photo gaa067000093_zps2ea73726.jpg

Aku baru saja menyia-nyiakan ketulusan cintanya

Waktunya untuk berangkat, barang bawaan sudah disapkan sejak semalam, ini akan jadi liburan yang menyenangkan, meskipun pagi yang dingin ini terus menggoda agar kembali berbaring di tempat tidur.

“Lisa, tolong bawakan koper mamah ya, mamah berangkat duluan” teriak mamah.

Jarak dari pemberhentian bus tidak begitu jauh dari rumahku, mamahku harus berangkat lebih dulu karena dia termasuk dalam panitia acara liburan ke pulau tidung ini. Koper mamah lumayan berat, ditambah lagi dengan perawakanku yang agak berisi, mereka biasa menyebutku “si chubby”, mamahku seorang guru, dai mengajar di sekolah yang berada di seblah rumahku. Kali ini aku mengenakan kerudung berwarna orange, kaos lengan panjang berwarna merah tua dan celana jeans berwarna biru tua, kata teman-teman kampusku kombinasi pakaian ini cocok dengan kulitku yang kuning langsat. Ini acara yang sangat langka, karena diusiaku yang beranjak 21 tahun dan akan menginjak smester 4 keperawatan, sulit sekali untuk mendapatkan waktu yang tepat untuk berlibur dan menyegarkan otak. Hari-hariku dipenuhi oleh belajar, mengerjakan tugas dan bimbingan, teman-temanku menyarankanku untuk cepat-cepat memiliki pasangan, agar ada yang dapat menghiburku dikala otak penat oleh tugas.

“Lisa kamu duduk disini sama Mira ya” mamahku mengarahkanku untuk duduk di tempat duduk paling depan sejajar denga supir.

“iya mah siap…” jawabku.

Karena aku yang naik lebih dulu, aku memilih duduk di tempat duduk favoritku, yaitu dekat jendela, sementara Mira adikku duduk di sebelahku.

“ini dia yang ditunggu-tunggu, guru teladan dari bandung, gak sama istri pak Firman?” Sapa mamahku kepada pak Firman. Mamahku dan pak Firman adalah sahabat karib di sekolah tempat kerja mereka, akupun sudah lumayan mengenal beliau.

“enggak ini sama anak aja. Ayok sini Adam, kenalin ini bu Rahma” Jawab pak Firman, sambil menaiki tangga.

Aku melihat mimik wajahnya lurus, dia memperlihatkan senyuman manisnya ketika sedikit berbasa-basi dengan mamahku, dia tidak begitu tampan, tapi perawakannya yang tinggi dan warna kulitnya yang berwarna coklat cerah cukup menyita perhatianku. Dia beranjak duduk dibelakang berjarak tiga baris kursi dibelakangku, dia duduk searah denganku didekat jendela. Aku menoleh kearahnya, sejenak setelah dia duduk, dia berhenti tersenyum lalu menatap keluar melalui kaca jendela bus dengan mata yang sayu.

“Pulau Tidung here we comes!!!”, akhirnya setelah perjalanan selama 6 jam rombongan sampai juga ke tempat yang indah ini. Kami langsung diarahkan ke penginapan yang cukup besar oleh tour guide. Sesampainya di kamar, tanpa berpikir panjang aku menjatuhkan diri ke kasur busa yang lembut, sementara adikku Mira dia sibuk memotret keadaan luar penginapan.

Malam harinya, setelah kami melaksanakan makan-makan, pak Firman mengajak mamahku jalan-jalan mengitari pulau ini, tentunya aku dan adikku ikut dengan mereka. Setelah kami selesai berdandan dan siap untuk berangkat, mamahku dan pak Firman masih mengobrol di pinggir teras penginapan, sementara itu aku melihat seseorang berpakaian abu sedang duduk di teras depan.

“udah siap? yuk” ajak pak Firman.

Orang itu menoleh kearahku, ternyata dia adam, lalu dia berdiri dan mulai berjalan menyamai irama langkah kami sambil memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana pendek selututnya.

“adam masih kuliah?” tanya mamahku.

“enggak bu udah kerja” jawab Adam.

“oh kerja dimana?” tanya mamahku.

“kerja di perusahaan desain interior bu” Adam menjawab.

“adam emang gitu orangnya, pendiem” selah pak Firman.

Tak terasa kita berjalan menyebrang dari pulau tidung besar ke tidung kecil melalu jembatan, mereka menyebutnya jembatan cinta. Kita berjalan dan bersenda gurau seperti satu keluarga, tawa yang kamu pancarkan dengan tulus membuat kebersamaan kami semakin hangat. Namun kulihat, Adam masih tetap terdiam sambil menundukan kepala dan memasukkan lengannya ke saku celana pendek selututnya, sesekali dia tersenyum mendengar gurauan kami.

Keesokan harinya banyak hal yang sudah kami siapkan, rumbongan kami benar-benar memanfaatkan momen liburan ini kami, dari mulai berjalan menyusuri pasir putih sampai snorkling bersama, tarmasuk mamahku dan pak Firman juga adikku, aku dan Adam.

“dam ikutan banana boot yuk” ajak Pak Firman kepada Adam.

“Boleh” jawab adam sambil tersenyum.

Kebetulan mamahku jg mengajakku naik banana boot. Banana boot sudah siap untuk kami naiki, Adam duduk di belakangku, perahu didepan siap menarik dengan kecepatan tinggi, kami pun berteriak, ingin sekali aku menoleh kebelakang, melihatnya tertawa dan berteriak namun aku tidak berani. Kami kehilangan keseimbangan dan Banan boot pun terguling, kami semua terlempar, kepalaku terbentur sesuatu sehingga membuatku pusing, aku hanya terambang di dasar laut, aku merasa ada yang menarik tanganku dan mengusap-usap kepalaku.

“kamu gak apa-apa?” suara terdengar di telinga kiriku.

Tersadar, ternyata Adam sedang mengusap-usap kepalaku.

“sorry tadi kamu kesikut” lanjut Adam.

“iya gapapa” jawabku.

“oke sorry ya” tambahnya, sambil berenang menuju banana boot.

Kami melanjutkan rekreasi ini, namun kami harus cepat-cepat ke penginapan karena sore ini kami akan segera pulang ke bandung.

 

Sudah 1 bulan semenjak liburanku ke pulau tidung, akhirnya aku harus kembali beraktifitas sebagai mahasiswi keperawatan. Kembali harus mengerjakan perintah dosen untuk memenuhi kebutuhan nilai sebagai persyaratan kelulusan nanti, kembali harus berteman dengan laptop dan laporan yang terus menerus mengejarku tidak ada habisnya. Sejenak aku membuka facebook disela-sela kesibukanku, aku melihat ada tanda notifikasi di icon friend request, Adam Krisnahendra.

“ini Adam putranya pak firman?” tanya hatiku, aku melihat mutual friend-nya, iya benar, tanpa berpikir panjang aku confirm, tidak lama dia menyapaku melalui message.

“haloo” tanya Adam.

“haloo apa kabar?” jawabku.

kami berlanjut chating sampai larut malam, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.30 sementara tugasku terbengkalai, namun perbincanganku dengan adam melalu facebook tidak begitu membosankan meskipun sering kali aku bertanya, sementara dia menjawab dengan singkat dan sesekali bertanya balik.

Kami bertukar pin bb, kami berkomunikasi lebih intens, sampai suatu saat dia mengajakku untuk bertemu makan malam. Pada awalnya kami kaku, melihat mimik wajah dia yang cuek, aku merasa segan untuk bergurau, namun dia mematahkan ekspektasiku, kali ini dia banyak bicara, sering kali dia membuatku tertawa terbahak-bahak meskipun pembicaraan kami ini tidak begitu penting, namun itu yang aku sukai, dia sangat menyenangkan. Sambil berjalan mengitari mall kami membicarakan hal sekitar yang sebenarnya biasa saja, tapi dia membuatnya begitu lucu, kami tau kami sudah harus beranjak pulang, namun kamipun tau jika malam ini terlalu berharga untuk cepat dilalui.

“eh daripada jalan-jalan gak jelas gini gimana kalo kita foto box dulu” ajakku.

“yah aku gak begitu jago berpose” Tolak Adam.

“ayolaah foto box sekali gak akan bikin kamu dipecat dari tempat kerjakan” bujukk sambil menarik-narik tangannya.

“yaudah deh” Jawabnya.

Kamipun berpose sebanyak 5 kali dengan gaya yang berbeda, macam-macam gaya kami pragakan, aku tidak menyangka, wajahnya sangat menggelitikku ketika berpose di depan kamera, kami mengambil hasilnya dan menyimpannya masing-masing.

Semenjak pertemuan itu kami semakin intens berkomunikasi, tidak jarang kami bertemu hanya untuk sekedar makan siang bersama, nonton bersama, bahkan hanya nongkrong di kantin kampusku. Aku memperkenalkan dia kepada teman-temanku, mereka merasa senang dengan kepribadian Adam, kata temanku aku beruntung bisa mengenalnya, jarang sekali lelaki seperti itu, meskipun aku tau dia hanya sebatas kenalanku, tidak lebih.

Adam mengajakku dinner di restoran favorit kita. Entah kenapa tiba-tiba dia mengajakku dinner secara langsung, tidak seperti biasanya dengan basa-basi konyolnya. Di restoran itu kami duduk berhadapan, kali ini dia membicarakan hal yang agak privacy, dia membicarakan bagaimana kehidupannya ketika SMP, bagaiman sikap ayahnya kepadanya, akupun banyak menceritakan kehidupanku, sampai satu titik dimana kami terdiam kehabisan topik.

“Lisa kamu mau gak temenin aku ke acara nikahan temanku hari sabtu minggu depan?” tanyanya.

“boleh aku pake baju apa ya?” tidak berpikir panjang aku menjawabnya dengan cepat.

“gak perlu pikirin baju yang bagus-bagus amat, yang penting nyaman dipake, ini nih surat undangannya, kamu aja yang pegang ya” jawabnya.

“loh kenapa harus aku yang pegang” tanyaku.

“aku suka lupa bawa klo disimpen terus.” Jawabnya.

Setelah pembicaraan kami selesai, kami beranjak pulang, sperti biasa sesampaiku di rumah aku menanyakan kepdanya apakah dia sudah sampai di rumah atau belum.

3 hari berlalu tidak ada kabar sedikitpun darinya, sampai dimalam hari handphoneku berbunyi, akhirnya dia menyapaku melalui bbm

“Lisa maaf ya sepertinya aku gak jadi keacara nikahan temanku bareng kamu, aku sama temen-temen mau lanjut reunian takutnya pulangnya kemaleman” jelasnya.

Halisku terangkat, aku merasa sedikit kecewa dengan keputusannya, meskipun niatnya baik tidak ingin mengajakku keluar rumah sampai larut malam.

“oke dam gak apa-apa kok santay aja” Jawabku.

Semenjak dia membatalkan pergi denganku tidak ada kabar lagi darinya, aku menunggu message darinya namun tidak kunjung datang, biasanya 3 hari kemudian dia mengabariku namun tidak ada tanda-tanda kabar darinya, aku tunggu 1 minggu tetap sama, aku tunggu 1 bulan pun tetap sama. Dia benar-benar menghilang, aku bertanya dalam hati apa yang dia pikirkan? Apa yang dia rencanakan? Tiba-tiba muncul di kehidupanku lalu tiba-tiba menghilang tanpa permisi, apa yang telah kuperbuat? Apakah aku mengecewakannya? Aku berkonsultasi dengan mamahku, sejujurnya aku menangis ketika bercerita kepadanya, aku salah telah menaruh harapan kepadanya. Ibuku menyarankan untuk tidak menghubunginya, jika niatnya baik, dia akan menghubungiku kembali kata mamahku. Namun hati ini sudah terlanjur kecewa, aku sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.

 

Saatnya berangkat kerja, impianku bekerja di salah satu rumah sakit di bandung menjadi kenyataan, tiap hari kulalui dengan semangat karena aku bekerja dengan apa yang aku suka dan tempat yang aku impikan, kali ini jadwal padat, ada beberapa pasien yang harus aku tangani. Aku masih ingat 3 tahun yang lalu aku masih menjadi mahasiswi yang harus terus mengerjakan tugas laporan dan yang lainnya, tidak jarang aku mengelu karena dosenku membuatnya terlihat sulit, namun kali ini aku menuai hasil dari prosesku.

Ketika hendak beristirahat ke kantin aku melihat seorang pria dengan perawakan tinggi menggunakan jaket hitam sedang berbicara dengan customer service di loby, lalu customer service tersebut memanggilku

“nah itu dia orangnya, Lisa sini ada yang mau ketemu nih”.

Itu… Adam? Terlihat berbeda dengan berambut pendek berkumis dan berjanggot agak tebal, dia terlihat sangat dewasa.

“hey akhirnya ketemu juga” sapanya.

Aku mengajaknya makan di kantin “ngapain kamu kesini” tanyaku.

“yaa cari kamulah” jawabku.

“ngapain kamu cari-cari aku, denger ya ini pertemuan kita yang terakhir, jangan pernah temui aku lagi” jawabku dengan sedikit emosi namun bersuara ringan.

“loh kenapa?” jawabnya dengan tenang.

“kamu masih nanya kenapa? Apasih yang ada dipikiran kamu? Tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang tanpa permisi” omelku.

“itu karena……” jawabnya.

“itu aja kamu gak bisa jawab kan, makanya mulai besok dan seterusnya jangan hubungi aku lagi” jawabku sambil beranjak pergi.

“Lisa, tunggu dulu…” dia menarik tanganku, aku menoleh kearanya, tidak ada yang dia katakan dia hanya memperlihatkan raut wajanya dengan mata yang berkaca-kaca seakan-akan ada sesuatu yang ia ingin sampaikan, namun aku sudah terlalu emosi, jadi aku abaikan itu dan meninggalkannya.

Seselesai kegiatan di rumah sakit aku langsung pulang dengan mobil Avanza bersama ayahku, tidak banyak yang aku lakukan di dalam mobil, aku hanya melamun membayangkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca ketika menatapku, mengapa kau tiba-tiba datang lagi? Mengapa kau senang sekali mempermainkan hatiku? Sudah tidak ada hati yang tersisa untukmu Adam.

Sesampainya dikamarku pikiranku masih tertuju padanya, sejenak terdiam dan aku membuka kotak kenangan yang berisi segala sesuatu tentang aku dan dia, aku menyimpan setiap kenangan yang dia buat, dari mulai fotonya di bis ketika liburan, sapaan pertamanya di facebook, sampai tiket bioskop yang pernah kami tonton. Dari semua barang yang aku simpan aku tertuju pada surat undangan pernikahan temannya yang ketika itu ia titipkan padaku, aku mengambilnya dan membukanya, ketika lipatan kertas undangan itu terbuka, ada sesuatu yang terjatuh, itu… itu foto ketika kami berfotobox, dia menyimpan fotobox itu di kertas undangan? Aku tertegun ketika membalikkan kertas fotobox tersebut, ada kumpulan kata yang ia tulis.

Lisa, sejauh ini aku mengenalmu, kamu wanita yang sangat cantik, aku selalu lupa akan penatku ketika melihat senyummu. Sebenarnya smua itu sudah aku rasakan ketika kita berlibur ke pulau tidung, payahnya aku, menyapmupun aku tak mampu, aku hanya diam terpesona oleh keindahanmu. Lisa, aku hanya seorang sagittarian yang sangat setia terhadap apa yang ia cintai, aku belum begitu yakin dengan perasaanku padamu namun aku juga tidak ingin melihat kesedihan dari parasmu yang baik hati, biarkan aku meyakinkan hatiku, jika suata saat aku kembali padamu, itu adalah saat dimana aku merencanakan untuk menikahimu.”

Tanpa sadar air mataku menetes, dia tidak pernah memujiku ketika bersamanya, namun dipesan ini dia memujiku sedalam ini. Air mataku semakin berurai ketika teringat sosok wajah dengan matanya yang berkaca-kaca ketika di kantin barusan. Apa yang baru saja kuperbuat? Aku baru saja menyia-nyiakan ketulusan cintanya, seandainya aku menyadari pesan ini sejak dulu, aku akan menunggunya. Aku beranjak dari kamar dan meminta ibuku untuk mengantarkanku kerumah pak Firman, sesampainya disana rumah tersebut sudah dihuni oleh orang lain, mengingat pak Firman pun sudah tidak bekerja di sekolah tempat ibuku bekerja.