai anak yang digurui oleh bapaknya, aku memulai kesan dengan sangat baik. Aku lupa membawa buku PRku. Mau gimana lagi, bapak aku orangnya fair, akhirnya aku dihukum keluar kelas dan disuruh mengitari lapangan 20 kali. Pas keluar kelas, aku ketemu sama perempuan cantik banget, dia lagi berdiri di depan kelasnya. Kayaknya ni cewek disetrap juga nih. Kita liat-liatan trus dia senyum. Pas dia senyum.. beeuuhh melting soob. Pengen kenalan tapi gak berani.

Udah 6 bulan berlalu dan aku masih penasaran sama perempuan itu. Aku gak anggap itu sebagai sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Waktu dulu mana ngerti hal yang kayak gitu, masih anak kecil juga. Aku izin gak ngaji karena sakit, waktu itu kalo gak salah 3 hari aku sakit demam. Setelah 3 hari berlalu, aku mulai masuk ngaji. “fan fan.. ada murid baru di kelas sebelah, cantik loh. Katanya dia sekolah di SD 1 kamu kenal gak” kata si Egi sahabat aku.

“Siapa?”

“namanya Irma”.

“Irma yang mana? Enggak ah aku gak kenal”

“yah kirain kenal, tadinya mau minta dikenalin”

Udah ajah, kegiatan mengajipun berlanjut. Pas beres ngaji, aku ngeliat ke kelas sebelah, gak ada murid baru juga. Sampe pas keluar mesjid nyari-nyari sendal, biasa udah 4 kali sendal diculik mulu.

read more..

Takkan Terlupakan

Selesai membeli pulsa aku beranjak menaikin motorku lalu menyalakan mesinnya. Tak sengaja aku melihat ke sebrang, sepertinya aku mengenali tukang roti bakar itu. Itu Dani?

Setiap hari selasa adalah mata pelajaran penjaskes atau olah raga. Rutinitas yang membuatku semangat adalah ketika kita harus berlari ke komplek yang lumayan jauh dan harus menyebrangi sawah. Ketika itu aku masih berstatus siswa baru dihadapan penghuni kelas 5 SD. Aku yang memiliki kendala dalam bersosialisasi sangat membutuhkan waktu untuk berbaur dengan mereka. Ditambah lagi dengan wajahku yang katanya jutek, semakin sulitlah aku berbaur dengan mereka. Ketika kami berlari menyebrangi sawah, aku hanya berlari sendirian. Tak ada satupun yang mau menemaniku, ditambah lagi staminaku yang sangat lemah membuatku selalu berada di posisi paling belakang. Aku selalu tertinggal. Teman2 baruku sudah jauh di depannku, aku melihat mereka menaiki mobil kol buntung yang kebetulan lewat. Mobil melambat karena menunggu mereka naik, sementara aku berlari semakin kencang untuk meraih mobil itu. Jarakku dengan mobil itu semakin dekat namun mobil mulai melaju.

“fan sini naik” Sahut salah satu teman sekelasku sambil mengulurkan tangan kearahku. Aku masih ingat, tangannya kasar, kekar, terlihat seperti tangan yang terlatih mengerjakan hal-hal berat.

Aku berusaha keras meraih tangannya namun mobil melaju semakin kencang sehingga aku hanya membungkuk kecapean dan berhenti berlari.

“ah elu diajakin naik malah berenti lari” sambil berjalan kearahku.

“eh elu kok turun? Gak ikut naik mobil?”.

“ah banyak tanya lu, yok lari lagi. Oh iya kenalin nama gue Dani”.

Akhirnya kami lari berdua, sementara yang lain berangkat lebih dulu dengan menaiki mobil kol buntung tersebut. Ketika itulah aku pertama kali mengenal dia.

___ read more..

Kata-kata yang menjadi do’a #SingleDIary

Aku dengar kabar dia telah putus dengan teman sekelasku. Ingin sekali aku terus terang padanya untuk bilang bahwa aku memang sudah lama menyukainya. Namun aku juga berpikir, mana mungkin secepat itu dia bisa pindah ke lain hati

Sering kita mendengar istila “kata-kata adalah doa”. Ya sayapun berpikir demikian. Mungkin awalnya saya tidak percaya, namun banyak kejadian yang merepresentasikan hal itu. Entah bagai mana formulanya, terkadang kita merasa doa kita lambat dikabulkan oleh Tuhan, namun kata-kata yang kita ucapkan secara terus-menerus malah menjadi kenyataan.

Pertama kali aku menginjakan kaki di kampus, ya kebanyakan orang menilai bahwa kampusku ini adalah kampus yang berisi wanita-wanita cantik, hanya satu wanita yang membuatku tertarik. Dia berkerudung, tidak terlalu tinggi, agak tomboy dan dia memiliki senyum yang manis. Senyum terbaik yang pernah aku liat selama ini. Kerap aku menanyakan kepada sahabatku yang sudah kenal dengan dia. Aku terlalu malu untuk memperlihatkan jati diriku. Temanku memintaku untuk berani, namun berjuta alasan kubuat untuk mempertahankan argumen ketidak beranianku muntuk mendekati dia. “ayolah fan, dia itu baik kok, asik orangnya, enak diajak ngobrol”

read more..

Putus dan Move on #RelationshipDiary

Pada malam ini saya akan berbagi tentang pengalaman dalam berhubungan. Ya kita butuh belajar dari pengalaman orang lain agar kita tau dan siap jika menghadapi permasalahan yang sama. Mungkin beberapa dari kalian sudah sangat mahir dalam berhubungan, berbeda dengan saya yang payah dalam hal itu. Namu dengan pengalaman saya yang masih terbatas ini, saya ingin berbagi pengalaman dengan hashtag #RelationshipDiary. Berbeda dengan #SingleDiary yang isinya curhatan saya dengan format cerpen. Saya ingin berbagi dengan jujur kali ini.

Yup #RelationshipDiary kali ini adalah tentang move on. Entah apa yang saya miliki, saya merasa lebih ringan dan lebih bebas dalam menjalani hidup ini setelah  putus. Bisa dibilang saya cepet move on.  Enggak, bukannya saya gak menghargai  mantan saya. Seperti yang tadi saya bilang, saya ingin berbagi dengan jujur kali ini.

 

MENJADI YANG TERBAIK

Kebanyakan orang menilai kalo move on itu susah, ya memang susah kalo kamu yang mengecewakan dia. Kamu merasa dia baik, dia memahami kekurangan kamu, menyukai kamu apa adanya, memperjuangkan kamu sampe titik feeling penghabisan, tapi kamu sadar kalo ternyata selama ini kamu mengecewakan dia. Ingin memperbaiki itu, tapi udah terlambat, dia udah keburu sakit hati. Saya juga bukan tanpa bekal menjalani hubungan dengan seseorang, ada banyak teman saya yang sudah malang melintang mengalami pahit getir dalam berhubungan dan mereka curhat sama saya, lalu saya mendengarkan dengan seksama dan memahami perasaan dia. Mereka yang susah move on rata-rata bilang “padahal dia baik banget sama gue, dia orang terbaik yang prnah gue miliki selama ini” nada-nada penyesalan. Oleh karena itu selama saya berhubungan sebisa mungkin saya tidak menyia-nyiakan kebaikan yang dia kasih, perhatian dan cara dia memandang saya sangat saya hargai, biar apa? Biar suatu saat kalo ada sesuatu yang buruk terjadi pada kami, saya gak begitu menyesal. Saya punya prinsip, selama masih ada perasaan sama dia, saya gak akan berhenti memperjuangkan dia. biar apa? Biar seenggaknya saya udah berjuang udah mencoba menjadi yang terbaik untuk dia sehingga jika tuhan tidak menghendaki hubungan kita, saya tidak begitu menyesal. Banyak orang ketika mereka takut dalam menghadapi rintangan, mereka bilang “seenggaknya kita udah berusaha” ya jika kita udah berusaha, apa lagi? Mungkin kamu harus berusaha lagi, tapi dengan orang yang lebih tepat.

 

BUKAN KARENA BISA ATU GAK BISA, TAPI MAU ATAU TIDAK.

Dalam fase paska putus, kamu akan dihadapkan pada situasi yang disebut “menghargai  perasaan mantan” kamu yang merasa udah cukup menjalani hubungan sama dia, trus kamu udah mulai buka hati untuk orang baru (baru buka hati ya, bukan berhubungan lagi) tapi kamu was-was karena “menghargai perasaan mantan”. Ya buat seseorang yang mau menghargai layak diberikan penghargaan berupa “respek”, namun ingat dari kata “menghargai” tersebut apakah kamu menghargai diri kamu sendiri? Oke Mungkin kamu was-was untuk move on karena menghargai perasaan mantan kamu yang belum bisa move on dan masih ngawasin kamu, ngepoin kamu, bahkan masih cemburu sama kamu. Menurut saya sih itu pribadi masing-masing, itu tergantung kecerdikan kamu dalam menyiasati, menahan diri biar kamu gak suka 100% sama pasangan kamu. Hei teman, kamu itu tampan, kamu itu cantik, ada banyak calon pendamping di dunia ini dan mungkin mereka lebih baik dari orang yang ada di masa lalu kamu. Percuma kamu menjalani hidup ini kalo kamunya gak bahagia, untuk apa berangkat ke kantor, kerja ngumpulin uang, punya bisnis ini itu tapi hati kamu masih tertinggal di masa lalu dan selalu galau?. Move on itu bukan karena bisa atau gak bisa, tapi mau atau tidak.

 

MENJALIN KOMUNIKASI TIDAK SELALU MENJADI SOLUSI YANG TEPAT

Terkadang ketika kamu baru putus, kamu merasa sangat sakit, seperti ada yang menusuk hati kamu dengan pedang beracun, lalu racun itu menjalar ke seluruh tubuh. Sakit memang, tapi coba buka mata kamu, liat temen-temen kamu, sebagian dari mereka pernah merasakan lebih dari pada yang kamu rasain sekarang, trus liat bagai mana dia sekarang? Tentunya menjadi semakin lebih tegar. Saya sempat ngobrol sama teman perempuan saya, dia pernah diputusin sama mantannya dengan sangat tidak baik. Mantannya sampe ngomong kasar sama dia, namun sekarang dia menjadi pribadi yang lebih baik, prinsipnya semakin terbentuk, ketegasannya dalam menjalani hidup semakin terasa, namun dia juga punya komitmen jika dia tidak mau lagi berkomunikasi bahkan bertemu lagi sama mantan karena dia malas untuk menatap wajahnya. Wajahnya seperti kotoran yang berkumpun di jamban sehingga dia jijik untuk melihatnya. Balik lagi dari komitmennya itu, dia berhasil menjaga perasaannya dirinya sendiri, dia bisa menghargai dirinya sendiri, sekarang dia menjadi pribadi yang lebih tegar dan kuat. Banyak orang bilang ketika putus jangan memutus silaturohim. Tapi menurut saya, percumah menjalin silaturohim kalo dengan cara itu kamu merasa terus tersakiti, terus marah, terus mengingat keburukan-keburukan dia sehingga setiap detik kamu ingin mencaci dia, ingin menceritakan keburukan dia kepada orang lain bahkan menjelek-jelekan diri sendiri karena berpikir mengapa dulu kamu memilih dia. See? Kalo dengan menjalin silaturohim kamu malah menambah dosa buat apa? Menjalin komunikasi tidak selalu menjadi solusi yang tepat.

 

 

Catatan Kecil Sang Jomblo Expert #SingleDiary

Malam Minggu
Sabtu malam
Hari setelah Jumat
Ah apapun namanya itu. Datangnya seperti sound efek munculnya hantu di film horor paling laris.
Selalu diulang ulang.
Selalu diulang ulang.
Selalu diulang ulang.
Selal…
Lah kan gue udah bilang:
Selalu diulang ulang.

Yang pacaran sih jadwalnya jelas:
-jalan sama pacar
-telponan sama pacar
-ngapel ke rumah pacar
-dinner sama pacar
-pedekate sama sahabatnya pacar
Yaa sibuklah pokoknya.

Beda nasibnya sama kaum jomblo.
Tiap malem minggu draft socmed pasti isinya sama: seputar kejombloan dan benci malem mingguan.
Buat kami, oh maaf mereka maksud gue, malem minggu itu semacem cobaan maha berat dari Tuhan. Dateng ke dukun tujuannya bukan mau minta pacar tapi ujan. Biar yang malem mingguan pada gagal.

Dan entah kenapa, banyak mitos yang berkaitan seputar kejombloan-malem minggu-dan twitter.

Pernah denger kalimat ‘malem minggu jangan suka keseringan ngetweet entar disangka jomblo’
Kenal acc (at)detikcom?
Tau berapa banyak jumlah tweetnya?
544.000an.. Semenjak eksis dari tahun 2009.
Anggaplah dia sudah malang melintang, tengkurep plus kayang selama empat tahun. Kalau dihitung rata ratanya, detikcom mengeluarkan tweet 300an setiap harinya. Itu berarti termasuk malem minggu juga. Iya malem minggu juga. Dan apakah artinya si detikcom jomblo juga?
Ngg.. Kalo itu sih gue ga tau. Soalnya berapa kali gue coba minta balesan, DM sampe folbek tapi ga ditanggepin sama dia.
Eh bentar. Berapa tweet perhari? 300an? Sial spam bener si detikcom. Bentar gue unfol dulu.

*beberapa saat unfol kemudian*

Nah, terbukti kan kalo jumlah tweet itu ga ada kaitannya dengan kejombloan?. Lagian, kalo emang bener justru lo mesti makin banyak banyakin tweetnya.
Supaya apa? Ya supaya orang orang tau siapa aja yang lagi jomblo, siapa aja yang lagi butuh banget punya pacar, siapa aja yang sampe 2014 ini belom laku laku juga. Terus kita bantu deh mereka.. Biar bisa dibully rame rame :)

Sekian dan terimakekasih.
@dydylbedudul

Memori Bersama Wulan #SingleDiary

Ketika hendak duduk ada seorang wanita berambut panjang terurai lurus, berkulit putih, berbibir merah tipis sedang menghadap jendela bis.

“permisi, ikut duduk disini ya”

Jaket yang basah menjatuh berat karena air hujan menempel erat ditubuh Alvin, dia baru saja pulang dengan kecewa, badannya terasa lemas, langkah kakinya terasa berat dan ragu. Dia baru saja menemui seorang wanita baik yang ia impikan, namun pertemuannya yang ke 8 ini tidak bisa mengarahkan hatinya untuk menyukai wanita itu. Sudah hampir 12 tahun Alvin tidak bisa menemukan wanita yang membuatnya jatuh cinta seperti ketika ia masih SMP dulu, ia sudah menyiapkan VCD Box westlife yang juga berisi CD video ucapan tentang perasaannya kepada seorang jika suatu saat ia jatuh cinta kepada wanita impiannya. Namun sampai saat ini belum ada wanita yang menurutnya pantas menerima souvenier itu. Rasa bersalah terus menghantuinya ketika ia tidak peka dalam menerjemahkan teka-teki yang digambarkan oleh Wulan.

Pertemuan mereka berawal ketika Alvin masih kelas 6 SD, dia dihukum keluar kelas dan berlari mengelilingi lapangan upacara karena lupa membawa buku Pekerjaan Rumahnya. Ketika baru saja Alvin keluar kelas, tepat dihadapannya seorang wanita sedang bersandar ditembok kelas sebrang, berambut sebahu, berkulit putih dengan senyumnya yang menawan. Alvin tidak ingin mengedipkan matanya karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun keindahan yang ada dihadapannya. Sejenak Alvin tidak bergerak, wanita itu tersenyum “hay kamu dihukum juga?” read more..