Baru saja aku melihat sebuah video berdurasi kurang dari 5 menit di youtube. Sebenarnya video itu ditujukan untuk para wanita yang gila harta dan didalamnya ada pembelaan dari seorang pria untuk jangan menilai pria dari hartanya. Namun entah kenapa sejenak aku teringat pada keluargaku.

Aku tidak tau keharmonisan keluargaku akan mengarah kemana yang jelas sekarang ibuku sedang merasakan ada yang berbeda dari bapakku. Bapakkupun berperilaku tidak seperti biasanya. Kata “biasanya” disini mungkin sekitar 3 tahun lalu, artinya sudah 3 tahun aku merasakan aura yang berbeda dengan keluargaku yang sekarang. Beberapa kali ibuku sering bercerita tentang sifat bapakku yang berubah, katanya semenjak nenekku kabur.

Emak

Baiklah akan aku ceritakan kronologisnya ketika nenekku kabur. Awalnya nenekku tinggal di rumahnya sendiri di kawasan Cipicung – Bale endah, namun karena beliau pernah dirawat inap karena penyakit jantung akhirnya kami memutuskan untuk mengurus beliau di rumah kami. Entah berapa lama beliau hidup serumah bersama kami, namun dibeberapa hal kami mendapat kesulitan mengurusnya. Ya memang selalu tidak mudah mengurus orang tua. Tidak perlu aku sebutkan bagaimana sulitnya kami mengurus beliau yang jelas kami meminta dia jika ingin sesuatu bilang saja, nanti salah satu dari kami akan memberikannya. Namun pada suatu pagi dia kabur dan kembali ke rumahnya di Cipicung, Alhamdulillah sampai dengan selamat, padahal jaraknya terbilang jauh dari rumah kami di Cimahi. Beliau kabur dengan alasan karena merasa dikekang, tidak boleh melakukan kegiatan apapun dan yang paling aku ingat adalah karena gehu di meja makan piringnya ditutup oleh piring plastik.

“diditumah dahareun oge disumput-sumput, pan emak hayang”

artinya

“disana makanan juga disembunyiin, kan nenek pengen”

Emak (aku memanggil nenekku dengan panggilan emak), bukannya aku tidak sayang sama emak. Kami tidak mengekang emak, kami hanya tidak ingin emak kecapean, kami tidak ingin emak jatuh kepeleset seperti yang sering terjadi di rumah emak sendiri sebelum dirawat di RS, emak boleh kok melakukan kegiatan yang emak suka, oleh karena itu kami kasih emak benang wol dan jarum, katanya emak ingin membuat taplak sendiri. Emak, gehu di meja makan saya tutup dengan piring plastik bukannya ingin saya sembunyikan, tapi karena di rumah banyak lalat, kalo emak pengen silahkan ambil, kami tidak pernah melarang.

Namun beliau lebih memilih untuk hidup sendiri di rumahnya.

Kata ibuku semenjak kejadian itu perilaku bapakku berbeda. Mungkin ada benarnya, namun dalam hatiku “ah masa sih gara-gara itu” kami sudah berkeluarga sekitar 20 tahun lebih, masa masalah gitu aja gak bisa saling mengerti, lagian selama emak tinggal di rumah juga bapak jarang ngobrol dengan beliau, aneh jika bapakku berpikir seperti itu, menyalahkan kepada ibuku padahal dia sendiri tidak mengurus emak se-intens ibuku, aku yakin bukan itu alasannya.

Bapak

Sifatnya berubah, dia tidak lagi riang selama tinggal di rumah, jarang sekali aku melihat dia tertawa. Akhir-akhir ini dia semakin menyendiri, dia sering menghabiskan waktu di kantor (kamar di lantai atas yang dijadikan ruangan kerja yang berada di sebelah kamarku). Mungkin dia bisa berada di sana dari pagi sampai tengah malam, sesekali turun ke ruang keluarga hanya untuk makan saja. Ibuku selalu curiga padanya, melihat handphone-nya yang selalu dia simpan di saku tidak ingin ada orang lain yang melihatnya ditambah dia sering menyendiri di ruang kerjanya.

Ibuku sering bertanya “Bapak ngapain sih lama-lama diatas?” kepadaku.

Namun aku diam saja. Aku hanya bisa berpikir positif, dia dikantornya karena banyak kerjaan. Sampai suatu malam sekitar pukul 23.30 sepulang aku dari acara nongkrong bersama teman-temanku, aku jatuh dari motor, tangan kiriku terkilir. 3 hari kemudian aku diantar oleh bapakku ke rumah temannya (bapakku seorang guru) yang katanya kenal dengan orang yang dapat memperbaiki tangan yang terkilir. Disana bapakku ngobrol dengan katakanlah bu Rina (Aku lupa namanya), disana dia bersenda gurau tertawa, aku pun ikut tertawa. Bu Rina menyuguhi kami kerupuk pedas lalu kembali ke dapur untuk mengambil air minum.

bapakku mengambil satu kerupuk tersebut, lalu digigitnya “Fan ini mah kerupuknya liat” artinya “Fan ini kerupuknya melempem”.

“yaudah jangan dimakan”

Lalu dia hendak menyimpannya di tupperware tempat kerupuk pedas tersebut. Ku bilang “Jangan disimpen lagi!”

akhirnya disimpan lah kerupuk itu sehingga berada bersama kerupuk lainnya. kubilang “Aduhh!!” sambil nepuk jidat.

“yah terlanjur” jawabnya.

“Yaudah kocok-kocok dulu biar gak ketauan”

Akhirnya dia kocok-kocok tupperware itu sampai kerukupuk itu benar-benar berbaur dengan kerupuk lainnya sambil tertawa menertawai kelakuan kami berdua.

Itu pertama kalinya aku melihat dia tertawa lagi.

Setiap bapakku pulang ke rumah, aku selalu merasa sedih ketika ibuku memberikan perlakuan yang berbeda terhadapnya.

Ibuku selalu bilang “Ibu udah bilang bapak maunya apa, tapi dia malah diem aja, yaudah terserah”.

Seandainya ibu tau bahwa kehidupan di kantornya bersama teman-temannya lebih menyenangkan dibanding kehidupan bersama kami, mungkin ibu akan mengerti. Entah sebenarnya apa yang merubah, yang jelas perilakunya di-luar rumah berbeda dengan di dalam rumah. Mungkin pernah dia lelah karena bekerja, namun tidak ada yang menyambutnya di rumah. Mungkin pernah dia merasa ingin ngopi, namun ibu cuek. Mungkin pernah dia ingin bersenda gurau, namun kami malah sibuk nonton TV.

Oh maaf, air mataku menetes.

Setiap dia pulang, aku selalu berusaha berada di ruang tengah, sengaja ingin menyambutnya. Aku juga sengaja memegang remote TV, agar aku bisa nonton bareng sepak bola bersama bapak, ibu kan bisa nonton Abad Kejayaan di kamar. Aku sengaja mengajaknya membicarakan tentang politik, agar dia punya teman ngobrol. Bahkan aku sengaja mengomentari iklan-iklan yang tidak penting, sekedar untuk membuatnya tertawa. Aku selalu berusaha membuat kehidupan bapak diluar sana sama menyenangkannya dengan kehidupan di dalam rumah.

Ibu

Sepanjang hari aku habiskan hari bersama ibuku. Ibuku pernah bilang

“Ibu bukan tipe perempuan yang nyaman nongkrong, lebih baik tidur di rumah”

Setiap aku pulang kantor lebih awal, aku membawakannya sebuah film yang kusimpan di harddisk external-ku. Aku sengaja men-download-nya di kantor agar aku bisa menemani ibuku nonton film, agar dia tidak merasa kesepian. Bisa dibilang aku lebih sering bercanda dengan beliau daripada dengan bapak. Ya karena waktu baersama bapak lebih sedikit dibanding bersama ibu. Aku tau ibu merasa sendiri semenjak perilaku bapak berubah. Namun ibu jangan khawatir, masih ada aku yang bisa membuat ibu tertawa. Terkadang ketika ibuku membicarakan hal negatif tentang bapak, aku tidak ingin berpihak. Aku selalu bilang jika “Mungkin bapak lagi seneng kerja”. Lalu ibuku diam, mungkin dia tidak terima, namun apa yang aku katakan itu benar.

Ibuku sering menyinggung “irfan kapan nikah?”

namun aku selalu bilang “Nanti sebentar lagi, irfan masih betah dengan kegiatan irfan”

Jika aku menikah nanti, rasa cintaku akan terbagi. Tentunya tanggung jawabku bertambah, yaitu membahagiakan pasanganku. Aku akan membuatnya bahagia, aku akan melindunginya, aku akan membuat dia nyaman berada di dekatku. Bagaimana jika aku harus tinggal di suatu tempat yang mengharuskanku berpisah dengan ibu? apakah ibu sudah siap dengan hal itu? jika memang aku tidak serumah lagi dengan ibu, siapa yang akan menemani ibu menonton film? siapa juga yang akan membuat ibu tertawa lagi? lalu siapa orang yang akan mendengarkan curhatan ibu tentang bapak namun tidak memihak? Maaf, air mataku menetes lagi.

Adikku

Tidak banyak yang ingin saya sampaikan dengan dia. Dia sekarang berada pada comfort zone-nya. Aku tidak terlalu khawatir dengan dia. Aku yakin dia akan menjadi orang yang lebih baik dari kakaknya.