Bait bait puisi
Mengalun dalam melodi kebimbangan seorang perempuan
Matanya tak lagi memancarkan semangat yang sama
Wajahnya redup
Bak malam yang menjemput paksa senja yang merona

Satu dua
Meluncur kata kata tak rima
Hanya kesedihan dan kegetiran yang amat jelas nyata
Dan sepasang mata
Yang berusaha keras menahan bulir bulir agar tak meninggalkan maniknya

Perempuan itu
Menyeret kesedihannya ke tepian batas
Ingin jiwa terbebas
Dari kungkungan rindu yang tak pernah terbalas
Iya. Dia berdiri. Sendiri. Menghadapi sayat sayat keacuhan yang pelan pelan menggerogoti

Pipinya dingin
Bibirnya mengerucut
Jauh dari keindahan seorang perempuan
Dan kini, matanya sempurna basah
Oleh kenyataan pahit
Bahwa hatinya memang tak pernah berkelana kemana mana
Dan rindu yang selalu dirapalkannya
Patah begitu saja di udara

Cintanya mati. Bersama keacuhan.
Rindunya sirna. Dimusnahkan kenyataan.

Karya Dydyl