applause

Tiba-tiba aku mengenakan pakaian SMA, aku melihat sekelilingku, dipenuhi oleh anak-anak SMA. Oohh.. mungkin peran aku kali ini adalah siswa SMA. Disana banyak sekali orang yang aku kenal, mulai dari teman-teman SD ku, teman-teman SMP ku, aneh.. dan satu sahabatku suatu aku duduk di bangku STM namanya Pariz. Kita duduk diatas kursi dengan alas tulis yang melingkar mengitari kursi tersebut. kita saling bercanda bersenda gurau selayaknya anak SMA yang tidak pernah saya dapatkan, aku menoleh ke kanan, ada seorang wanita yang tersenyum padaku, dia bu Ine temen kerja aku waktu dulu punten bu ine. Sepertinya bu Ine sedang berperan sebagai p*****ku haha.. punteeen pisan bu ine.

Suasana kelas sangat menyenangkan seakan seperti nyata. Aku melihat kearah papan tulis yang berwarna putih dihiasi corat-coret ejekan nama panggilan anak-anak. Seseorang muncul dari arah pintu kelas dengan derap langkah yang tegas, dia duduk di meja guru dengan suara yang besar namun wajah yang bersahabat dialah pak Ketut dosen jaringan ku dimasa aku kuliah.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi semua..”

“Wa’alaikumussalam pak guru selamat pagiiiiiii..” kita menjawab dengan semangat.

“baiklah pada kesempatan dipagi hari ini saya umumkan lima nama yang akan mewakili kelas ini menjadi penggagas pertanyaan untuk materi kita hari ini yaitu Ryan, Anggi, Rita, Lastri dan Irfan”.

Namaku disebut..?? aku merasa sangat terkejut, aku yang tidak pernah berprestasi di bidang akademik merasa sangat terkejut. Bu ine tepuk tangan dan memberikan semangat kepadaku thank you bu ine.. haha.

Pelajaranpun dimulai dengan suasana yang sepi, semua hening dengan kerutan diantara halis dan keningnya. Tema pada waktu itu adalah tentang banjir, tibalah saatnya untuk menjadi penggagas pertanyaan.

“yang namanya tadi disebut, diam dikelas! yang tidak silahkan menunggu diluar dulu” pa Ketut mengumumkan dengan tegas.

Aku diam di kelas sementara siswa / siswi lain diam diluar.

“kalian harus memberikan pertanyaan pada teman-teman kalian yang berada diluar. Silahkan diskusikan dan pertanyaan terbaik akan menjadi pertanyaan untuk teman-teman kalian”tegas pak Ketut.

Semua teman-teman berdiskusi satu sama lain, aku merasa sangat berisik disini, akupun memisahkan diri ke sudut kelas dengan menghadap ke tembok kelas. Semua orang menggagaskan pertanyaannya masing-masing ke pak ketut.

“Saya sudah dapat pertanyaannya pak.” Dengan nada yang keras.

“iya irfan, silahkan sampaikan pertanyaanmu.”

“ada dua orang warga desa, mereka berada di lingkungan yang kumuh, mereka selaku membuang sampah ke belakang rumah warga. Lalu mereka membakarnya. Setiap kali mereka membuang sampah mereka selalu membakarnya, sehingga api tersebut menguap menjadi awan dan menimbulkan hujan asam. Pak kira-kira membakar sampah akan terjadi hujan asam ga..??”aku bertanya.

“kayanya engga deh fan.”jawab pak Ketut diiringi suara teman-teman yang mentertawakan ideku.

“oke deh pak. Ga jadi hujan asamnya”teman-teman semaki tertawa terbahak-bahak.

“dua orang warga desa tersebut berteduk kedalam rumah, mereka melakukan kegiatan didalam rumah, karena hujan yang tidak berhenti airpun muncul dari sela-sela rumah dan lama-kelamaan air tersebut semakin tinggi, pertanyaannya apa hal pertama yang harus dilakukan dua warga tersebut untuk menanggulangi banjir?”

“pertanyaan bagus fan, bagus sekali pertanyaannya, diantara yang lain pertanyaanmu paling bagus”

“yeeeeeeeeeeeeeeeee prok..prok..prok.” teman-teman bersorak sambil bertepuk tangan.

Aku terdiam, melihat wajah teman-temanku, tanpa sadar… air mata jatuh dari pipiku…, sedikit demi sedikit bibirku… bibirku… melengkung keatas :). Aku melihat wajah temanku yang penuh dengan apresiasi membuatku bagaikan menghirup udara segar.

“Anggi suruh teman-temanmu yang diluar untuk masuk!”. Mereka berarak memasuki kelas.

“Irfan silahkan tulis pertanyaanmu didepan!”

“ciiiiieeeeeeee… prok..prok..prok..”. sekelas teman-temanku bersorak dan bertepuktangan kepadaku.

Sambil menghapus tinta di papan tulis, aku tersenyum dan menyembunnyikan air mataku.

Sinar terpancar dari sudut. Ternyata itu sinar matahari yang merasuk melalui jendela kamarku. Aku terbangun, ternyata hanya mimpi. Aku menyentuh pipiku dan menatap jariku, ada setetes air mata tersisa. Untuk pertama kalinya aku menangis ketika aku tertidur.

Mungkin cerita ini sepele. Dan memang hal kecil. Tapi buat saya ini sangat luar biasa. Aku tidak pernah mendapat ranking di kelas, aku jarang sekali mendapat nilai 10 di kelas, bahkan aku lebih sering mendapat nilai nol, 1, 4 dan nilai dibawah angka 6. Aku lebih sering mendapat jeweran dari ayah dibandingkan mendapat senyuman dari orang yang aku harapkan, aku lebih sering mendapat ejekan daripada mendapat tepuk tangan dari orang yang aku harapkan, aku lebih sering mendengar kata “anak guru ko kaya gini” dari pada kata “selamat ya”. Aku lebih sering mengecewakan orang-orang yang aku harapkan daripada membuat mereka bangga.

Terima kasih ya Alloh walaupun aku belum pernah membuat mereka bangga tapi Kau hibur hati ini dengan mimpi yang sangat indah. “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihinnutsuur”.

Oroginaly created by irfan

Applause Image by http://www.superstock.com/