Sosial Media

Sekitar 1 atau 2 bulan yg lalu aku liat-liat ig story, terhenti di story teman wanitaku yang isinya gambar seorang driver gojek yang dia kasih rate bintang 5 dengan caption “terimakasih ya udah mau direpotin nganter sana-sini, lain kali aku teraktir ice cream ya” yang jadi pertanyaanku adalah, story itu ditujukan untuk siapa? apakah seorang driver gojek tersebut follow ig-nya dia? pas boncengan ngobrol-ngobrol trus follow-follow-an ig gitu? aneh. Mengingat teman wanitaku itu tipe cewek yang banyak fans-nya, gak mungkin deh. Sudah jelas itu gak ditujukan untuk si driver gojek tersebut tapi untuk semua orang yang mampir di ig story-nya dia, lalu ngapain dia post story kayak gitu? pamer lah. Era sosial media sekarang aku liat orang-orang itu banyak yang palsu salah satunya dari kasus yang aku ketik diatas. Silahkan melakukan pembelaan “aku tulus kok itu, kamu kan gak tau apa yang ada dipikiran orang lain, jangan sok ngejudge deh” tapi jelas didalam benakku itu memang pamer.

Sosial media sekarang gak sekeren dulu, sekarang isinya quote-quote yang terkesan playing victim, apalagi quote religius tentang jodoh, itu yang paling aku sebel. “Jodoh itu ditangan Tuhan”, “Jika ingin mendapatkan jodoh dekatilah yang menentukan jodoh” Aku yakin orang-orang yang kayak gini tu dia masih belom nemuin jodohnya. Aneh sih orang yang struggle untuk dapetin jodoh ngasih quote tentang tips mendapatkan jodoh, ibaratnya seperti wak doyok yang ngasih tips meninggikan badan. Orang yang udah menemukan jodohnya itu pasti bakalan sibuk dengan kegiatan rumah tangganya, jadi kecil kemungkinan mereka upload quote-quote kayak gitu, kalopun mereka aktif di sosial media, paling upload foto-foto bayinya atau mungkin foto pernikahannya. Udahlah berdoa aja yang fokus, gak perlu ngasih tau kami kalo kamu sedang struggle. Aku sih lebih baik liat yang ngedumel, galau atau marah-marah di sosial media, ya meskipun sama-sama gak enak dibaca seenggaknya mereka gak palsu.

 

Sahabat

Seorang introvert sangat pandai bersahabat, maksudnya bukan gampang dapet sahabat, tapi pandai memilih sahabat. Kemungkinan sahabat yang dia pilih 90% bukan penghianat. Sejauh ini sahabat yang aku pilih tidak pernah menipu atau menghianati, bahkan aku dan mantanku pun dulu putus bukan karena masalah penghianatan. Sampai suatu saat aku dihadapkan dengan beberapa orang yang berusaha mendekatiku sebagai sahabat, mungkin dia pikir kami sudah cukup layak disebut sahabat karena kami suka berbagi cerita. Ya dia pikir begitu karena kenyataannya aku menyimpan jarak dengan dia. Selain insting introvertku yang tidak memilih dia, mungkin karena ketika kami mengobrol, dia lebih sering membicarakan aib orang lain yang menebar kebencian dibandingkan topik bahasan lain yang lebih penting. aku mendengar dia menjelek-jelekkan orang lain sampai kepalaku pusing, rasanya mual-mual ingin muntah. Jika seandainya aku orang yang labil, mungkin aku sudah terbawa ceritanya dan mulai ikut membenci orang yang aibnya sedang dia bongkar. Jika dia bisa membicarakan aib temannya sendiri kepadaku, bukan tidak mungkin dia menceritakan aibku kepada temannya yang lain. Sejak saat itulah aku mulai menjaga jarak. Sahabat yang sebenarnya itu senantiasa menyampaikan apa yang kurang darimu, apa sifat jelekmu demi untuk membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik, itulah bagaimana rasa peduli seorang sahabat. Jika sampai sekarang sahabatmu merasa baik-baik saja, tidak pernah memberitaumu tentang sifat jelekmu, tidak pernah mengeluh tentang bagaimana dia terganggu akan egomu, belum tentu karena kau sempurna, tapi mungkin karena dia tidak memperdulikanmu saja.

Sahabatmu adalah cerminan dirimu sendiri, jika kau palsu, maka diapun palsu.

Jadi ketika aku bersikap manis terhadapu, belum tentu aku berpikir manis tentangmu juga. Lalu kau bilang “ah kamu palsu” jika aku harus jujur, apa kau siap mendengar kenyataan pahit tentangmu?