Photobucket

“Rame banget yah hari ini, oh iya kenalin ini temen aku namanya Fikri” Dini menunjuk ke arah lelaki yang berada tepat di sebelahnya.

“Fikri” sambil menyodorkan tangan.

“Laras” sambil menjabat tangannya.

Selama lima tahun dia memperlakukanku sebagai seorang wanita, aku merasa yakin aku adalah wanita paling beruntung jika suatu saat nanti aku menikah dengannya, namun hari ini hari yang sangat kelam dan sulit untuk aku lewati. Kedua orang tua kita sudah saling setuju, aku sudah mengenal keluarganya, dia pun sudah mengenal keluargaku. Ini tahun ke lima dan seharusnya ini adalah hari besar kita, karena hari ini adalah ulang tahun jadian kita. ini hari spesial dalam arti yang tidak pernah aku harapkan, rasa sakit ini akan selalu membekas. Dia memutuskanku.

Kejadian ini menjadi buah bibir dan keributan dikeluargaku dan keluarganya, keluarganya sangat tidak setuju jika aku putus dengannya. saat ini tepatnya pukul 20.00 ibunya menelponku, beliau menyuruhku untuk berkunjung ke rumahnya. Sesampainya disana, aku disambut dengan tangisan sendu ibunya, aku hanya bisa duduk sambil memegang erat jemarinya. Kebetulan aku melihat handphone-nya tergeletak di sudut sofa. Aku membaca list inbox dengan rasa ingin tahu yang tidak dapat aku tahan lagi, aku terkejut, aku membaca rangkaian kata-kata romantis yang membuatku sangat cemburu, pedih ini terus melaju menuju batas rasa sakit yang sulit aku tahan. Aku semakin terkejut ketika membaca nama kontak di baris teratas, dia bermesraan dengan “Pak Teguh”.

Laras Dwi Rahmawati dengan foto rambut pendekku yang terurai lurus, tertera di-name tag sebagai panitia. Tepat tanggal 17 agustus 2006 suasana sangat meriah, ada berbagai jenis lomba dan canda tawapun terukir ditengah-tengah rasa mumet akan tugas-tugas sekolah yang menumpuk.  Kebetulan acara ini diadakan di tempat umum sehingga siapapun boleh mengikuti lomba. Udara panas hari ini terasa sedikit sejuk karena semua orang tersenyum. Diselah aktivitasku, aku melihat seseorang melambaikan tangan. “haay Laras”.

Setelah ku perhatikan ternyata dia temanku Dini. “hay Din” aku balas melambaikan tangan

“Rame banget yah hari ini, oh iya kenalin ini temen aku namanya Fikri” Dini menunjuk ke arah lelaki yang berada tepat di sebelahnya.

“Fikri” sambil menyodorkan tangan.

“Laras” sambil menjabat tangannya.

Ketika itu aku merasa dia terlihat berbeda dari laki-laki yang aku kenal, dia mulai memikatku dengan senyumnya yang manis, kulit putihnya membuat detak jangungku bertambah kencang. Semenjak itu aku merasa ada sisi lain dari diriku yang menyimpulkan bahwa dia adalah lelaki yang aku cari, meskipun aku baru mengenalnya. Ketika menjelang pulang dia meminta nomor handphone-ku.

Semenjak hari itu Fikri tiada henti mengucapkan selamat pagi ketika belum sempatku membuka mata. Semua yang dia lakukan terasa spesial. Seiring waktu melaju, kita semakin dekat, semua lelucon yang kita lontarkan hanya kita yang tertawa, semua hal kecil yang kita bahas menjadi hal romantis yang hanya kita rasakan, seolah-olah hanya aku dan dia yang mengerti tentang diri kita masing-masing.

“Selamat pagi Laras, hari ini harus menjadi hari yang indah untukmu, karena langit yang tak seindahmu pun terlihat indah”. SMS ketika mentari pagi mulai bersinar.

Aku tersenyum ketika mebaca SMSnya, aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku, karena kata-kata yang ia rangkai terlalu indah untukku.

“terimakasih :)”. Hanya itu yang bisa ku sampaikan

Waktu terasa sangat panjang ketika aku bersamanya. tak ada sedikitpun gelisah dan rasa takut ketika kubersamanya. Saling bertatapan kemudian berpaling sambil tersipu malu sering terjadi ketika kita kehabisan topik pembicaraan, aku yang masih kelas 2 SMP merasa tidak ada jembatan pemisah meskipun dia baru saja lulus SMA.

Satu minggu berlalu dan dia menghilang. Entah apa yang dia lakukan kepadaku, apakah dia sengaja meninggalkanku? Atau memang ketika itu dia tidak bisa menemuiku, padahal aku merasa tidak ada sedikitpun hal yang membuat kita terpisah. Balasan SMS tidak aku dapatkan bahkan telephone pun tidak mendapatkan jawaban. Kedekatanku dengannya selama satu minggu seolah-olah aku mengenalnya selama satu tahun. Meskipun perih, aku harus bisa hidup tanpanya dan ketika itu pula aku bertemu dengan Andre, dia sahabatku di kelas.

“Laras, malam minggu ini kamu ada waktu gak”, dia menemuiku sepulang sekolah.

“hmm.. kayaknya ada. Emang kenapa?”.aku menjawabnya dengan rasa cuek.

“aku punya dua tiket nonton film, sayang kalo aku kasih ke orang lain, kamu mau gak temenin aku?”.Pertanyaannya terlihat sangat tegas

Aku berpikir agar aku tidak terlalu larut dalam genangan kesedihan, aku memutuskan untuk menerima ajakannya “hmm.. boleh”.

“serius? Aku jemput ya” Dia terlihat sangat senang.

“boleh, aku pulang dulu ya, daah” Aku berjalan pulang sambil melambaikan tangan.

Tiba saatnya malam minggu, aku punya janji untuk nonton film bersama Andre. Andre menjemputku tepat pukul 19.00 malam, kita berangkat dengan motornya. Film sudah selesai kami tonton, Andre mengajakku makan malam. Kita memesan makanan, kita makan malam dengan suasana yang ramah dan canda tawa. Tiba-tiba andre memegang kedua tanganku dengan lembut, waktu terasa berhenti. Dia menyatakan cintanya padaku, aku tidak menyangka persahabatan yang selama ini kita ukir ternyata berbuah cinta baginya. Tanpa berpikir panjang, aku terima cintanya, aku tidak ingin terus berada dalam bayang-bayang Fikri, aku harus membuka hatiku untuk sesuatu yang baru.

Andre lelaki yang baik, namun bayang-bayang Fikri tidak bisa aku lawan. Dia seolah-olah virus yang menempel di hatiku, semakin aku berusaha melupakannya, semakin muncul dia dalam ingatanku. Aku dan Andre menjalani kehidupan ini seperti selayaknya pasangan. Kita berkencan di malam minggu, kita nonton bioskop bersama, kita saling memberi semangat satu sama lain. Walaupun setengah hati, aku sangat menikmati kebersamaan kita.

Satu tahun telah berlalu. Ini adalah tahun pertamaku dengan Andre, satu tahun bukan waktu yang sedikit. Kita banyak melewati masa bahagia dan masa sulit, Andre sangat menghargaiku, dia selalu memberi seolusi ketika aku dalam kesulitan. Kelas 3 SMP sudah aku lalui dengan nilai UN yang lumayan memuaskan. Kita bersorak sorai merayakan hari kelulusan kita, kita saling menanda tangani baju SMA kita, sungguh masa-masa yang menyenangkan. Di satu titik, aku berpaling kearah gerbang sekolah, aku melihat sesosok lelaki yang pernah aku kenal. Semakin lama dia semakin dekat, diapun tersenyum, Ya ampun dia Fikri.

“hay”.Sapanya

“hay”. Aku sedikit kaget

“ternyata sekarang kamu sudah lulus, saya senang karena kamu baik-baik saja”.sambil menepuk pundakku

Aku sedang bersama Andre, dia melihat dengan tatapan aneh kepada Fikri. “Andre kenalin ini Fikri”

“Andre”. Andre tersenyum

“Fikri”. Mereka tersenyum sambil berjabatan tangan.

“sebentar ya Andre, ada yang harus aku bicarakan dengannya” sambil menggandeng Fikri ke tempat yang jauh dari Andre.

“Kamu kemana aja, dihubungin susah, sebenernya kamu kemana sih? Aku hampir gila karena kehilangan kamu”. Semua itu aku katakan secara spontan.

Fikri hanya tersenyum dan menjawab “Terima kasih”.

Semenjak pertemuan itu aku merasa jiwaku telah kembali. Aku dan Andre sudah menjalani hubungan ini selama satu tahun, tetapi kehadirin Fikri membuatu membuka masa indah dari masa lalu yang sekarang menjadi bunga yang mekar indah di hatiku. Aku tidak bisa memungkiri jika Fikri tetap menjadi lelaki terbaik untukku. Sampai suatu saat aku berkencan di sabtu malam bersama Fikri, kita makan malam dengan setitik lilin yang terang namun sedikit redup membuat suasana ketika itu semakin romantis. Sejujurnya semenjak kedekatan aku kembali terjalin bersama Fikri aku sedikit menjauh dari Andre. Sampai suatu ketika Andre marah karena aku sedikit menjauh darinya, akhirnya aku memutuskan dia. Seminggu kemudian Fikri mengutarakan isi hatinya padaku dan aku menerimanya.

Lima tahun telah berlalu, selama lima tahun dia memperlakukanku sebagai seorang wanita, aku merasa yakin jika aku adalah wanita paling beruntung jika suatu saat nanti aku menikah dengannya, namun hari ini hari yang sangat kelam dan sulit untuk aku lewati. Kedua orang tua kita sudah saling setuju, aku sudah mengenal keluarganya, dia pun sudah mengenal saudaraku. Ini tahun ke lima dan seharusnya ini adalah hari besar kita, karena hari ini adalah ulang tahun jadian kita. ini hari spesial dalam arti yang tidak pernah aku harapkan, rasa sakit ini akan selalu membekas. Dia memutuskanku.

Kejadian ini menjadi buah bibir dan keributan dikeluargaku dan keluarganya, keluarganya sangat tidak setuju jika aku putus dengannya. saat ini tepatnya pukul 20.00 ibunya menelponku, beliau menyuruhku untuk berkunjung ke rumahnya. Sesampainya disana, aku disambut dengan tangisan sendu ibunya, aku hanya bisa duduk sambil memegang erat jemarinya. Kebetulan aku melihat handphone-nya tergeletak di sudut sofa. Aku membaca list inbox dengan rasa ingin tahu yang tidak dapat aku tahan lagi, aku terkejut, aku membaca rangkayan kata-kata romantis yang membuatku sangat cemburu, pedih ini terus melaju menuju batas rasa sakit yang sulit aku tahan. Aku semakin terkejut ketika membaca nama kontak di baris teratas, dia bermesraan dengan “Pak Teguh”. Aku segera menelphone-nya dengan nomor pribadiku,

“halo ini dengan siapa?”. Tanyaku

“Ini dengan Irma, kamu siapa?” Jawabnya.

Suara yang ku dengar buka suara laki-laki, tetapi suara wanita. Dengan kata lain Fikri menyamarkan nama Irma dengan nama Pak Teguh. “aku pacarnya!!”

Dia menjawab “Silahkan saja ambil lelaki pembohong seperti dia!!”.

Ternyata selama ini dia menduakanku. Aku tidak habis pikir dengan perempuan yang merasa nyaman dengan statusnya sebagai yang kedua dan yang sangat membuatku terkejut ternyata Irma adalah atasannya FIkri di tempat kerja mereka. Memang wanita tidak punya hati. Aku meminta kita untuk bertemu, tetapi Irma selalu menolaknya, aku mengancamnya, jika tidak bisa aku akan kunjungi rumahnya, bahkan ke kantor merekapun akan ku kunjungi.

Keesokan harinya mereka memeutuskan untuk bertemu denganku. Fikri menjelaskan bahwa memang selama ini dia dan Irma memiliki hubungan teman kencan, dengan kata lain selama dia menjalin hubungan denganku mereka sudah berhubungan. Karena aku merasa sudah sangat sakit, aku menenangkan diriku, lalu aku merelakan Fikri dengan kata manis dan ramah, aku mengatakan jika mereka adalah pasangan yang serasi. Betapa bodohnya aku.

Lima bulan telah berlalu, kertas berbalut plastik tergeletak di dasar pintu rumahku, ternyata itu adalah undangan pernikahan Fikri dan Irma. Aku tercengang, mataku tidak berkedip sedikitpun, air mataku menetes. Betapa bahagianya mereka, lima tahun yang sudah kami rangkai ternyata berakhir di tangan wanita yang selama ini menjadi orang ke tiga dibelakangku. Biarlah rasa sakit ini meresap, biarlah air mata ini berubah menjadi pahit, biarlah rasa sakit ini aku nikmati.

Aku menghadiri pernikahan mereka berdua, aku berjalan sendirian dengan membawa amplop kecil di tangan kananku, aku bersalaman dengan mereka, Fikri terlihat bahagia begitupun Irma. Ketika aku bersalaman dengan Irma, dia berbisik padaku

“kamu masih jomblo kan? Biar aku kenalkan dengan temanku, jangan pulang dulu ya”.Bisiknya

Aku tidak mengerti dengannya, dia baik padaku. Setelah aku menunggu sedikit lama, Irma turun dari kursi dan mengenalkanku pada temannya

“itu dia temanku, sini aku kenalin” sambil menunjuk ke arah laki-laki yang baru datang sendiri.

“Laras, kenalin ini Andre”.