Kamu bisa memilih untuk tak lagi jadi ‘Cokelat putih’ku dan mencari yang lain.. takapa.. aku ingin kamu bahagia dengan orang yang lebih sempurna..

Bagus Dana Aryaadalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Hukum di salah satu Universitas swasta di Bandung.Dia adalah orang yang pandai bergaul, rendah hati, dan pintar membuat suasana menjadi menyenangkan. Wajahnya tidak terlalu buruk untuk mendapatkan wanita terpopuler di kampus, penampilannya juga tidak terlalu memalukan, akan tetapi selama kuliah dia masih saja jomblo. Bagus adalah lelaki yang tidak bisa move on dari kenangan masa lalunya.Selama hampir 5 tahun terakhir ini hanya ada satu nama dalam hati dan pikirannya, yaitu Audra.

Audra Septiani Hermawan, adik kelasnya semasa SMA, seorang pemalu, bermata burung hantu dengan bola mata berwarna Cokelat, memiliki lengkung senyummanis yg khas, salah satu gadis yang “diincar” banyak siswa di sekolahnya, dan dia adalah cinta sekaligus pacar pertama Bagus. Audra sering dipanggil dengan sebutan “Cokelat Putih” oleh Bagus, alasananya adalah karena menurutnya Cokelat putih adalah sebuah Ironi yang manis.

Bagus pernah berkata kepada Audra “aku suka Cokelat putih, dia adalah ironi termanis yang pernah aku temukan”

“hah.. maksud kamu?” Tanya Audra

“iya..itu kan Cokelat.. tapi berwarna putih, bukankah Cokelat adalah sebuah warna, tapi kenapa warna Cokelat berwarna putih, ironis kan. Namun keduanya mewakili sesuatu, Cokelat mewakili hal yang manis dan putih mewakili ketulusan.” Lalu Bagus diam sejenak seraya menatap kedua mata Audra dan melanjutkan perkataannya“Aku nemuin itu semua ada dalam diri kamu, rasa manisCokelat dari lengkung senyummu dan putihnya ketulusan yang aku rasakan dari hatimu, kamu adalah ‘Cokelat putih’ku” bagus menjelaskan

lalu Audra menanggapi dengan lengkung senyum khasnya“hmm, ga ngerti deh apa yg kamu omongin, tapi aku seneng dengernya.. pinter gombal kamu!”

Mereka berpacaran selama satu setengah tahun dan putus lima bulan setelah Bagus lulus SMA, semenjak itu Bagus tidak pernah mendengar kabar dari Audra lagi. Adegan “Cokelat Putih” itu selalu terbayang oleh Bagus, dia tidak bisa melupakan perasaannya terhadap Audra beserta kenangan yang kini tersisa oleh waktu, hal itu yang membuatnya jomblo selama hampir 5 tahun.

Bagus tinggal di sebuah kamar kost bersama seorang teman bernama Sakti.Sakti sering menjodohkan Bagus dengan teman – teman wanitanya, namun tak pernah ada satupun yang diterimanya.“Bro, si Mita sekarangready stock tuh, dia baru aja putus sama pacarnya, pacarnya ketauan selingkuh”

Bagus terdiam sejenak, lalu dia bilang “males ah, biasanya kalau baru putus gara2 diselingkuhin ujung – ujungnya malah jadi pelarian..males gue”

Sakti menyambar pernyataan Bagus “sok tau lu nyet, pacaran aja ga pernah, malah sok sok ngasih teori tentang cewek yang baru putus..udah cobain aja dulu, iseng – iseng berhadiah”

“lu pikir maen kuis, ga ah males gue “

Bagus terdiam sejenak, lalu Sakti menghela nafas dan berkata “lu masih ngarep bisa ketemu sama mantan lu ya, siapa..si.. Audra Audra itu kan?”

Bagus terdiam mendengarnya, Audra memang istimewa buatnya. Bagus sering berdoa agar dia bisa melihat Audra sekali lagi, melihat lengkung senyumnya meskipun hanya sekali.

Sakti melanjutkan pembicaraannya “ya elah Gus, udah lah ga usah mikirin orang yang udah lama ngilang di hidup lu, lu harus Move On, hidup itu ga jalan di masa lalu bro”

Bagus masih terdiam dan Sakti kembali berbicara “sekarang lu mikirin dia setengah mati padahal dia di sana belum tentu punya pikiran yang sama tentang lu..lagiankalau lu mau nyari dia,lu mau nyari kemana coba..mendingkalau dia masih Ready Stock, lah kalau udah punya cowok, atau udah nikah, atau bahkan udah mati, gimana.. masa lu mau gali kuburannya, terus lu indehoy sama mayatnya gitu..?”

Bagus menyahut “sembarangan lu kalau ngomong..lu ngedoain dia udah mati!”Mendengar kata – kata dari Sakti, Bagus sempat berpikir sejenak.Hatinya bertanya, bagaimana jika benar Audra sudah punya pacar, bagaimana jika Audra sekarang sudah menikah, atau bahkan bagaimana kalau Audra telah berada di alam yang berbeda.Dia merasa bahwa dia harus mencari Audra, dimanapun, dengan cara apapun.

Dia mencari Audra lewat jejaring sosialFacebook.Dia ketikkan namanya di kolom pencarian. Tidak lama kemudian, muncul hasil dari pencarian tersebut dan terdapat beberapa nama “Audra”. Dia lihat satu persatu sampai akhirnya dia menemukan satu akun yang bertuliskan nama“Audra Septiani Hermawan”.

Ini dia, ini yang Bagus cari selama ini.Kenapa baru terpikir sekarang untuk mencarinya di Facebook.Bagus merasa senang telah menemukan akun Facebook Audra, apalagi selang beberapa hari, Audra menerima permintaan pertemanan dari Bagus.

Akhirnya mereka bertegur sapa lewat Facebook, menanyakan kabar masing – masing, mengutarakan betapa senangnya mereka bisa berkomunikasi lagi, bercerita tentang masa lalu, membuka kenangan yang pernah mereka lewati bersama.Keduanya diselimuti rasa senang yang tidak biasa, ada kerinduan yang sedikit pecah, ada rasa penasaran yang sedikit terobati, dan ada kebahagiaan yang masih samar – samar.

Semakin Intens mereka berkomunikasi lewat Facebook, merekapun saling bertukar nomor HP. Beberapa hari setelahnya Bagus menelpon Audra untuk mengajaknya jalan – jalan.Bagus bertanya “Sabtu ini kamu sibuk ga?”

Audra menjawab “enggak, kenapa Gus?”

Lalu dengan jantung yang berdegup kencang, Bagus mengajak Audra untuk pergi jalan – jalan  “mmm, aku pikir bakal menyenangkan kalau sabtu ini kita jalan bareng, makan di Café favorit kamu yang dulu belum sempet kita datengin, yaa having fun aja dari pada diem di kosan mulu, gimana?”

Audra meng-iya-kan ajakan Bagus dengan sedikit bercanda  “aaahh, iya ayok, kamu dulu janji mau ngajak aku makan di situ, tapi ga jadi jadi.. dasar tukang ngibul”

Bagus pun menanggapinya dengan nada bercanda “eh bukannya ngibul, dulu kan aku masih sekolah, uang jajan aku mana cukup buat ngajak kamu makan disitu..kalo makan di tempat pecel lele sih aku masih sanggup, tapi kalo makan berdua di situ, masa aku harus nyoceng duit SPP sih, hehe”

Audra bertanya dengan nada sedikit berharap.“iya deh iya.. hmm.. apa ini akan jadi semacam kencan?” .Bagus terdiam sejenak, dalam hatinya dia menggumam“Iya, aku ingin ini menjadi kencan kita. Aku ingin ini menjadi penyambung dari cerita kita yang belum selesai lalu kita akan menyelesaikan cerita ini dengan manis, dimana pada akhirnya hanya ada kau dan aku, hanya ada kita, hanya kita”. Bagus terdiam cukup lama.

Audra menegurnya “Heh, kok malah diem?”.Audra tidak tahu bahwa Bagus sangat gugup menjawab pertanyaan itu, lidahnya tercekat, ada kata yang tertahan karena perasaan senang yang begitu membuncah.

“eh.. maaf.. anu.. hmm, kalau gitu nanti Sabtu ba’da magrib aku jemput kamu di rumah ya”. Lalu Bagus segera menutup telponnya.Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.Akhirnya, waktu yang dinantikan hampir tiba, dia tidak sabar untuk segera menatap mata Cokelatnya, dia tidak sabar untuk memandang lengkung senyum bibir merahnya, dia tidak sabar untuk memecah rindu yang selama ini tak terbendung.

Sabtu malam itupun tiba,Bagus menjemputnya di rumah Audra, merekapun pergi berjalan – jalan. Keduanya merasakan kesenangan yang sama kala kedua mata mereka bertatapan. Mereka berbagi cerita tentang kabar mereka sekarang, mengulang cerita masa lalu mereka, dan hal basa – basi lainnya.Mereka benar – benar menikmati waktu mereka. Nonton di bioskop, makan di café , berkeliling kota Bandung, dan hal lain yang membuat waktu terasa terlalu cepat berlalu.

Sampai akhirnya mereka harus pulang, Bagus mengantarkan Audra ke rumahnya.Berat sekali rasanya untuk melepas Audra, karena Bagus masih merasa ingin beberapa detik lagi bersama dengannya.“hari ini rasanya seneng banget ya, aku ga nyangka bisa ketemu lagi sama kamu!” Bagus tak bisa melepaskan pandangannya dari Audra.

Audra tersenyum sejenak, lalu dia berkata “aku nikmatin banget hari ini, gus!” dia diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya “aku harap ini bukan yang terakhir kalinya!”.

Bagus pun terenyum, ada gejolak rasa yang luar biasa di dadanya. Bagus menggumam di hatinya “Ya, akupun berharap hal yang sama. Aku pernah berdoa untuk bisa bertemu denganmu lagi meskipun hanya untuk sekali, tapi kini aku berubah pikiran.Aku ingin bertemu denganmu lagi besok, besoknya lagi, lalu besoknya lagi, walaupun di penghabisan waktu, aku selalu ingin denganmu.”

Audra memalingkan wajahnya dan beranjak menuju rumah.Sesaat, Bagus berharap agar waktu berlangsung sedikit lama untuknya.Rindu yang dia rasakan terlalu besar untuk di tampung dalam satu sabtu malam.Sebelum Audra memasuki rumahnya, Bagus memanggilnya “Audra, sebentar..” dia lalu mendekati Audra beberapa langkah “aku harap kamu selalu jadi ‘Cokelat Putih’ku!”Audra hanya tersenyum sebelum dia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumahnya.Bagus berkata dalam hatinya “Indahkan mimpiku mala mini, Audra!”

Setelah sabtu malam itu, mereka lebih intens berkomunikasi.Bagus merasa lebih senang ketika tahu bahwa ternyata Audra belum memiliki pacar.Merekapun berencana untuk bertemu kembali.Saat itu pasti akan sangat istimewa karena kali ini perasaan keduanya telah berubah menjadi sesuatu yang lain, rindu yang lebih luar biasa, dan sedikit rasa ingin memiliki diantara keduanya.

Sabtu malam berikutnya, mereka akan bertemu. Bagus bersiap – siap dengan penampilannya. Bagus ingin terlihat tampan di depan Audra. Dia memotong rambutnya, memakai kemeja murah andalannya, dan memakai wewangian milik Sakti yang tergeletak di kasurnya “Mumpung ga ada Sakti, gue embat aja nih parfumnya” seringainya.Lalu dia menunggangi motornya dan mulai melaju menuju rumah Audra.Dia memacu motornyadengan kecepatan 100 km/jam karena Bagus tak sabar ingin cepat bertemu dengan Audra.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedandatang tiba – tiba dari arah kiri, keluar dari sebuah gang dengan sedikit kencang. Lalu bagian depan mobil tersebut menabrak ban belakang motor Bagus hingga dia terpelanting sejauh lima meter. Bagus terjatuh dari motornya, bagian belakang kepalanya membentur trotoar cukup keras, dia tergeletak tak berdaya, kesadaraannya perlahan hilang.Beberapa orang mulai berdatangan untuk membantunya.Bagus langsung dilarikan menuju rumah sakit terdekat oleh seorang lelaki yang tak mampu dikenali oleh Bagus.

Sementara itu di lain tempat, Audra menunggu kedatangan Bagus dengan cemas, firasatnya mulai tidak enak karena Bagus sudah terlambat 45 menit dari yang dijanjikan. “kenapa kamu ga bisa dihubungi, kamu di mana?”. Audra menunggu kedatangan Bagus tetapi dia tak kunjung datang.“Mungkin memang dia ga akan datang” keluh Audra dalam hatinya.

Bagus terkapar di sebuah rumah sakit ternama di daerah Dago, Bandung.Dalam keadaan tak sadarkan diri, dia bermimpi.mimpinya gelap, tiada apapun bisa dilihatnya, hanyasayup – sayup suara yang terdengar memanggil namanya “Bagus.. Bagus..di mana kamu?”. Suara itu adalah suara Audra, namun Bagus tak mampu melihat apapun. Segala cara dia kerahkan untuk mencari suara itu, namun gagal. Semakin lama, suara itu semakin samar dan hilang secara perlahan. Bagus tertunduk, dia jatuh dalam kesedihan yang dalam, terpikir olehnya bahwa dia kehilangan Audra.

Dalam gelap, dia kembali mendengar suara itu,“Gus, bangunlah, beri aku pertanda bahwa kau masih ada!”.

Suara itu mengalun lembut dan pelan “aku masih ingin kembali menghabiskan waktu bersamamu..ada cerita yang harus kita ulang lagi, Gus, bangunlah!”.

Bagus terperanjat lalu Bagus memanggilnya “Audra?”. Seketika Bagus merasakan ada yang merangkul tubuhnya dan berkata dengan suara tangis yang tertahan “Bagus, kamu sudah sadar..Alhamdulillah”.

Bagus merasakan ada yang memeluk tubuhnya, tetapi pandangannya masih gelap.Lalu Bagus bertanya kebingungan “Audra?Di mana ini? Ada apa ini?”. Audra meyakinkan Bagus bahwa itu adalah dia yang memeluknya “Iya ini aku, Audra!”, pelukannya semakin erat “syukurlah kau sudah sadar!”.

Tetapi dalam benak Bagus tersimpan berbagai tanda tanya “di mana aku, ada apa ini, kenapa aku tak bisa melihat apapun?”,Audra mencoba menenangkannya meskipun dalam hatinyamerasakan guncangan dan kepiluan mendalam “ini aku, Gus, ini aku.. semua akan baik – baik saja!”.

Audra menceritakan bahwa Bagus tak sadarkan diri selama seminggu karena dia mengalami kecelakaan ketika hendak pergi menjemputnya.Dia dibawa ke rumah sakit oleh Sakti dan Audra baru diberi tahu sehari setelah kejadian.Dokter memberitahukan hasil pemeriksaannya.Bagus mengalami benturan cukup keras di bagian belakang kepalanya dan menyebabkan beberapa syaraf penglihatannya terganggu.Sebab itu lah Bagus tak mampu melihat apapun. Tangis Bagus pun terpecah, perasaannya berkecamuk seperti ombak di tengah badai,dia menangis ketakutan. Bukan ketakutan biasa, tetapi Bagus merasa takut tidak akan lagi bisa melihat lengkung senyum yang khas itu, dia tak bisa melihat Cokelat putihnya lagi.

Audra memeluknya erat, menegaskan bahwa dia tidak akan pergi kemanapun. Audra mencoba menenangkan kesedihannya.Terbesit dalam benak Bagus bahwa semuanya sia – sia, penantiannya, perasaannya, dan pengaharapannya untuk selalu melihatnya.

Setelah hari itu, hari paling menyakitkan yang pernah dialami oleh Bagus, dia memikirkan sesuatu tentang dirinya, tentang Audra, dan tentang mereka berdua.Audra masih setia menungguinya di kamar kelas 3 rumah sakit itu. Bagus berkata “Audra, tolong genggam tanganku!”. Lalu audra menggenggam tangan Bagus dengan kedua tangannya.

“Aku ingin berbacara sesuatu!”Bagus melanjutkan.Audra membantunya untuk duduk di atas tempat tidurnya.

Bagus menghela nafas sesaat sebelum dia melanjutkan bicaranya “Aku merasa senang, akhirnya aku bisa bertemu denganmu setelah sekian lama!”.

Audra mengamini ucapannya “begitupun aku, Gus!”.

Lalu Bagus memotong pembicaraan Audra, dengan nada yang gontai, Bagus berkata “Aku ingin kamu dengarkan perkataanku, tolong dengarkan hingga aku selesai bicara, dengarkan dengan sebagian dirimu yang pernah bersamaku!”.

Audra memperhatikan apa yang Bagus bicarakan “Audra, ga ada yang menandingi lengkung senyummu. Aku tahu itu sejak aku melihatmu pertama kali, ada rasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya..Sejak itu aku tahu apa yang ku mau.. kamu!Kamu adalah ‘Cokelat putih’ dari semua yang kulihat dan ku rasakan darimu, lengkung senyummu dan ketulusan hatimu. Ketika kamu pergi, tangisku tak mampu ku bendung, Tuhan ku hujat sedemikian rupa lewat doa – doaku , apapun ku katakan pada-Nya untuk menunjukkan bahwa aku kecewa. Lalu aku meminta-Nya agar mempertemukan kita kembali, aku ingin melihatmu lagi, meski hanya sekali, meski hanya sekali”.

Bagus mulai terisak, suaranya semakin getir “Lalu Tuhan mengabulkan doaku, akhirnya kita bertemu, akhirnya aku melihatmu kembali pada sabtu malam itu.Kau tahu betapa senangnya aku?” Bagus tersenyum, sedangkan genggaman Audra semakin erat

“kamu tahu apa yang aku pikirkan saat aku melihatmu lagi sabtu malam itu..?semua yg ku lihat, ku dengar, dan semua sensasi di segala inderaku tentangmu merasakan hal yang sama seperti ketika dulu kita bertemu untuk pertama kalinya.. semua terasa sama, utuh.. ya.. Tuhan mengabulkan doaku, doaku untuk melihatmu walau hanya untuk sekali..hanya sekali.. hanya bisa sekali saja..!”.

Bagus menangis, tangisnya muncul perlahan seperti gerimis di sore hari yang menutup ketenangan senja oranye “kini aku tak mampu melihatmu lagi, aku tak mampu melihat ‘Cokelat’ku lagi, hanya ‘putih’ku yang tertinggal.. aku tak tahu seperti apa hidupku kelak..” Bagus terdiam sejenak, membayangkan rupa Audra dengan ingatan seadanya dan segala kenangan yang pernah dilaluinya.

“Audra, kamu bisa memilih untuk tak lagi jadi ‘Cokelat putih’ku dan mencari yang lain.. takapa.. aku ingin kamu bahagia dengan orang yang lebih sempurna.. akuakan pasrah..segala inderaku akan berusaha merelakannya..”. Bagus tertunduk menahan rasa sakit yang hadir seiring kata terakhir yang dia ucap.

Lalu Audra menyambut perkataan Bagus dengan pelukan.Air mata menghiasi sore itu, dia menggenang di kilas cahaya oranye yang menyusup di antara kaca jendela. Dalam pelukkan, Audra berbisik “aku selalu ‘Cokelat Putih’mu..akan selalu begitu”. Pelukan mereka pun semakin erat, tiada kata lagi yang terucap dan mencampuri perasaan mereka. Cinta, berapapun waktu melewatkannya,takdir akan mempertemukan jika kita benar – benar berjuang mencarinya meski dalam kondisi apapun pada akhirnya.