Doaku tetap sama, semoga tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan.

“Assalamualaikum selamat malam, kembali dipandu oleh saya zaki arif dalam acara Bincang Remaja, seperti biasa ditemani oleh rekan siar saya Nuri Andini”

“ya kami akan menemani insan pendengar selama 2 jam kedepan, so stay tuned

Riri, itulah panggilan Nuri Andini setiap kali kami berbincang, disela siaran kami membicarakan banyak hal, dari mulai hobi, sekolah, sampai masa depan. Aku sudah menjadi seorang penyiar radio selama 3 bulan. Sebagai penyiar radio penampilanku tidak begitu jelek, rambutku ikal, kulitku sawo matang, tinggiku 168cm. sementara riri adalah perempuan berkerudung, tingginya hampir menyamaiku, kulitnya pun sawo matang, tidak begitu cantik, namun personality-nya menarik.

Aku sendiri adalah lelaki yang jarang berinteraksi dengan seorang wanita, aku tidak pernah pacaran, terutama aku belum pernah mendapatkan perhatian dari seorang wanita. Namun ketika waktu mempertemukan aku dan Riri, aku merasa nyaman, dia sangat menyenangkan, dia bisa membuat diriku menjadi diriku saat didekatnya

“jadi gimana sekolah kamu?” Riri bertanya.

“yaah gitu deh, seru lah pelajaran networking di sekolah” aku menjawabnya sambil tersenyum.

“terus kamu masih main band?” Riri bertanya sambil membuka headphone-nya.

“pastinya pulang sekolah langsung ke studio hehe”

“kamu berenti main band gih, kemaren juga kamu sakit kan gara-gara ke studio mulu, banyakin istirahat” sambil mencorat-coret kertas diatas meja.

“tapi main band seru” bantahku.

Mungkin kedengarannya dia seperti mengaturku, sementara aku paling tidak suka diatur, namun entah kenapa perhatiannya sangat membuatku nyaman.

“eh ri, itu cincin dari cowok kamu?” tanyaku saat melihat cincin silver melingkar di jari manisnya.

“bukan ini pemberian dari ibu aku, coba sini tangan kamu” perintahnya.

“ma.. maksud kamu” jawabku sambil terbata-bata.

“iya sini sini” ia menggenggam dan menarik jemariku kearahnya, kemudian dia memasangkan cincin itu di jari manisku.

“hey ri apa –apaan ini?” sambil tertegun.

“bagus ya?” jawabnya dengan cepat. “eh siap-siap on air, lagunya udah mau abis”.

Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa, aku hanya diam dan mulai berbicara sebagai seorang penyiar, momen-momen tersebut membuatku merasa yakin jika aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku jika berada didekatnya, dia sering bercerita tentang mantannya, dia memperlihatkan fotonya padaku, aku berpikir, dia tidak jauh lebih baik dari pada aku, dulu dia putus karena diselingkuhi oleh pacarnya, seandainya aku pacarmu, akan ku jaga hubungan ini sampai akhir hayat. Aku menghiburnya dengan lelucon-lelucon ringan, aku merasa bahagia ketika melihatnya tertawa, taukah kamu, dunia terasa berhenti ketika melihatmu tersenyum, tetaplah seperti itu.

Berbulan-bulan kita duduk bersama di kursi penyiar, dengan acara yang sama, kedekatan kami semakin dalam, ketika itu keadaan sudah larut malam, semua orang sudah pulang ke rumah, kecuali kang yayat yang menjaga kantor sampai esok pagi. kami tertawa bersenda gurau tanpa menghawatirkan waktu.

“haha iya iya, kamu ini ada ada aja” ejeknya sambil tertawa.

“hey ri” tanyaku,

“ya” jawab Nuri sambil berusaha untuk berhenti tertawa

seketika keadaan hening, otakku bergelut dengan kata pertama apa yang akan aku keluarkan, sementara hatiku terasa dingin, detak jantungku berdebar semakin kencang.

“ri, selama ini aku ngerasa sendiri, tapi aku ngerasa seneng dengan jam siaran ini, dari semua hari, jam siaran kita ini adalah hari yang paling aku tunggu. Aku ngerasa nyaman disisi kamu, aku ngerasa berharga dengan perhatian-perhatian kecil kamu. Berkali-kali aku mengelak tapi harus aku akui kalo aku…” kata-kataku tertahan seolah-olah terhanyut hangatnya udara ruangan yang bercampur dengan dinginnya rasa gugup di hatiku.

“rif udah mau selesai nih lagunya yuk siap-siap” potongnya, mengingatkan jika sudah waktunya menyambut pendengar.

“o.. oh iya” aku terbata-bata, mataku tidak fokus, aku segera mengambil headphone-ku.

Selanjutnya, aku kehilangan momen untuk mengatakan dan mencurahkan perasaanku padanya. Selesai siaran, Nuri dijemput oleh ayahnya karena sudah larut malam. Seperti ada yang tertahan di nafasku, sulit sekali bagiku menghembuskan nafas ini. Aku berjalan menuju rumah denga sangat lemas, penuh dengan kekecewaan, sepertinya tuhan tidak memihak padaku.

Minggu berikutnya aku diundang untuk mengikuti rapat penyiar radio, ada perubahan jadwal karena mendekati bulan Romadhon. Aku tidak lagi dipasangkan dengan Nuri karena aku harus mengisi acara sahur. Aku semakin sadar jika tuhan benar-benar memisahkanku dengannya, aku hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui sms dan berdoa sebisa mungkin, semoga tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan.

 

Aku tertegun saat melihat relationship status facebook-ny yang sudah berubah menjadi engaged with Alit Santoso dihiasi fotonya bersama lelaki berkulit putih, berambut spiky sambil menggenggam jemarinya. Nafasku terasa sesak, jantungku berdetak lambat, hatiku seolah tertusuk duri yang sakitnya menyebar ke seluruh tubuh sehingga melemaskan jemariku. Aku sangat menyesal, mengapa ketika itu tidak kulanjutkan saja pengakuanku, mengapa untuk mengatakan “aku cinta kamu” pun terasa sulit. Doaku tetap sama, semoga tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan.

Keesokan harinya, handphone-ku berdering, aku beranjak menuju tempat tidur mengambil benda kotak kecil itu yang tergeletak diantara kerumbunan bantal, “nanti malam hadir diacara tunanganku ya jam 8 malam, terimakasih.”, mataku perlahan terbuka lebar, aku tidak bsa menggerakkan badanku selama beberapa detik, tanganku gemetar tak kuasa menggenggam handphone yang kemudian terjatuh dengan keras. Apa yang terjadi dengannya? Padahal semenjak dua bulan yang lalu kita tertawa bersama, bersenda gurau bersama, menghibur pendengar bersama, namun sekarang tiba-tiba dia membuat hidupku seakan amnesia dari keindahan-keindahan yang pernah kita lalui.

Inginku tidak menghadiri acara pertunangannya, namun apa boleh buat, kerabat-kerabat siaranku mengajakku untuk datang bersama. Langkahku terasa lambat, malam semakin terasa dingin ketika kakiku melangkah masuk ke rumahnya. Sambutan orang tuanya yang ramah terasa kasar di hatiku, langkah selanjutnya tertuju pada Alit tunangannya, dia tersenyum padaku, aku membalasnya dengan senyuman kecut yang sebenarnya tidak ingin aku perlihatkan. Aku berhadapan dengan Nuri, dia mengulurkan tangannya, aku sambut dengan genggaman lembut yang tidak ingin aku lepas.

“Rif kamu kemana aja?” tanyanya.

“ada aja” Jawabku sambil sedikit tersenyum, inginku mengatakan hal lebih, namun apa gunanya? Semua sudah berakhir.

Aku dan kerabatku tidak menyianyiakan kesempatan mencicipi makanan, lalu menentukan dimana kami akan duduk. Setelah selesai makan dan sedikit berbincang, kami berpamitan lalu beranjak pulang. Sesampainya dirumah aku mengurung diri di kamar, Doaku tetap sama, semoga tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan.

Berdasarkan informasi yang kudapat dari selembaran berbalut plastik yang kupengang, minggu depan ia akan menikah, meskipun aku sudah belajar untuk melepaskannya, hatiku masih tarasa sesak. Aku terus mencari aktifitas yang dapat membuatku lepas dari bayang-bayang kesedihan yang ia ciptakan. Kebetulan rekan siaranku tidak bisa mengisi jadwal acaranya hari ini, aku mengajukan diri untuk menggantikannya. Aku tidak tahan lagi berada di kamar, satu jam sebelum acara aku berinisiatif untuk hadir lebih awal, aku melewati lokasi rumah Nuri yang kebetulan searah dengan lokasi kantor siaranku.

“Rif mau ke kantor?” sapa ibunya Nuri.

“eh ibu, iya bu kebetulan Andra gak bisa ngisi acara hari ini bu” Jawabku.

“emang siarannya jam berapa rif?” tanya ibunya.

“Nanti bu jam 5” jawabku sambil tersenyum dan menundukan badanku.

“sini mampir aja dulu Rif, kan masih ada satu jam, kebetulan ibu ada oleh-oleh dari Jogja nih.” Jawab ibunya sambil membukakan gerbang.

“oh iya bu” jawabku sambil melangkah ke rumahnya

Pembicaraanku dengan ibunya hanya berisi cerita-cerita ringan seputar pengalamannya selama berada di kampung halamannya. Aku memang sudah lumayan akrab dengan ibunya, karena aku sering membeli makanan di warungnya. Kita berbicara panjang lebar sampai pembicaraannya menuntunku membahas tentang pernikahan Nuri.

“ibu gak abis pikir sama Nuri, padahal Alit itu lelaki yang mapan, ganteng, dia memiliki masa depan yang cerah. Tapi… ah dasar Nuri” jelasnya sambil menghela nafas berat.

“emangnya kenapa bu?” Tanyaku, sambil mengerutkan halisku.

“Selama KKN di bali, dia malah pacaran sama cowok lain, ibu gak abis pikir banget.” Jawabnya sambil berkaca-kaca.

“maksudny ibu? Bukannya minggu depan Nuri akan menikah?” tanyaku sambil terkejut dengan nada yang agak cepat.

“kemarin ibu udah ngobrol sama keluarganya Alit dan kita sepakat untuk membatalkan pernikahannya” nadanya berubah tidak stabil, tak lama, air matanya terurai.

“Astagfirulloh, sabar ya bu, mungkin Nuri sudah menjatuhkan pilihan dengan seseorang yang ia anggap nyaman didekatnya bu” aku sangat terkejut dengan berita yang disampaikan oleh ibunya.

“iya semoga ini pilihan yang tepat dan terbaik untuknya” jawab ibunya, sambil menahan tangis yang sudah terlanjur ia tunjukan.

“iya bu aamiin” jawabku, hanya itu yang bisa kukatakan.

Tuhan mengabulkan doaku, Nuri tidak jadi menikah dengan Alit, aku berharap tuhan mengarahkannya padaku. Meskipun hanya setitik kecil, namun kesempatan kembali terbuka. Doaku tetap sama, semoga tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan.

 

“hey Rif aku mau on the way dari bali nih, temenin aku nonton yuk”, ia menyapaku lewat telfon dipagi hari.

Padahal sudah enam bulan berlalu semenjak pernikahannya dengan Irwan, selingkuhannya ketika KKN di bali. Aku pikir tuhan akan mengarahkanku padanya, namu setitik harapan itu sudah sirnah dengan janur kuning yang aku hadiri enam bulan yang lalu. Kami tidak banyak berkomunikasi, namun sepertinya rumah tangganya tidak terlihat begitu harmonis.

Sesampainya di bandung aku diminta untuk menjemputnya, ia ingin berjalan kaki lalu ke tempat tujuan dengan kendaraan angkot. Suaminya tidak begitu menyukai film Harry Potter, padahal itu film favoritnya.

Ia keluar dari kamarnya “yuk berangkat”.

“kamu hamil?” tanyaku sambil kaget.

“iya” jawabnya sambil tersenyum.

“udah berapa bulan?” tanyaku dengan sangat mengotot.

“udah delapan bulan yuk berangkat” jawabnya lalu beranjak keluar dari rumahnya sambil menarik tanganku.

Selama di angkot kami membicarakan banyak hal, ia pergi ke bandung tanpa diantar suaminya, lalu banyak sekali ketidak cocokan antara dia dan suaminya. Seandainya kau hidup bersamaku, aku akan membuatmu bahagia sebahagia mungkin. Aku akan mengantarkan ketempat yang kau mau, membuatmu tertawa dan menikmati film-film yang kau sukai.

Senyumnya membuatku terasa damai meskipun kenyataan yang menimpanya terdengar sangat sakit dihatiku, kita nonton film bersama, duduk di tepi studio seperti layaknya suami istri yang berkencan dimalam minggu. Kami beranjak pulang, langit mendung diikuti dengan tetesan deras air yang mengisyaratkanku untuk mengepakkan payung yang sudah kupersiapkan. Satu payung berdua, benar-benar seperti pasangan suami istri yang sedang berkencan, aku membiarkan badanku terguyur hujan dan membiarkan dia teduh dibawah payung kecilku. Ini impianku semenjak pertama kali bertemu dengannya, setidaknya doaku yang meminta agar Tuhan mempersatukan kita dalam kebahagiaan, sudah terwujud meski dalam keadaan yang tidak kita inginkan. Aku cukup bahagia dengan kesempatan ini, doaku sudah tidak sama, semoga mereka menjadi pasangan yang bahagia melebihi kebahagiaan yang aku lewati bersamanya.