ekarang aku dihadapanmu, sekarang aku melihatmu, aku melihat dia di matamu

Roni seorang pemuda berusia 25 tahun, tinggi namun agak kurus, bekerja bersama ayahnya. Roni sangat menyayangi ayahnya karena hanya ayahnyalah yang ia miliki saat ini, Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Selama ini Roni mengenal ibunya hanya deri sederet cerita sendu yang diceritakan oleh ayahnya. Sementara ayah Roni pak Raffi yang sudah berumur 63 tahun memiliki bengkel di sebrang rumahnya.

Selain membantu ayahnya di bengkel, kebiasaan Roni berdiam di kamarnya lalu menyalakan PC kesayangannya, memutar lagu-lagu balad, lalu berbaring di kasur empuk dan lembut yang masih berantakan. Tidak lama kemudian handphone android Roni berbunyi “tingtong”, Roni bergegas mebuka handphone-nya terlihat icon line di bagian notifikasi handphone-nya, “hey ron” itu pesan dari Gita. Gita seorang wanita yang disukai Roni ketika masih kuliah. Dulu ketika kuliah Roni pernah menyatakan perasaannya pekada Gita, namun Gita menolaknya dengan alasan Gita ingin menikah di tahun berikutnya, sementara Roni dulu masih berstatus mahasiswa yang tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada Gita. Mereka baru saja kembali menyambung komunikasinya setelah Gita putus dengan calon suaminya yang sudah tunangan, Roni sempat menyampaikan isi hatinya untuk menjadikan Gita sebagai pendamping hidupnya, dia sudah merasa mapan untuk seorang wanita yang bekerja sebagai customer service di bank yang terkenal di indonesia itu, namun Gita masih terperangkap di masalalunya dengan mantan tunangannya.

“ya ada apa Git?” tanya Roni

“aku kecelakaan, muka aku bengep-bengep nih, aku gak bisa jalan.” Jawab Gita.

“hah? Kecelakaan? Serius kapan dan dimana” dengan panik Roni membalas pesan dari Gita.

“3 hari yang lalu di depan Mesjid Agung, aku langsung di bawa ke apotik terdekat dengan keadaan bercucuran darah, Alhamdulillah sekarang udah baikan” balas Gita.

“Innalillahi, ya udah besok aku ke rumah kamu ya, mau dibawain apa?” Balas Roni dengan panik.

“aku gak bisa makan nasi nih, jadi aku makannya bubur, tapi aku bosen makan bubur, aku lagi pengen bubur sumsum nih, kalo ada bawain ya J” balas Gita.

“oh oke aku usahain kalo ada ya” balas Roni.

“eh tapi kalo gak ada gak usah juga gak apa-apa kok”. Tolak Gita, namun Roni tahu benar apa yang diisyaratkan oleh Gita.

Perasaan Roni kepada Gita tidak begitu besar, namun entah kenapa ia merasa harus mendapatkan bubur sumusum. Memang Gita menyarankan Roni untuk tidak perlu memaksakan jika memang tidak ada, namun Roni merasa jika ia berhasil mendapatkan bubur sumsum itu, Gita akan merasa sangat senang.

Tak lama kemudian ayah Roni membuka sedikit pintu kamar Roni yang tidak terkunci. “hey Ron” Sapa Ayahnya.

Roni yang sedang berbaring “ya pak” jawab Roni dengan kaget.

Ayah Roni memasuki kamar, lalu duduk di kasur. “Ron kamu ini kan sudah berumur 25 tahun, kamu tidak berpikir untuk menikah?” Tanya ayahnya.

Roni langsung melihat kearah ayahnya dengan pandangan yang agak aneh “iya Roni sedang memikirkan kearah situ pak, tapi calonnya belum ada.”

“gini Ron bapak punya teman, putrinya sangat cantik, dia dekat dengan bapak. Ayahnya tidak begitu memperhatikan dia, kalo bapak liat kamu, bapak sempet berpikir, dia ngebutuhin banget sosok laki-laki seperti kamu.” Ayah Roni menjelaskan.

Sekitar 20 detik Roni terdiam “hmmm… tapi Roni tidak suka dijodohkan pak”.

“bapak tidak menjodohkan, namun bapak merekomendasikan, namanya Lili, nih kalo kamu tertarik untuk kenalan, bapak punya facebook-nya”. Jawab ayahnya sambil mengetik username Lili di PC Roni yang kebetulan sedang menyala dan sudah login facebook secara otomatis.

Melihat foto Lili di facebook, ada sedikit rasa tertarik pada hati Roni, ia merasa wajah Lili sangat familiar, seakan ia sudah pernah mengenalnya. “oh oke pak, nanti Roni coba sama Lili”.

“Ron bapak seneng banget ngeliat dia senyum, kalo bapak liat-liat nih ya, dia mewarisi senyuman ibu kamu, percaya deh.” Jelas ayahnya

“yang bener pak? Okedeh ntar saya ajak ketmu” terlihat Roni sangat bersemangat.

Ayah Roni tersenyum, Senyuman ayahnya berbeda dari biasanya, senyum yang ia lihat ketika itu seakan menekankan keyakinan akan semua yang dikatakan oleh ayahnya, seolah-olah memang wanita seperti Lili yang sedang ia cari.

Akhirnya ia mendapatkan bubur sumsum yang diidamkan oleh Gita. Sudah dua kali Roni membatalkan niatnya untuk menengok keadaan Gita karena merasa tidak enak jika ia menengok dengan tangan hampa. Sepulang kerja setelah Roni mendapatkan bubur sumsum berdasarkan informasi yang ia dapatkan satu hari sebelumnya ketika Roni mengajak bertemu dengan Lili, meskipun Lili orang yang kaku, namun ia memiliki perbendaharaan tempat makan yang sangat membantu. Roni langsung bergegas ke rumah Gita, karena jika tidak bubur sumsum yang ia beli tidak terasa hangat lagi.

Sesampainya di rumah Gita, pintu dibukakan oleh adiknya Gita, “Gita-nya ada?” tanya Roni

“oh ada, silahkan masuk, anggap rumah sendiri”. Jawab adik Gita dengan ramah sambil pergi ke kamar memanggilkan Gita.

“hey…” Gita menyapa Roni sambil berjalan dari kamarnya dengan langkah kaki yang sangat lambat.

Roni kemudian beranjak dari tempat duduknya menggandeng lengan Gita kearah tempat duduk ruang tamu. Roni sangat iba melihat wajah gita yang memar-memar berwarna kebiruan di bagian kelopak mata, sambil mengobrol Roni memberikan bubur sumsum yang dipesan oleh gita. Gita sangat senang, tak lama setelah menerima bubur sumsum tersebut ia beranjak mengambil mangkok dan sendok lalu memakannya

“enak banget, kamu beli dimana?” tanya Gita.

“ada deeeh..” jawab Roni sambil bercanda.

Roni tidak berharap apa-apa dari perjuangannya mencari bubur sumsum tersebut, ia tulus melakukan ini meski sebenarnya ia tidak bisa membohongi perasaannya kepada Gita. Roni membatasi waktu sampai jam 7 malam, karena ia akan bertemu dengan Lili di tempat makan yang sudah mereka tentukan kemarin yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Gita. Roni pun pamit lalu pergi untuk bertemu dengan Lili.

Sampailah Roni di tempat makan tempat ia janjian dengan Lili, waktu sudah menunjukan pukul 08.30, kemacetan menjadi penghambatnya untuk datang tepat waktu.

“hay, sorry ya telat, soryy banget… tadi macetnya parah” Jelas Roni.

“iya ya udah gak apa-apa” jawab Lili dengan ekspresi yang agak lesu.

Roni mengerti dibalik kata “gak apa-apa” wanita tersimpat arti bahwa wanita tersebut sedang marah. Hanya anggukan dan senyum kecil yang Lili perlihatkan, Sampai saat Roni menceritakan kekonyolan-kekonyolan masa kecilnya yang akhirnya berhasil membuat Lili tertawa terbahak-bahak. Semenjak itu situasi mencair dan obrolan mereka semakin menarik. Entah kenapa Roni sangat senang melihat Lili tertawa, ia menilai ekspresi itu sangat jarang ia lihat, sehingga itu menjadi pemandangan yang sangat membuatnya ingin lagi dan lagi ia lihat.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.17, Roni mengantarkan Lili pulang, lalu mengarah ke rumanya sendiri. Sesampainya di rumah, terlihat banyak orang yang mengerumbuni rumah Roni, ia bergegas membuka pintu dan bertanya kepada orang-orang di dalam.

“ada apa ini”, tanya Roni

Salah satu tetangga Roni menjelaskan. “ini pak Raffi tiba-tiba pingsan ketika sedang solat isya di mesjid sebelah sampai sekarang belum sadar”.

Dengan segera Roni menyalakan mobil Honda Jazz nya lalu warga menggotong ayah roni ke tempat duduk belakang mobil, Roni dengan segera membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di Rumah sakit setelah Roni mengurus administrasi pembayaran biaya rumah sakit, ayahnya langsung dilarikan ke ruang ICCU, kata dokter ayahnya terkena serangan jantung. Roni tersentak, hanya ayahnyalah yang ia punya.

Roni menelpon saudara-saudara dan teman-teman ayahnya, memberitahukan bahwa keadaan ayahnya sedang kritis. Roni menginap di rumah sakit untuk menunggu kabar baik dari dokter, ia sedikitpun tidak bisa menenangkan hatinya untuk tidur, upaya terbaik yang ia lakukan adalah hanya memejamkan mata. satu persatu saudara dan teman-teman ayahnya berdatangan memberikan doa dan menenangkan Roni yang terlihat sangat sedih dan pucat.

Tak terasa dengan duduk tegak roni tertidur, sampai ada seseorang yang menyentuh pundaknya “Roni, Ron…”

Roni terbangun dengan kaget, “eh.. Lili” lalu Roni bergeser memberika sisa tempat duduk.

“iya..” Lili menjawab sambil beranjak duduk di sebelah Roni.

“Oh iya ini aku bawakan makanan buat kamu, kamu keliatan pucat” Jawab Lili dengan tersenyum

“oh makasih” lalu Roni membuka misting pemberian Lili, lalu memakannya dengan lahap, sayur asem yang sebenarnya tidak disukai Roni terasa sangat nikmat di lidah seakan tidak ada makanan yang lebih lezat dari ini.

Setelah Roni menghabiskan sayur asem buatan Lili, kemudian mereka bedua beranjak melihat keadaan ayah Roni, terlihat ayahnya sudah mulai bisa membuka matanya, ia terlihat sangat senang melihat kehadiran Lili.

“pak tenang pak, bapak pasti sembuh, kan biasanya juga kita suka ketawa-ketawa bareng mamah kalo bapak lagi main ke rumah” Lili menyemangati. Terlihat senyum tipis dari wajah ayahnya.

Sudah 4 hari semenjak ayah Roni di ruang ICCU, Lili melakukan hal yang sama, memberi bekal makan kepada Roni, lalu pulang jam 9 malam. di malam hari setelah Lili pulang, ketika Roni hendak pergi ke kantin membeli sesuatu, ia bertemu dengan Gita, sejenak Roni teringat Gita memang sudah memberi tahu bahwa ia akan datang menengok ayahnya jam 9, meskipun jam besuk sudah lewat.

“Gita…”Sapa Roni.

“hey kamu mau kemana?” tanya Gita.

“aku mau ke kantin beli cemilan” Jawab Roni.

“udah gak usah ini aku bawain pizza buat kamu” sambil memberika keresek berwarna hitam yang berisi kotak pizza

“asik..” Roni langsung membuka kotak tersebut lalu memakannya, mereka makan berdua, bercanda tertawa, sesekali mereka bersuap-suapan.

“maaf ya, aku baru bisa nengok” selah Gita.

“iya gak apa-apa aku juga ngasih tau kamunya telat.” Jawab Roni sambil mengunyah pizzanya.

“aku tahu keadaanmu sedang sulit, namun selama ini aku banyak memikirkanmu, aku sempat tidak menyangka kau bisa mendapatkan bubur sumsum yang aku inginkan ketika aku kecelakaan dulu, padahal aku sudah tau bubur sumsum itu sangat jarang di daerah sini.” Jelas gita sambil memandang dalam mata Roni.

Roni hanya terdiam dan berkata “aku,,”.

“Ron!! Semakin lama kau memberi perhatian padaku aku semakin bertengkar dengan hatiku, mengapa aku sebodoh itu membiarkan mantan tunanganku memenuhi isi otakku, padahal ada orang yang sudah jelas-jelas di depan mata yang memberiku perhatian dengan tulus.” Lalu Gita menggenggam tangan Roni “aku mau menjadi kekasihmu”

Roni tersedak, lalu tediam selama beberapa menit, isi otak Roni sedang dipenuhi oleh kesedihan akan keadaan ayahnya, berat sekali menjawab pertanyaan Gita. “gini Git, aku sedang tidak bisa berpikir sekarang, aku sangat senang kau mulai melihatku, namun biarkan aku sendiri sekarang aku pasti akan kembali padamu.” Perasaan senang namun bingung, itu yang sedang Roni rasakan. Keadaan mulai canggung, Gita beranjak pulang karena malam semakin larut. Seperti biasa Roni tidur dengan duduk tegak di ruang tunggu.

Roni membuka mata, tidak sadar dia sudah dalam keadaan tertidur di kursi tunggu dengan tertutup selimut, lalu ia melihat jam tanganya waktu sudah menunjukan pukul 09.00, ia beranjak ke ruang ICCU melihat keadaan ayahnya karena jam besuk akan ditutup. Sesampainya di dalam ruangan, ia melihat Lili sedang duduk tersenyum menghibur ayahnya, “Lili..”, Roni tercengang tak percaya melihat keindahan kasih sayang seorang Lili yang hanya putri dari teman ibunya.

“hey” sapa Lili tersenyum sambil melihat kearah mata Roni.

Roni balas tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu.

Waktu beranjak sangat cepat, sudah 2 minggu berlalu dan sudah 2 hari Roni ditinggalkan oleh ayahnya, kini ia hidup sendiri, kini ia menjadi seorang yatim piyatu. Tidak ada orang lain yang merasa sangat sedih seperti dia, namun dia harus kuat karena ia sekarang hidup sendiri. Roni mulai bisa berpikir jernih 2 hari kemudian, ia terngat janinya kepada Gita untuk kembali kepadanya, ia menyadari bahwa sekarang ia membutuhkan sosok wanita yang bisa ia jadikan sebagai partner hidupnya, ia menyalakan mobilnya lalu pergi kearah rumah Gita.

“Roni, gimana keadaan kamu?” Gita kaget setelah membuka pintunya ada sosok Roni yang ia ketahui sedang bersedih atas kepergian ayahnya.

“iya ini aku” jawab Roni.

Mereka berbicara panjang lebar membicarakan hal yang menyenangkan sampai Roni mengatakan sesuatu yang penting kepada Gita. “Git mengingat yang kau katakan ketika di Rumah Sakit, aku sangat senang mendengar kau ingin menjadi kekasihku, itu impianku semenjak smester 1. Aku masih ingat ketika aku pertama kali melihat keindahan wajahmu di tempat fotocopy sebrang kampus dulu. Namun maaf sepertinya aku tidak bisa menjadi kekasihmu”

“kenapa?” tanya Gita dengan mata sayu.

“semakin lama perasaanku semakin hilang padamu, kau terlalu lama menunda jawabanmu, sekarang hatiku sudah beranjak darimu” jelas Roni.

Gita menangis, namun tetap berusaha tegar, mendengar alasan Roni yang menunggu terlalu lama untuk mendengar jawabannya. Roni pamit pergi, untuk terakhir kalinya Gita memeluk Roni dengan erat, lalu mengantarnya keluar rumah.

Roni menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi ke rumah Lili. Sesampainya di rumah Lili tok..tok..tok… Roni mengetuk pintu. Lili membukakan pintu dengan keadaan rambut yang belum rapih, tanpa makeup, lalu melihat kearah Roni.

“Roni…” sapa Lili dengan kaget namun sedikit tersenyum.

Roni melihat matanya lalu berkata dalam hati

memang benar yang dikatakan ayah, tidak ada yang lebih indah dari senyummu, dia bilang kau mewarisi senyum ibuku, dia bilang kau adalah wanita yang aku butuhkan, dia bilang dia sangat menyayangimu seperti dia menyayangiku, sekarang aku dihadapanmu, sekarang aku melihatmu, aku melihat dia di matamu.