Pada malam ini saya akan berbagi tentang pengalaman dalam berhubungan. Ya kita butuh belajar dari pengalaman orang lain agar kita tau dan siap jika menghadapi permasalahan yang sama. Mungkin beberapa dari kalian sudah sangat mahir dalam berhubungan, berbeda dengan saya yang payah dalam hal itu. Namu dengan pengalaman saya yang masih terbatas ini, saya ingin berbagi pengalaman dengan hashtag #RelationshipDiary. Berbeda dengan #SingleDiary yang isinya curhatan saya dengan format cerpen. Saya ingin berbagi dengan jujur kali ini.

Yup #RelationshipDiary kali ini adalah tentang move on. Entah apa yang saya miliki, saya merasa lebih ringan dan lebih bebas dalam menjalani hidup ini setelah  putus. Bisa dibilang saya cepet move on.  Enggak, bukannya saya gak menghargai  mantan saya. Seperti yang tadi saya bilang, saya ingin berbagi dengan jujur kali ini.

 

MENJADI YANG TERBAIK

Kebanyakan orang menilai kalo move on itu susah, ya memang susah kalo kamu yang mengecewakan dia. Kamu merasa dia baik, dia memahami kekurangan kamu, menyukai kamu apa adanya, memperjuangkan kamu sampe titik feeling penghabisan, tapi kamu sadar kalo ternyata selama ini kamu mengecewakan dia. Ingin memperbaiki itu, tapi udah terlambat, dia udah keburu sakit hati. Saya juga bukan tanpa bekal menjalani hubungan dengan seseorang, ada banyak teman saya yang sudah malang melintang mengalami pahit getir dalam berhubungan dan mereka curhat sama saya, lalu saya mendengarkan dengan seksama dan memahami perasaan dia. Mereka yang susah move on rata-rata bilang “padahal dia baik banget sama gue, dia orang terbaik yang prnah gue miliki selama ini” nada-nada penyesalan. Oleh karena itu selama saya berhubungan sebisa mungkin saya tidak menyia-nyiakan kebaikan yang dia kasih, perhatian dan cara dia memandang saya sangat saya hargai, biar apa? Biar suatu saat kalo ada sesuatu yang buruk terjadi pada kami, saya gak begitu menyesal. Saya punya prinsip, selama masih ada perasaan sama dia, saya gak akan berhenti memperjuangkan dia. biar apa? Biar seenggaknya saya udah berjuang udah mencoba menjadi yang terbaik untuk dia sehingga jika tuhan tidak menghendaki hubungan kita, saya tidak begitu menyesal. Banyak orang ketika mereka takut dalam menghadapi rintangan, mereka bilang “seenggaknya kita udah berusaha” ya jika kita udah berusaha, apa lagi? Mungkin kamu harus berusaha lagi, tapi dengan orang yang lebih tepat.

 

BUKAN KARENA BISA ATU GAK BISA, TAPI MAU ATAU TIDAK.

Dalam fase paska putus, kamu akan dihadapkan pada situasi yang disebut “menghargai  perasaan mantan” kamu yang merasa udah cukup menjalani hubungan sama dia, trus kamu udah mulai buka hati untuk orang baru (baru buka hati ya, bukan berhubungan lagi) tapi kamu was-was karena “menghargai perasaan mantan”. Ya buat seseorang yang mau menghargai layak diberikan penghargaan berupa “respek”, namun ingat dari kata “menghargai” tersebut apakah kamu menghargai diri kamu sendiri? Oke Mungkin kamu was-was untuk move on karena menghargai perasaan mantan kamu yang belum bisa move on dan masih ngawasin kamu, ngepoin kamu, bahkan masih cemburu sama kamu. Menurut saya sih itu pribadi masing-masing, itu tergantung kecerdikan kamu dalam menyiasati, menahan diri biar kamu gak suka 100% sama pasangan kamu. Hei teman, kamu itu tampan, kamu itu cantik, ada banyak calon pendamping di dunia ini dan mungkin mereka lebih baik dari orang yang ada di masa lalu kamu. Percuma kamu menjalani hidup ini kalo kamunya gak bahagia, untuk apa berangkat ke kantor, kerja ngumpulin uang, punya bisnis ini itu tapi hati kamu masih tertinggal di masa lalu dan selalu galau?. Move on itu bukan karena bisa atau gak bisa, tapi mau atau tidak.

 

MENJALIN KOMUNIKASI TIDAK SELALU MENJADI SOLUSI YANG TEPAT

Terkadang ketika kamu baru putus, kamu merasa sangat sakit, seperti ada yang menusuk hati kamu dengan pedang beracun, lalu racun itu menjalar ke seluruh tubuh. Sakit memang, tapi coba buka mata kamu, liat temen-temen kamu, sebagian dari mereka pernah merasakan lebih dari pada yang kamu rasain sekarang, trus liat bagai mana dia sekarang? Tentunya menjadi semakin lebih tegar. Saya sempat ngobrol sama teman perempuan saya, dia pernah diputusin sama mantannya dengan sangat tidak baik. Mantannya sampe ngomong kasar sama dia, namun sekarang dia menjadi pribadi yang lebih baik, prinsipnya semakin terbentuk, ketegasannya dalam menjalani hidup semakin terasa, namun dia juga punya komitmen jika dia tidak mau lagi berkomunikasi bahkan bertemu lagi sama mantan karena dia malas untuk menatap wajahnya. Wajahnya seperti kotoran yang berkumpun di jamban sehingga dia jijik untuk melihatnya. Balik lagi dari komitmennya itu, dia berhasil menjaga perasaannya dirinya sendiri, dia bisa menghargai dirinya sendiri, sekarang dia menjadi pribadi yang lebih tegar dan kuat. Banyak orang bilang ketika putus jangan memutus silaturohim. Tapi menurut saya, percumah menjalin silaturohim kalo dengan cara itu kamu merasa terus tersakiti, terus marah, terus mengingat keburukan-keburukan dia sehingga setiap detik kamu ingin mencaci dia, ingin menceritakan keburukan dia kepada orang lain bahkan menjelek-jelekan diri sendiri karena berpikir mengapa dulu kamu memilih dia. See? Kalo dengan menjalin silaturohim kamu malah menambah dosa buat apa? Menjalin komunikasi tidak selalu menjadi solusi yang tepat.