Aku dengar kabar dia telah putus dengan teman sekelasku. Ingin sekali aku terus terang padanya untuk bilang bahwa aku memang sudah lama menyukainya. Namun aku juga berpikir, mana mungkin secepat itu dia bisa pindah ke lain hati

Sering kita mendengar istila “kata-kata adalah doa”. Ya sayapun berpikir demikian. Mungkin awalnya saya tidak percaya, namun banyak kejadian yang merepresentasikan hal itu. Entah bagai mana formulanya, terkadang kita merasa doa kita lambat dikabulkan oleh Tuhan, namun kata-kata yang kita ucapkan secara terus-menerus malah menjadi kenyataan.

Pertama kali aku menginjakan kaki di kampus, ya kebanyakan orang menilai bahwa kampusku ini adalah kampus yang berisi wanita-wanita cantik, hanya satu wanita yang membuatku tertarik. Dia berkerudung, tidak terlalu tinggi, agak tomboy dan dia memiliki senyum yang manis. Senyum terbaik yang pernah aku liat selama ini. Kerap aku menanyakan kepada sahabatku yang sudah kenal dengan dia. Aku terlalu malu untuk memperlihatkan jati diriku. Temanku memintaku untuk berani, namun berjuta alasan kubuat untuk mempertahankan argumen ketidak beranianku muntuk mendekati dia. “ayolah fan, dia itu baik kok, asik orangnya, enak diajak ngobrol”

“enggak ah, kalo langsung nanya gitu aku gak berani. Seandainya kita sekelas aja, pasti aku berani.” jawabku.

Berkali-kali temanku membujukku, berkali-kali juga aku menjawab dengan jawaban yang sama.

Tak terasa waktu terus berjalan, aku sudah memasuki tahun akhir kuliah di tempat ini. Aku dulu memasuki jurusan Teknik Informatika (TI), aku meneruskan pendidikan ke S1. Peraturan di kampusku jika ingin menempuh pendidikan ke S1 maka harus mendaftar ulang untuk dialokasikan ke STMIK, aku memutuskan mengambil jurusan Informatika (IF) yang katanya mayoritas lelaki dalam satu angkatan dibanding dengan jurusan Sistem Informasi (SI) yang mahasiswinya lebih dominan. Semakin tertutuplah kesempatanku untuk sekelas dengannya.

Sampailah di hari pertama aku memasuki kelas STMIK. Kelas campuran antara jurusan Teknik Informatika (TI) dan jurusan Manajemen Informatika (MI). Seperti biasa, kegiatan yang kami lakukan untuk menunggu dosen adalah duduk lesehan dipinggir kelas. Aku yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temanku sesekali melihat kearah ujung kelas menunggu kedatangan dosen. Namu aku terkejut, Aku melihat dia melangkah berjalan lalu berhenti di barisan kelas kami, lalu dia duduk bersama teman-teman sejurusannya. Ternyata aku sekelas dengan dia, aku tidak menyangka, ini yang selalu aku harapkan. Kata-kataku yang kuucapkan kepada teman dekatku ketika smestar awal, menjadi kenyataan hari ini.

Hari baru aku mulai dengan kelas baru dan teman-teman baru. Namun sudah dua minggu ini, aku masih belum berani berkenalan dengan dia meskipun kita sekelas. Hurup depan namanya yang berurutan dengan hurup depan namaku secara absen membuat kita duduk berdekatan diselangi oleh sahabatnya yang bernama anisa ketika kelas praktek. Kelas praktek adalah kelas yang sangat dibenci oleh perempuan, karena perempuan lebih suka menghapal dari pada menghadapi mata kuliah praktek. Setiap dia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang diberika oleh dosen, ia meminta Anisa agar menanyakan padaku. Entah kenapa, mungkin karena mimik wajahku yang katanya jutek sehingga dia tidak berani bertanya secara langsung padaku. kami tau kami dekat, namun aku tidak punya keberanian untuk memulai pembicaraan dengannya dan entah kenapa, dia yang memiliki karakter periang, mudah bersosialisasi seakan-akan kaku untuk mengenalku.

Suatu hari, aku datang terlalu pagi ke kampus. Aku langsung pergi ke depan kelas. Tidak ada siapapun disana, hanya ada dia sedang duduk dan memainkan handphone nya. Aku yang sangat grogi merasa ragu untuk mendekatinya, namun disisi lain aku juga ingin menyapanya. “hey kamu, bolak-balik terus dari tadi, sini duduk sini.” pertama kalinya dia menyapaku.

Dengan sangat kaku, aku duduk disampingnya “Anisa di kelas mana sekarang?” basa-basi yang payah.

“dia di IF 5”.

“ooh”.

Semenjak hari itu, semakin lama, kami semakin sering mengobrol. Dia sangat menyenangkan, dia sangat membuatku nyaman. Memang penampilan dia sangat berbanding terbalik denganku. Aku berpenampilan sangat cuek, aku tidak tau model rambut apa yang cocok dengan kepalaku, tidak tau bagai mana mix and match pakaian yang aku kenakan, bahkan kadang-kadang jaketku kegombrangan. Payah. Namun dia menciptakan kenyamanan yang sampai sekarang aku belum dapatkan dari wanita manapun. She is the best girl ever.

Momen yang tidak pernah aku lupakan adalah ketika memasuki kelas mikrokontroler. Ketika itu malam-malam memasuki jam kuliah terakhir. Energiku sudah terkuras, rasanya ingin cepat pulang. Aku dan dia satu kelompok, bisa dibilang satu geng. Aku duduk berhadapan dengan dia, ketika dosen menjelaskan, kami malah bercanda tak karuan, kami tertawa, lalu aku melihat dia tersenyum sambil melihat mataku. Aku tersenyum malu membeku, itu pemandangan terindah yang ingin aku lihat berkali-kali. Matanya menyipit, pipinya membulat, sudut bibirnya menajam, dagunya mengerut kebawah, kriteria senyum yang bisa membuatku tak karuan. Aku tidak tau bagaimana jika aku menjadi kekasihnya, ketika aku marah lalu dia memperlihatkan senyum itu, mungkin marahku akan menjadi senyuman balasan.

Dia senang sekali memainkan janggotku, katanya dia ingin memiliki pacar yang brewokan, agar dia bisa memainkan janggotnya, meskipun ketika itu dia sedang berpacaran dengan teman sekelasku. Aku sedikit ke-geeran, sepertinya dia suka padaku, namun aku berpikir lagi, wanita seperti itu memang dekat dengan siapapun. Kadang-kadang kita hanya duduk beruda, menghabiskan waktu dengan membicarakan hal-hal tidak penting, ya hal tidak penting yang membuatku ingin terus menerus mengulangnya. Tidak perlu aku jalan berdua dengannya, mengobrol dengannyapun adalah bagian paling menyenangkan dalam hidpuku.

Aku dengar kabar dia telah putus dengan teman sekelasku. Ingin sekali aku terus terang padanya untuk bilang bahwa aku memang sudah lama menyukainya. Namun aku juga berpikir, mana mungkin secepat itu dia bisa pindah ke lain hati. Aku tidak mau membuat dia jelek dihadapan para lelaki, aku juga tidak mau menyakiti hati teman sekelasku. Aku putuskan untuk menyatakan perasaanku padanya disaat wisuda nanti.

Semenjak dia putus dengan teman sekelasku, kami semakin dekat, pernah aku mengajaknya kencan, dia menerima ajakanku, namun benakku berbicara “secepat itukah kamu melupakan mantanmu?” aku masih tidak yakin. Ya memang aku bodoh dalam menerjemahkan kata hati, aku terlalu banyak berpikir jauh, padahal yang harusnya aku lakukan adalah membuat dia lebih nyaman, karena aku yakin dia sudah merasa nyaman denganku.

Tibalah waktunya, hari ini hari aku dan angkatanku diwisuda. Jalan taman sari terlihat sangat macet, aku dan keluargaku yang pergi dengan mobil, tertahan sampai tak bisa melaju sedikitpun. Akhirnya aku keluar dari mobil dan berjalan menuju sabuga, kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi kemacetan. Aku bertemu dengan teman-temanku yang sudah hampir 1 bulan lebih tidak bertemu. Kami bercengkrama mengenang kebodohan-kebodohan semasa kuliah. Teman dekatku bertanya “fan mana dia? Aku liat terakhir di kampus kamu deket banget dengan dia”

“gak tau, beberapa waktu ini aku jarang komunikasi dengan dia”.

Handphone-ku berbunyi, aku buka, ternyata ada sms dari dia “fan kamu dimana? Aku udah didalam gedung”.

“aku masih diluar sama temen-temen, ntar aku kedalem” balasku.

Semua mahasiswa diminta masuk oleh semua panita wisuda, tidak lupa kami berfoto menyimpan momen mahal yang suatu saat akan kami kenang. Ketika aku hendak masuk gedung, aku bertemu dengan sahabat perempuanku yang juga sahabat dia. “fan dia katanya udah punya cowok lagi ya, gila cepet banget ya, padahal belum 1 bulan dulu putus sama si eka.”

“oh udah punya cowok lagi toh.” dengan nada yang lemas. Badanku lemas, harapanku sirna. Aku kecewa, aku kecewa pada diriku sendiri, aku juga kecewa padanya. Jika memang dia menaruh hati padaku, mengapa tidak bisa menunggu sedikit saja, sedikiit saja!. Aku hanya takut sakit hati, aku takut kami putus lalu dia pergi dengan lelaki baru dalam jangka waktu dekat. Aku hanya tidak siap sakit hati.

Setelah lulus kuliah, kami benar-benar terpisah, namun kami masih berkomunikasi. 3 bulan kemudian aku mendengar kabar dia putus, 1 bulan kemudian dia mendapatkan pacar baru. Siklus yang sama. Mungkin sebagian orang berpikir jika dia adalah player. Namun aku yang sudah dewasa ketika itu berpikir, mungkin dia mencari yang terbaik untuk dijadikan sebagai teman hidup. Terkadang aku menunggu kesempatan kedua yang Tuhan berikan. Aku yang sekarang sudah mengerti, aku sudah siap sakit hati jika suatu saat dia tidak merasa aku bukan yang terbaik untuk dia. Tak apa, karena aku yakin, semasa kuliah dulu, aku bisa membuatnya nyaman.

Meski begitu, aku dan geng-ku semasa kuliah masih tetap memelihara komunikasi kami dengan baik, sesekali ketika hari sabtu kita bermain, nonton atau karokean. Menjemput dan mengantarkan dia pulang sudah menjadi rutinitasku. Tak jarang kami saling bercerita. Aku tau ibunya sedih ketika berkali-kali dia gagal menjalin hubungan, aku juga tau jika kekasih yang dia miliki sekarang adalah lelaki yang sangat sabar menghadapinya, aku juga tau dia sudah lelah untuk terus mencari dan aku juga tau jika kesempatan aku sudah benar-benar lenyap.

Suatu pagi handphone ku berdering. “halo”

“ih aku udah kayak pacar kamu aja, bangunin kamu pagi-pagi gini, cepetan siap-siap, kita kan mau ketemuan”. Sunggu suara yang lembut, pagiku terasa berbeda dari biasanya. Senyum terbentuk dibibirku.

Ya ketika itu aku ada janji dengan dia, katanya dia ingin bertemu denganku untuk memberikan kartu undangan pernikahannya. Aku pikir dulu aku mati rasa, ternyata kenyataan ini masih sulit kuterima. Seperti biasa aku menjemputnya lalu kami mengobrol di sebuah tempat makan bersama teman-temanku yang lain. Aku yang dia temui adalah aku yang sudah berubah. Aku yang sekarang adalah aku yang tau bagaimana cara berdandan, rambutku dipotong rapi, aku menggunakan kaos berlengan panjang, aku menggunakan celana jeans dan sepatu berwarna hitam dengan sedikit garis warna putih di bagian bawah. Aku yang sekarang adalah aku yang bersih, tidak kumuh kucel seperti dulu. Aku yang sekarang juga bukan aku yang kaku, yang terbata-bata dalam menyampaikan kata-kata. Namun dia bilang “kamu sekarang udah berubah ya”.

Ketika aku mengantarkan dia pulang, aku bertanya “tadi katanya aku berubah, maksudnya berubah gimana?”.

“pertama, dari penampilan, kamu sekarang keliatan lebih rapi.”

“loh bagus dong, kalo berubah jadi lebih baik”

“iya emang sekarang kamu keliatan lebih bersih, lebih ganteng. Haha aku aneh aja seorang irfan ngaca sambil benerin rambut, pemandangan yang jarang sekali terjadi”

“haha emang gitu sekarang”

“tapi aku suka kamu yang dulu”

“loh aku yang dulu kan kumuh kucel, jelek, pakaian seadanya, ngomong juga kaku. Dulu juga aku kenal sama kamu gak gampang kan, aku ingin jadi mahluk sosial, aku ingin jadi orang yang asik”

“iya emang dulu kamu jelek, kucel tapi gak tau, aku suka kamu yang dulu. Ya dulu untuk kenal kamu juga susah, selain muka kamu yang agak serem, kamu juga kaku. Tapi aku menikmati proses perkanalan dan pendekatan aku sama kamu, itu menyenangkan fan.”

aku terdiam, aku tak bisa berkata apapun. Aku tidak menyangka wanita seperti dia bisa menghargaiku setinggi itu, dia merasa nyaman dengan lelaki kumuh, kucel, jelek, kaku dibanding dengan teman-teman lelakinya yang ganteng, fun, seru dan menyenangkan. Seharusnya aku menyadari itu sejak dulu. Aku selalu terlambat menerjemahkan keadaan. Aku selalu berpikir, masih banyak wanita yang mungkin jauh lebih baik dari dia. Namun kenyatannya sejauh ini masih belum aku menemukan itu.

Sekarang dia sudah bahagia dengan suaminya, foto-foto yang ia upload di instagram, tweet yang dia ekspresikan menggambarkan kebahagiaan. Terkadang aku buka foto-fotoku dengannya, terbesit aku merindukan senyumnya, yang sekarang tidak akan pernah lagi aku mengartikan itu sebagai kebahagiaan. Doaku terwujud, doa dari kata-kataku terwujud. Aku berkali-kali bilang “jika saja aku bisa sekelas dengannya, aku bisa berkenalan dengannya”. Seandainya juga aku berkata “jika saja Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi, aku bisa menjadi lelaki terbaik untuknya” mungkin itu akan terjadi.