Hampir satu tahun setelah kepergian ayanhnya, Dian tidak pernah mengatakan kata maaf sekalipun. Dalam benaknya, semua hal yang berhubungan dengan maaf selalu menyakitkan.

Photobucket

Pagi yang sangat sejuk, kaca berembun dan alarm pun mulai berdering. waktunya untuk Dian melaksanakan ibadah solat subuh. Dian seorang gadis tomboy yang baru saja lulus kuliah dengan gelar sarjana seni. Ia selalu mengawali pagi hari dengan melakukan ibadah solat subuh tepat setelah adzan subuh berkumandang.

Semasa kuliah, Dian termasuk golongan mahasiswa yang aktif dan cerdas, ia mendapat pekerjaan sebelum lulus kuliah sebagai Photographer di suatu majalah. Dengan setengah mengantuk Dian mengambil air wudhu dan menuju ke mushola rumah. Ibunya sudah menunggu dengan berpakaian mukena putih terduduk diatas sajadah pemberian ayahnya. Setiap setelah solat ibunya selalu berkata “Maaf Dian untuk hari ini”. Tetapi Dian tidak membalas dengan kata maaf, Dian hanya tertunduk lalu pergi bersiap-siap untuk bekerja.

Hampir satu tahun setelah kepergian ayanhnya, Dian tidak pernah mengatakan kata maaf sekalipun. Dalam benaknya, semua hal yang berhubungan dengan maaf selalu menyakitkan. Ketika cintanya kandas dengan seorang pria yang sangat dia cintai, ketika ditinggal pergi sahabatnya, Bahkan ketika hembusan nafas terakhir ayanya, kata maaf selalu terucap. Maaf sangat menyakitkan banginya.

Hari-hari berikutnya Dian menghiasi hari dengan kegiatan yang sama. Mengambil air wudhu, solat berjamaah bersama ibunya, mendengar ucapan maaf dari ibunya dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Walaupun kata maaf selalu menjadi mimpi buruk baginya, ia selalu bersemangat ketika berada di kantor. Keramahan teman-teman kantornya sejenak menghangatkan suasana hati yang dipenuhi memory kesedihan akan kepergian ayahnya. Dian sangat menyukai pekerjaannya, ia tidak jarang pergi berkeliling mencari objek yang kemudian akan diterbitkan di majalah.

Sampailah pukul lima sore, saatnya Dian pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam bersama ibunya. Ia sangat mencintai ibunya, karena hanya ibu lah satu-satunya cinta yang tidak pernah hilang sekalipun telah tertimbun dengan sejuta kata maaf yang terucap.

Keesokan harinya, Dian Mengambil air wudhu, solat berjamaah bersama ibunya, mendengar ucapan maaf dari ibunya lalu bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ketika berangkat menuju kantor, Dian merasa ada sesuatu yang berbeda dihari itu. Perasaan yang tidak biasa ia rasakan dan sangat mengganggu. Dian merasa kata maaf yang terucap dari ibu hari ini tidak sama dengan kata maaf dihari biasanya, walaupu tidak ada yang berubah dari kata maaf yang diucapkan ibunya. Dian selalu teringat wajah ibunya disela-sela kekosongan pikirannya. kebetulan hari itu tanggal 22 Januari 2012 terjadinya peristiwa tugu tani di Jakarta pusat yaitu terjadinya peristiwa penabrakan pejalan kaki oleh mobil sedan hitam yang menelan 13 korban. Satu hal yang yang sangat membuat hatinya tidak karuan, Dian menemukan berita bahwa ada salah satu korban yang mengucapkan kata maaf melalui facebook satu hari sebelum peristiwa itu terjadi. Dian hanya terdiam, badannya seolah-olah membeku. Sejenak Dian beranjak mengambil air hangat, ia mendengar celotehan teman-teman kerjanya “emang dasar ya, orang yang udah bilang maaf itu idientik dengan kematian, makanya gi gue siap-siap berkabung kalo lu minta maaf sama gue.. hahaha”. Tiba-tiba terbesit wajah ibunya yang tersenyum sambil berkata maaf, tangannya bergetar menjatuhkan dan memecahkan gelasnya, sekejap Dian berlari keluar kantor dan pulang kerumah. Dian sangat tergesa-gesa, sampai-sampai dia tidak sempat menjawab sapaan teman-temannya. Sesampainya dirumah Dian memeluk ibunya yang sedang memasak, ibunya terkejut “Ada apa nak..??” tanya ibunya.

“ibu tidak apa-apa..??” Dian bertanya.

Menatap kearah matanya yang berkaca-kaca, ibunya tersenyum menyibak kesedihan anaknya. Dengan tenang ibunya menjawab “iya ibu tidak apa-apa, ada apa ini?? ibu sampe kaget”

“ibu aku sangan menyayangi ibu, aku minta maaf karena tidak pernah menjawab maaf dari ibu, Dian minta maaf bu.”

Ibunya tediam, ibunya hanya bisa memandang kearah mata Dian tanpa berkata apa-apa, perlahan mata sang ibu berkaca-kaca, sedikit demi sedikit air mata ibu berlinang dan perlahan melengkungkan senyuman, ini pertama kalinya Dian mengucapkan kata maaf semenjak kepergian ayahnya.

“iya nak ibu juga sayang  kamu, ibu sangat mencintai kamu, ibu tidak apa-apa disini seperti biasanya, kamu tidak usah khawatir, lebih baik lanjutkan kerjamu” sambil tersenym dan berlinang air mata.

Keesokan harinya, Adzan subuh berkumandang. Dengan setengah mengantuk Dian mengambil air wudhu dan menuju ke mushola rumah. Ibunya sudah menunggu dengan berpakaian mukena putih terduduk diatas sajadah pemberian ayahnya. setelah sholat ibunya berkata “Maaf Dian untuk hari ini”

Dian menatap ibunya dengan lembut dan penuh kasih sayang, lalu menggenggam dan mengusap tangan ibunya “iya bu, maafkan Dian juga” lalu tersenyum .

Hari-hari terasa ringan, Dian lebih sering memamerkan senyuman lepas disetiap kesempatan. Alangkah indahnya hari-hari ketika mengingat wajah ibunya yang berseri ketika ia membalas ucapan maaf ibunya.

kebetulan hari ini ada pemotretan untuk desain majalah baru dengan tema senyum, Dian harus berburu objek untuk mengumpulkan bahan yang akan diterapkan di majalah kantor. Dian mulai mengangkat kameranya dan mengintip objek melalui lensanya. Dian terus melangkahkan kakinya dari satu titik ke titik lain, satu demi satu ia curi berbagai ekspresi kedalam kameranya. Dian melihat seorang pengemis yang kelaparan meminta secuil nasi dengan diacuhkan oleh wajah-wajah yang merendahkan, ia juga melihat senyuman riang seorang anak yang bermain pasir, ia juga melihat seorang priya berpakaian rapih membaca koran seakan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Dian mengarahkan kameranya ke sudut taman, ia melihat seorang lelaki berkupluk dan mengenakan jaket jeans biru berlari kearahnya sambil berteriak “awaaaaas !!!”

Dian tercengang, lalu ia mendengar suara dengungan kencang yang membuatnya semakin terkejut. Dian mulai panik dan melihat kearah sekelilingnya, ia melihat truk besar menuju kearahnya dengan cepat.

Kameranya terjatuh, orang-orang disekitar berteriak, tubuhnya melayang. Dian tersenyum, dalam hatinya “aku melihat langit tersenyum.. aku melihat teman-teman tersenyum.. aku melihat ibu tersenyum. Maaf aku sering menyalah gunakan senyuman kalian.. maaf aku menyepelekan kata maaf dari kalian.. ibu apakah aku pantas mendapat kata maaf?.. Apakah aku pantas berkata maaf?.. Ibu… maaf untuk kata maaf hari ini.”