Ketika hendak duduk ada seorang wanita berambut panjang terurai lurus, berkulit putih, berbibir merah tipis sedang menghadap jendela bis.

“permisi, ikut duduk disini ya”

Jaket yang basah menjatuh berat karena air hujan menempel erat ditubuh Alvin, dia baru saja pulang dengan kecewa, badannya terasa lemas, langkah kakinya terasa berat dan ragu. Dia baru saja menemui seorang wanita baik yang ia impikan, namun pertemuannya yang ke 8 ini tidak bisa mengarahkan hatinya untuk menyukai wanita itu. Sudah hampir 12 tahun Alvin tidak bisa menemukan wanita yang membuatnya jatuh cinta seperti ketika ia masih SMP dulu, ia sudah menyiapkan VCD Box westlife yang juga berisi CD video ucapan tentang perasaannya kepada seorang jika suatu saat ia jatuh cinta kepada wanita impiannya. Namun sampai saat ini belum ada wanita yang menurutnya pantas menerima souvenier itu. Rasa bersalah terus menghantuinya ketika ia tidak peka dalam menerjemahkan teka-teki yang digambarkan oleh Wulan.

Pertemuan mereka berawal ketika Alvin masih kelas 6 SD, dia dihukum keluar kelas dan berlari mengelilingi lapangan upacara karena lupa membawa buku Pekerjaan Rumahnya. Ketika baru saja Alvin keluar kelas, tepat dihadapannya seorang wanita sedang bersandar ditembok kelas sebrang, berambut sebahu, berkulit putih dengan senyumnya yang menawan. Alvin tidak ingin mengedipkan matanya karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun keindahan yang ada dihadapannya. Sejenak Alvin tidak bergerak, wanita itu tersenyum “hay kamu dihukum juga?”

Alvin semakin gemetar, badannya membekku namun berusaha berbicara “i.. iya”.

Lalu senyum wanita itu melebar ”waah sama dong hehehe”.

Alvin membalas senyumnya dengan gugup.

Tanpa menghapus senyumnya wanita itu mendekat lalu menyodorkan tangannya “Wulan” masih terhias dengan senyum manisnya.

Dengan pelan Alvin menyentuh dan menjabat tangannya “Alvin”.

Mereka melanjutkan waktu hukuman dengan riang, berlari mengelilingi lapangan dengan obrolan ringan sambil terengah-engah dan berkeringat.

“apa musik favoritmu?” tanya Alvin dengan terengah-engah dan kaku.

“musik pop, aku suka banget sama westlife” jawab Wulan dengan nafas yang berat sambil mengusap keringat di keningnya.

Sekejap mata Alvin membesar “waaah sama dong, tau lagu ini gak? Can’t believe that I’m a fool again” Alvin bernyanyi sambil terengah-engah.

“Fool Again!!” Potong Wulan.

Tak terasa mereka sudah berlari 14 keliling meskipun guru mereka hanya meminta 10 keliling. Mereka melalui masa hukuman dengan riang dan senang, sampai akhirnya mereka kembali  ke kelas masing-masing. Ketika Alvin hendak masuk kelas ada satu hal yang ia lupa, ia berbalik kearah kelas sebrang, namun Wulan sudah masuk kelas. Ia lupa menanyakan alamat rumahnya, ia sangat kecewa karena hari esok sudah mulai ujian akhir sekolah yang berarti kelas mereka akan diacak, kemungkinan untuk bertemu sangat kecil.

2 Tahun berikutnya, kegiatan alvin masih sama, sekolah dan mengaji. Ia belajar di madrasah pengajian rutin sore hari, mereka menyebutnya TKA dan TPA. Entah apa yang direncanakan tuhan, guru ngaji memperkenalkan seorang santriwati baru.

“Assalamualaikum, sebelum kita mulai belajar Tarikh, kita kedatangan santriwati baru. Silahkan perkenalkan dirimu” Bu Nur mempersilahkan santriwati baru.

“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Wulan, Saya baru saja pindah dari Cibeureum. Mohon bantuannya ya teman-teman” Cakap Wulan.

Alvin yang sedang mencoret-coret kertas buramnya tercengkat, dengan cepat dia menoleh kearah depan. Matanya membesar sejenak dia berbicara dalam hati “inikah takdir?”. Hal yang sama terjadi seperti ketika pertama kali Alvin mengenalnya, ia sedikitpun tidak berkedip. Wulan yang berada di depan kelas sesekali melihat ke arah Alvin, seakan dia menemukan apa yang ia cari, dia pun tersenyum. Menyadari Alvin sedang diperhatikan oleh Wulan, ia tiba-tiba salah tingkah dan membuang pandangannya ke kertas buramnya meskipun sebenarnya ia ingin lebih lama menikmati pemandangan terindah yang ada di hadapannya.

Seiring waktu berlalu, kedekatan Alvin dengan Wulan semakin erat. Alvin seorang laki-laki yang tidak bisa memperlihatkan perasaanya secara langsung kepada Wulan terlihat cocok karena Wulan adalah wanita yang senang mengekpresikan perasaannya. Kesamaan yang menghiasi kedekatan mereka kerap menjadi kenyamanan yang membuat mereka ingin lebih lama lagi berada di titik itu. Suatu saat setelah 2 bulan mereka dekat, Alvin tidak lagi melihat keberadaan Wulan, ia tidak melihatnya di sekolah dan di madrasah, sampai suatu ketika ada berita yang mengatakan bahwa Wulan sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit lambung dan akan segera dioprasi. Alvin menganggap itu hanya berita gosip, karena ia menyadari teman-teman tongkrongannya suka asal bicara.

Suatu saat ia sedang mengaji dan bertanya kepada Tresna teman Wulan tentang apa yang terjadi pada Wulan, ternyata benar Wulan akan segera dioprasi lambung hari ini. Alvin terkaget, matanya melebar, denyut jantungnya mengencang. Entah apa yang ia pikirkan sehingga menganggap berita dari teman-temannya itu bohong. Keesokan harinya Alvin berencana menengok Wulan dengan membeli VCD Westlife sebagai tanda dukungannya kepada Wulan untuk terus bertarung dengan penyakitnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, ia mendengar berita jika Wulan sudah bisa dijenguk di rumahnya, ia mendapat berita itu dari Tresna yang ia temu tadi sore. Nampaknya keadaan Wulan sudah membaik, perasaan itu memicu senyum kecil Alvin yang hendak berangkat menjenguk Wulan dengan bermodalkan VCD Westlife. Ketika ia hendak membuka pintu, terdengar suara ketukan dari luar. Alvin membukanya. Terlihat wajah lesu dari Tresna diteman dua orang temannya.

“ada apa Tres” tanya Alvin dengan tegas.

“Alvin… Wulan” ucapnya dengan sendu.

“Wulan kenapa?” Tanya Alvin dengan lebih tegas dan penasaran.

“Wulan udah gak ada.. Wulan udah meninggal barusan.” Air matapun mengalir dengan deras dari mata Tesna.

Badan Alvin gemetar, jantungnya berdnyut lebih cepat dari biasanya, waktu terasa berhenti, matanya membesar, kantung matanya menebal seakan tak cukup menahan air mata sampai semuanya tumpah mengalir dipipinya. Tangannya lemas, VCD Westlife yang ia genggam dengan eratpun terjatuh. Benar-benar momen menyakitkan yang sangat tidak terlupakan dan sulit untuk dilupakan olehnya. Langit seakan runtuh, kenyamanan, kesamaan dan perasaan cinta yang baru saja ia rasakan sirnah begitu saja terpisah oleh takdir yang disiratkan Tuhan.

Sudah berkali-kali Alvin berusaha mencari wantia yang bisa melupakan kenangan Wulan yang menyakitkan, namun tidak ada satupun yang berhasil. Sekarang Alvin bekerja di suatu perusahaan telekomunikasi sebagai manager. Ia biasa berangkat menggunakan bis ke tempat kerjanya, lagu-lagu westlife adalah musik yang selalu menemaninya diperjalanan meskipun lagu itu sudah sangat lawas. Ia mencari tempat duduk favoritnya didekat kaca jendela bis, namun sepertinya semua sudah terisi, ia melihat kursi kosong yang dapat ia duduki meskipun itu bukan tempat favoritnya. Ketika hendak duduk ada seorang wanita berambut panjang terurai lurus, berkulit putih, berbibir merah tipis sedang menghadap jendela bis.

“permisi, ikut duduk disini ya” sapa Alvin

Wanita itu menoleh kearanya dan tersenyum “boleh, silahkan”

Alvin tidak menyadari jika wanita disampingnya itu wanita yang menarik, sejenakpun alvin berpikir bahwa wanita yang berada disebelahnya adalah wanita yang menarik namun ia mengabaikan itu. Pengamen dengan suara sengau yang menghampirinya benar-benar mengganggu, kemudian ia memperbesar volume Ipod-nya, sementara wanita disebelahnya memberikan sedikit receh untuk pengamen tersebut.

Lagu Westlife yang sedang Alvin nikamti dengan volume tinggi membuat pendengarannya terpusat pada Ipod-nya. Seakan-akan semua yang bergerak dimatanya hanya dilatari dengan suara lagu-lagu yang selalu ia dengar, sampai ia tersadar ada seseorang yang menyadarkannya. Dengan kaget Alvin membuka headset yang tertancap erat di telinganya.

“itu walgu westlife ya?” tanya wanita disebelahnya.

“iya” jawab Alvin dengan wajah acuhnya.

“fool again kan judulnya” balas wanitu itu dengan semangat dihiasi senyum yang lebar seakan ia menemukan harta yang ia cari

“iya bener banget, kok bisa tau?” tanya Alvin denga sedikit senyum.

wanit itu kemudian bernyanyi.  “Can’t  Believe that I’m a fool again”

perlahan wajah Alvin melentur, senyumnya mulai menampak, ia merasa semangat, kemudian ia menyambung liriknya “I thought this love would never end”.

Kemudian wanita itu menyambungnya “how was I  to know”

Lalu mereka menyanyikannya dengan bersamaan “you never told me!!” sekejap merek tertawa lepas. Baru sekarang ada seorang wanita yang membuatnya tertawa lepas.

Alvin menyodorkan tangannya “Alvin”.

Lalu wanita itu menyambut tangannya “Andin” masih dengan tawa yang tersisa.

Bis tersebut menjadi media mengobrol panjang lebar, banyak hal yang mereka bicarakan, dari mulai musik sampai hobi. Mereka tiada henti berbicara dan tertawa, Andin membuat pembicaraan menarik, begitupun dengan Alvin yang sering sekali melempar lelucon-lelucon kecil seakan mereka tidak perlu memikirkan apa topik yang akan mereka bicarakan selanjutnya. Obrolan mereka lama-kelamaan mengarah ke topik tentang pekerjaan, ternyata Andin bekerja di kantor yang sama dengan Alvin. Andin baru bekerja 3 hari di gedung lantai 4, sementara Alvin bekerja di lantai 2.

Kedekatan mereka terus berlangsung, pulang bersama menggunakan bis menjadi rutinitas tak tergantikan. Rumah mereka searah, berhenti di terminal bis yang sama, setelah itu mereka berpisah ke rumah masing-masing.  Alvin merasa lebih bersemangat untuk bekerja, ia tidak pernah merasa senyaman ini berada di kantor. Ketika makan siang mereka bertemu dan menghabiskan waktu setengah jam istirahat dengan bersenda gurau dan membicarakan tentang diri mereka masing-masing, bahkan seringkali mereka lupa jika masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak terasa sudah 2 bulan mereka sedekat ini.

Pagi hari masih dengan semangat yang sama, Alvin merapihkan pakaian kemeja berwarna biru mudanya di depan cermin, dengan sedikit menempelkan jel  di rambut lurusnya kemudian ia berputar melihat keseluruhan penampilannya, sudah cukup rapih, saatnya berangkat. Seperti biasa mereka janjian di depan terminal bis. Sudah pukul 07.20 namun Andin belum nampak, Alvin memutuskan untuk naik bis duluan. Kali ini ia duduk di dekat kaca jendela bis yang biasa ditempati Andin. Sesampainya di kantor, ingin sekali menanyakan kemana saja kamu kepada Andin, namun katanya Andin tidak masuk kantor, ia berusaha menghubungi handphone-nya namun tidak aktif. Ia menanyakan ke bagian absensi kantor, namun ternyata memang tidak ada kabar.

Ini sudah hari ke 4 Andin tidak ia temui di terminal bis, begitupun dengan kabar dari kantor, sama sekali tidak ada kabar darinya, padahal ia sudah mendapatkan nomor handphone-nya namun tetap saja tidak aktif. Jam istirahatpun ia lalui tanpa Andin seperti 3 hari sebelumnya, padahal baru 4 hari, namaun rasa sepi itu sangat terasa sesak didadanya juga karena dihampiri rasa gelisah, kekhawatiran yang ia rasakan. Alvin merasa aneh kepada dirinya sendiri, sudah bertahun-tahun ia hidup sendiri, namun mengapa saat ini ia merasa sangat kesepian. Waktu berlalu sangat lambat, jam pulang kantor menjadi waktu yang sangat ia tunggu, tidak ada lagi yang harus ia lakukan di kantor selain pulang dan beristirahat. Seperti biasa Alvin beranjak pulang dengan menggunakan bis, ia menempelkan headset ditelinganya, lalu mendengarkan lagu-lagu westlife pilihannya. Ketika mendengar lagu fool again, ia teringat akan andin, ia menyadari bahwa hari berkualitas yang ia jalani bersamanya sama persis seperti yang ia rasakan seperti ketika 12 tahun yang lalu saat bersama Wulan. Alvin semakin gelisah menyadari Andin menghilang tanpa kabar, ia takut kejadian 12 tahun yang lalu terulang kembali.

Sesampainya di terminal bis, Alvin berlari ke rumah dan mengambil VCD Westlife yang telah lama disiapkannya untuk wanita yang benar-benar ia cintai, lalu ia kembali berlari kearah kostan Andin. Alvin memilih kendaraan umum yang tepat namun jalanan macet, sehingga ia memutuskan berlari. Hujan pun turun sangat deras, ia berlari sambil melindungi VCDnya dibalik jaket. Sesampainya di kostan Andin ia mengetuk pintu ruangan Andin, sudah 3 kali ia ketuk namun tidak ada yang keluar. Akhirnya ia menaruh VCD tersebut di depan pintu kostan lalu memutuskan untk kembali pulang dengan lesu. Ia terus berjalan keluar kostan meskipun keadaan masih hujan sangat deras. Air huja terus membasahi rambutnya semakin kencang sehingga mengganggu pandangannya, terdengar suara klakson sangat bising, Alvin menoleh kearah kanan ia melihat cahaya yang sangat menghalangi pandangannya, sekejap Alvin terpental. Mobil jeep menabraknya.

Semua terasa gelap Alvin terus berlari, namun tidak ada yang berubah semua masih tetap gelap. Ia memutar penglihatannya ke semua arah, ada setitik cahaya, ia berlari kearah cahaya itu, cahaya itu membesar dan bersinar. Sesampainya di cahaya itu, semua terlihat terang, ia berbalik. Matanya berkaca-kaca, sosok Wulan muncul dihadapannya.

“Wulan?” Alvin bertanya.

“tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.” Jawab Wulan.

“maafkan aku, aku sangat mencintaimu” dengan tangis yang semakin tumpah.

“kamu sudah menemukan cintamu sekarang. Lupakan aku, aku juga mencintaimu buatlah kebahagiaan barumu” senyuman khas Wulan menghiasi kata-kata manisnya.

Alvin hanya menangis semakin kencang. Sekejap dia mendengarkan suara lain.

“Alvin… Alvin!!! Alvin!!! Banguun!!” Alvin mencari suara itu. Ia kembali mekihat kearah Wulan, namun ia sudah menghilang.

“Alvin!!!” teriakan itu membuat semua menjadi redup kembali.

“Alvin!!!”.

Alvin membuka matanya, pemandangan buram memudar menjadi bentuk yang jelas, terbentuk wajah seorang wanita berambut panjang terurai lurus, berkulit putih, berbibir merah tipis. A..Andin. Mata Alvin semakin melebar, dengan jelas ia melihat Andin di hadapannya.

“Alvin, iya aku mencintaimu” lanjut Andin dengan memegang VCD Westlife pemberianya.

Alvin tercengan mendengar kata itu, pertama kali ia tersadar ia mendengar kata itu, Kata yang terasa damai di dalam hati, dihiasi senyuman manis seorang wanita yang ia sadari banyak mengubah hari-harinya menjadi berarti.

“aku melihat kamu meneteskan air mata, aku pikir itu tanda-tanda kalo kamu akan sadar, ternyata benar” lalu Andin menggenggam erat jemari Alvin dengan sedikit menetaskan air mata, lalu mencium tangannya.

“maaf aku tidak mengabarimu, seminggu yang lalu, aku pulang ke surabaya karena adikku sedang sakit dan dirawat. Aku kembali ke bandung dan mendengar kabar kalo kamu lagi dirawat. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari.”

Alvin hanya bisa tersenyum, lalu kembali meneteskan air mata. Ia menyadari bahwa tuhan sudah menyiapkan yang terindah dibalik memorinya bersama Wulan. Ia merasa malu ketika teringat kemarahannya kepada Tuhan karena menrenggut orang yang ia cintai.