Aku Terbangun dengan jantung yang berdebar sangat kencang, seketika pikiranku langsung mengarah ke Verdhi. Oh Tuhan, aku sangat merindukannya

Angin berhembus mengusap rambutku yang terurai mengikuti arusnya, suasana puncak memberiku kesempatan menghirup udara lembang yang sejuk, smentara dihadapanku ada sahabat laki-lakiku mengemudi motor Tiger-nya dengan sesekali mengajakku berbicara. Hari ini Verdhi mengajakku ke puncak untuk merayakan hari ulang tahunku yang sudah terlewat tiga hari. Dia teman kuliahku semasa smester  1 sampai sekarang. Dia lebih tinggi dariku, tata bicaranya membuatku tidak bosan untuk mendengarkannya, dia selalu ada disaatku sedang sedih, meskipun aku pernah menolak cintanya ketika kita masih kuliah. Sementara aku, wanita berambut lurus, berkulit putih, aku sangat menjaga penampilanku dan aku menyadari banyak lelaki yang terpikat oleh penampilan fisikku. Ayahku memberi namaku Citra Intan agar aku selalu memiliki citra seberharga intan berlian, namun yang terjadi tidak seperti yang ayah doakan.

Dari sini kota bandung terlihat indah, lampu-lampu rumah berderet menyala seperti bintang yang bersinar di daratan, sungguh pemandangan yang sangat mahal, aku sangat berterimakasih pada sahabatku Verdhi.

“Ver kamu sekarang lagi dekat dengan siapa? Setelah kamu gagal PDKT sam Rara?” tanyaku sambil melihat pemandangan bandung.

“sekarang aku sedang dekat dengan Virni, tapi…..” Jawab Verdhi sambil melihat pemandangan bandung dengan kata-kata yang ragu.

“tapi apa?” Selahku.

“banyak orang bilang dia Bitch, aku sangat kesal denga pernyataan itu. Karena aku tidak peduli dengan masa lalunya” Jawab Verdhi dengan nada yang dalam.

Aku sedikit tersenyum “Mungkin karena kamunya udah gak perjaka kali…”

“Gak aku benar-benar gak masalah dengan masa lalu orang lain, mau dia pelacur, playgirl, atau apapun itu, yang penting sekarang dia bersamaku”. Jawabnya dengan nada yang serius.

Dia berbeda sekali dengan mantanku Ryan yang memutuskanku karena dia merasa masih perjaka, dia berpikir seseorang yang perjaka harus bertemu dengan wanita yang perawan juga. Nama Citra Intan sudah memudar, mahkotaku sudah direnggut ketika aku masih Kuliah, sekarang disisiku ada seorang lelaki bernama Verdhi, yang jelas-jelas akan memaklumi masa laluku.

aku melirik kearahnya dan bertanya “ver masih ingat ketika itu ujan, aku menuju angkot depan melewati lapangan parkir dengan payung, lalu kamu berlari kearahku”

“lalu aku bilang aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku?, tapi kamu menolaknya” Jawab Verdhi dengan senyum kecil.

Aku melihat kearahnya dan bertanya “bagaimana perasaanmu padaku sekarang?”

“semenjak 5 tahun yang lalu tidak pernah hilang, tapi hanya mengecil, aku tidak perduli dengan masa lalumu dengan Vino, sedikitpun aku tidak perduli cit!” jawabnya sambil melihat kearahku dan menggenggam jemariku.

Sudah 3 hari berturut-turut aku selalu bermimpi hal yang sama ketika tidur, bayang-bayang Vino yang sudah merenggut keperawananku terus menghantui mimpiku, sudah berapa kali ayahku menggagalkan misi bunuh diriku, nampaknya tuhan masih ingin aku hidup. Berkali-kali Verdhi meyakinkanku jika aku masih punya alasan untuk hidup. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, suatu kebiasaan yang mulai aku lakukan ketika verdhi selalu mengingatkanku untuk tidur tidak terlalu malam. kutarik selimut dan kupejamkan mataku.

Aku berada di sebuah tempat makan bernama  T-White Café, aku duduk di sebuah sofa, didampingi meja dengan tersimpan sepercik lilin, lalu dihadapanku seorang lelaki berkulit putih dengan kumis dan janggo tipis, sangat maskulin, seketika dia menyodorkanku mawar merah ditemani senyuman manisnya.

“aku sudah lama mengenalmu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari diriku padamu. Sesuatu yang sulit aku deskripsikan namun mudah aku rasakan. Citra Intan, aku sangat mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku?” Tanyanya.

Mendadak jantungku berdebar kencang, sudah lama aku sangat menyukainya, namun aku harus menjawab pertanyaannya “hmm.. iya, Vino  aku juga mencintaimu dan aku mau menjadi pacarmu” Jawabku.

Aku berada suatu ruangan yang tidak begitu besar, tepatnya sebuah kasur busa yang sedang aku duduki, dihadapanku terdapat layar monitor dan jemariku mengayun menekan tombol demi tombol keyboard untuk menyelesaikan laporan tugas kuliah. Keadaan sedang hujan, petir menyambar begitu berisik ditelingaku. Terdengar suara ketukan  di pintu yang jaraknya tidak begitu jauh di sebelah kiriku. Aku bukakan, seorang lelaki yang sekarang menjadi pacarku dengan basah kuyup berjaket abu.

“hey sayang, apa yang baru saja kamu lakukan? Sini masuk, keringkan rambutmu” ajakku sambil kuambilkan handuk.

“terimakasih ya, aku sedang diperjalanan ke rumah teman untuk mengerjakan tugas, tapi hujan sangat deras diperjalanan, jadi aku mampir kesini” jawabnya. Dia bermalam di kostanku, ketika itula semua terjadi dengan cepat.

Aku berada di suatu taman, permukaan tanah yang hijau terisi dengan rerumputan yang tidak begitu lebat, ini halaman belakang kampusku. Sementara dihadapanku Vino  sedang menatap dalam mataku.

“Citra maaf aku tidak bisa lanjut denganmu.” Dia berkata dengan halus dan begitu lambat.

“apa? Apa yang sedang kamu bicarakan?” Tanyaku dengan tegas.

“aku tidak bisa lagi lanjut denganmu karena ada wanita lain di hatiku” Jawabnya.

“kau mempermainkanku? Setelah apa yang kita berdua perbuat di tempatku minggu lalu?” Tanyaku dengan marah lalu aku menamparnya dengan keras.

“maaf Citra aku sudah mencintai wanita lain” Jawabnya sambil memalingkan badannya dan berjalan meninggalkanku.

Aku menangis dengan sangat kencang dan.. Aku terbangun. Aku sangat berkeringat, mengapa aku selalu memimpikan hal ini. Aku berusaha melupakan dia namun apa yang terjadi dengan pikiranku. Aku pikir aku sudah menjadi lebih baik dengan mulai melakukan solat 5 waktu, membaca Al-Qur’an setiap pagi meskipun aku belum menggunakan kerudung.

Keesokan harinya aku kembali menjalani hariku dengan bekerja sebagai sekertaris. Disela-sela kekosongan aku selalu memikirkan mimpi semalam, sudah 4 hari berturut-turut, malam ini aku tidak mau tidur. Sore hari sudah berlalu waktunya aku pulang, aku berusaha menyibukkan diri, namu malam malah semakin cepat menghampiri. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, aku tidak mau tidur malam ini. Aku menonton TV, namun tidak ada film yang menarik, semakin lama pandanganku semakin mengecil.

Aku berada di suatu jalan, aku menoleh ke arah kananku terdapat tulisan T-White Café . keadaan sedang hujan aku berencana untuk masuk, namun ketika aku hendak masuk, terlihat melalui kaca yang tembus pandang kearah suasana di dalam café ada seseorang yang sepertinya kukenal. Aku.. aku melihat diriku, aku melihat Vino sedang memberi bunga mawar berwarna merah. Sejenak tidak terasa air mata menetes dari pipiku, hati ini terasa sakit, sesak, kepala ini terasa berat. Semakin lama air mataku semakin deras, aku lanjut melangkahkan kakiku menjauhi café tersebut, namun itu malah membuat air mataku semakin deras dan semakin sesak. Kuusap airmataku dengan jaketku, namun rasa sesak dan tetesan air mataku ini tidak bisa berhenti. Apa yang terjadi padaku?

Aku berada di suatu teras berwarna putih, kumpulan kramik kotak berwarna putih menjadi tumpuan langkahku mengarah ke halaman belakang kampus. Sejenak aku terdiam dan terkejut. Aku melihat diriku lagi, lalu aku menyembunyikan badanku di belakang tembok. Aku melihat Vino mengatakan sesuiatu padaku, aku melihat aku sangat marah, tidak lama kemudian aku menamparnya, Lalu aku melihat diriku menangis dengan sangat keras. Ingin sekali aku memeluknya namun badanku bergerak mengarah ke toilet. Leherku terasa sesak, air mata mulai membanjiri pandanganku, aku mendekati wastafel dan aku bercermin. Apa? Aku tidak melihat diriku di cermin, namun aku melihat Verdhi. Aku melihat tangan kiriki yang menggunakan arloji berwarna hitam yang merupakan arloji kesayangannya, kemeja berwarna ungu bermotif kotak-kotak dengan bagian lengan yang terlipat membalut badanku. Aku ini Verdhi?

Aku berada di suatu alam yang sangat sejuk, angin kencang menerpa kulitku dan jalan terlihat bergerak, aku sedang mengendarai sebuah motor meskipun aku tidak bisa mengendarai motor. Sementara dibelakangku terdengar suara seorang wanita.

“kita mau kemana sih?” tanyanya.

“kita akan ke suatu tempat dimana kamu akan melihat keindahan kota bandung, kamu pasti suka” Jawabku.

Aku mendengar sesuatu, seolah-olah ada yang sedang berdialog di hatiku.

Citra aku sangat mencintaimu, ini adalah tempat yang akan sangat aku ingat karena ini adalah terakhirnkalinya aku bertemu denganmu, esok aku akan menyatakan perasaanku pada Virni, sepertinya dia akan menerimaku, apapun yang terjadi, aku harus bisa merelakanmu.

Aku masih memerankan Verdhi?

Aku Terbangun dengan jantung yang berdebar sangat kencang, seketika pikiranku langsung mengarah ke Verdhi. Oh Tuhan, aku sangat merindukannya, tidak lama handphone-ku berbunyi, SMS dari Verdhi.

“hey gadis cantik, maaf telat mengucapkan. Selamat ulang tahun ya, meskipun itu sudah 3 hari yang lalu. Hari ini jika kamu tidak ada acara, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, maukah kamu?”

Aku balas “baiklah jemput aku ya.”

“ok aku jemput kamu jam 4 sore.” Balasnya.

 

Dari sini kota bandung terlihat indah, lampu-lampu rumah berderet menyala seperti bintang yang bersinar di daratan, sungguh pemandangan yang sangat mahal, aku sangat berterimakasih pada sahabatku Verdhi.

“Ver kamu sekarang lagi dekat dengan siapa? Setelah kamu gagal PDKT sam Rara?” tanyaku sambil melihat pemandangan bandung.

“sekarang aku sedang dekat dengan Virni, tapi…..” Jawab Verdhi sambil melihat pemandangan bandung dengan kata-kata yang ragu.

“tapi apa?” Selahku.

“banyak orang bilang dia Bitch, aku sangat kesal denga pernyataan itu. Karena aku tidak peduli dengan masa lalunya” Jawab Verdhi dengan nada yang dalam.

Aku sedikit tersenyum “Mungkin karena kamunya udah gak perjaka kali…”

“Gak aku benar-benar gak masalah dengan masa lalu orang lain, mau dia pelacur, playgirl, atau apapun itu, yang penting sekarang dia bersamaku”. Jawabnya dengan nada yang serius.

aku melirik kearahnya dan bertanya “ver masih ingat ketika itu ujan, aku menuju angkot depan melewati lapangan parkir dengan payung, lalu kamu berlari kearahku”

“lalu aku bilang aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku?, tapi kamu menolaknya” Jawab Verdhi dengan senyum kecil.

Aku melihat kearahnya dan bertanya “bagaimana perasaanmu padaku sekarang?”

“semenjak 3 tahun yang lalu tidak pernah hilang, tapi hanya mengecil, aku tidak perduli dengan masa lalumu dengan Vino, sedikitpun aku tidak perduli cit!” jawabnya sambil melihat kearahku dan menggenggam jemariku.

Aku terharu mendengarnya, tidak ada lelaki setulus dia seumur hidupku. Selama ini aku selalu menyakiti dia dengan mengaggapnya sahabat, meskipun aku tau perasaannya padaku seperti apa. Namun macam apa aku yang mau mengisi hari dan menjadi pendamping lelaki sebaik dan sesuci itu, dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Namun entah kenapa jantung ini terasa sangat kencang, seolah-olah aku bersemangat mendengarkan pernyataannya, aku tidak mau lagi menyianyiakan kesempatan yang tuhan berikan padaku.

“Benarkah kau masih mencintaiku?” tanyaku.

“iya Cit, entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk menghilangkan perasaanku padamu, ingin sekali aku merelakanmu, sudah berbagai cara aku lakukan, namun sulit sekali menghilangkan cintaku padamu, hanya mengecil” Jawabnya.

Pandanganku terasa buram, permukaan penglihatanku terlihat menggenang air mata yang siap tumpah.

Aku melihat kearahnya “aku juga mencintaimu Ver, sangat mencintaimu, namun kamu terlalu baik, wanita macam apa aku yang membiarkan lelaki sesuci kamu hidup dengan wanita kotor sepertiku.”

Verdhi menggenggam tanganku “tidak ada manusia yang suci Cit, aku tidak perduli dengan masa lalumu, aku tidak peduli sekotor apa dirimu, karena denganku kamu akan menjadi dirimu yang baru. Jadilah kekasihku Cit.”

Air mataku tumpah, tak sanggup lagi aku menyangkali kata-katanya. Aku menggenggam erat tangannya. “tolong jauhi Virni ver, aku mau menjadi kekasihmu, aku mau mendampingi hidupmu, aku mau menjadi diriku yang baru bersamamu”

Verdhi memandangku dalam, tak lama matanya berkaca-kaca lalu tersenyum.