Angin malam perlahan berbisik
Syahdunya dedaunan bak alunan alat alat musik
Pelan. Perlahan. Seolah tak ingin kegundahan hati jadi terusik
Karena pahit yang tak sudi ditelisik

Malam sejuta keheningan
Hanya sekelibat angin dan temaram lampu jalanan
Malam ke enam seredup sinar sang bulan
Seolah tak ingin menjerat keluar sang empunya kenangan

Ditengah keheningan aku gelisah
Menahan air mata yang nyaris pecah
Ingatan yang bergejolak, entah resah
Entah marah
Seolah kediaman membuat semua rindu sempurna tertumpah
Ya. Semacam hujan bulan desember yang selalu tercurah
Tak bisa setetes kuelakkan apalagi kucegah

Malam larut,
Kepalaku berdenyut
Keheningan ini membuatku takut
Bayangan demi bayangan berseliweran di setiap sudut
Menebas, melemahkanku menjadi seorang paling pengecut

Aku hanyalah seorang perindu hina
Yang bahkan tak bisa kusampaikan lewat kata kata
Doa
Iya. Hanya Dia yang Maha-Tahu-Segala
Tentang hatiku. Kegilaan ini. Dan cemburu yang tak terbaca mata
Karena sempurna disamarkan topeng senyum pura pura

Aku bukan pelari dan bukan pula seorang artis
Yang sanggup berlari hingga nafas nyaris habis
Yang tersenyum walau hati perih teriris
Aku. Hanyalah seorang gadis
Yang juga dapat menangis

Bisakah angin malam ini menyapu saja semua kenangan?
Biarlah hati ini terasa ringan
Karena cemburuku terasa bak sebuah beban
Aku hanya ingin tidur dengan nyaman
Tanpa harus resah bertanya ‘siapa yang sedang kau pikirkan?’

 

Puisi dari @dydylbedudul