Sudah hampir 1 bulan hidup dengan istriku, rasanya jika mengingat masa-masa waktu pdkt dan pacaran, ada banyak hal yang seandainya ketika itu aku mengenal dia seperti yang aku tau sekarang, mungkin aku akan lebih memaksimalkan hari-hariku bersama dia. Entah mungkin ini hanya awal atau akan selamanya, yang aku rasakan dari pertama bertemu sampai sekarang, perasaanku kepada dia terus meningkat. Gara-gara dia, aku merasa beruntung telah dilahirkan di dunia ini. Aku bermimpi ingin bermain ayunan, main basket, jogging & main ke pantai bersama perempuan yang aku suka. Sempat kecewa karena sampe sekarang aku tidak bisa menjadi seorang penyanyi juga aku sempat drop ketika mimpiku menjadi seorang stand up comedian profesional terhenti karena hal remeh. Dia menjadi satu-satunya mimpi yang terwujud dan menutupi semua kekecewaanku.

Mungkin waktu awal-awal pacaran, aku cuek. Aku termasuk orang yang egois, aku menyukai diriku sendiri lebih daripada yang orang lain lihat. Menyayangi dia rasanya aku harus bersaing dengan menyayangi diriku sendiri. Aku tidak mau disakiti, aku tidak mau menangisi orang yang tidak perlu ditangisi, jika memang dia pantas untuk aku tinggalkan, maka akan aku tinggalkan. Mungkin hubungan ini hanya akan berjalan sekitar 1 atau 2 bulan, namun entah kenapa semakin lama perasaan yang aku curahkan kepada dia grafiknya terus meningkat. Jauh dari dia rasanya seperti sulit bernafas. Takut, hawatir, “sedang apa dia sekarang?”, “apa dia Sudah makan?”. Jatuh sangat dalam kedalam perasaan terhadap seseorang itu rasanya menakutkan. Jika aku membiarkan terus terjatuh sampai aku melampiaskan rasa sayang terhadap dia, mungkin dia akan pergi. Harus ada sistem dalam diri yang secara teknis dapat membagi perasaan emosi sehingga rasa cemas dan rasa terlalu ingin memiliki ini bisa diredam, mereka menyebut itu dengan “saling percaya”. Oleh karena itu bagiku menyayangi seseorang itu tidak mudah, bahkan terkadang itu malah menyakitkan.

Sial, aku kalah.

Lalu mereka bertanya “kapan dong punya anak?”. Semudah itu orang menanyakan hal yang bagiku itu berat. Untuk menyayangi dia aku harus bersaing dengan diriku sendiri, sekarang mereka memintaku untuk menyayangi 2 orang? Mungkin 3 orang? Lalu siapa yang akan menyayangiku? Tidak ada orang yang lebih tau cara menyayangi kita selain diri kita sendiri. Dia wanita yang tidak banyak menuntut, sementara nanti ketika Aku punya anak, aku harus menyayangi anakku dan siap dituntut untuk memberinya rasa aman dalam menjalani hidup, bukankah itu lebih berat? Ya mungkin semua orang bahagia ketika seorang bayi terlahir, lalu bagaimana setelah 17 tahun kedepan? Ketika dia tidak pulang lewat jam 10 malam, apa dia Sudah makan? Sedang apa? Apakah dia dalam keadaan aman? Ah sial whatsapp-ku tidak dibalas sementara dia terus update instagram stories. Sampai suatu saat kami bertengkar karena aku terlalu meluapkan perasaan sayangku dan dia update status di sosial media “aku gak pernah minta dilahirin didunia ini” lalu perasaan sayangku terhadap dia berbalik menjadi rasa sakit yang akan aku rasakan tiap hari.

Entah, bagiku menyayangi seseorang itu berat apalagi menyayangi darah daging kita sendiri.