Aku gak tau judul yang menarik perhatian itu gimana karena sebenarnya saya bukan penulis review. 88′ Show adalah acara stand up comedy show yang diselenggarakan oleh komika lokal bandung dan kebetulan mereka adalah sahabat-sahabatku. Jadi buat seorang penulis review amatir, tugas ini cukup berat. Let me clarify aku mulai menulis review ini karena dorongan dari salah satu sahabat yang juga menjadi penampil utama pada show tersebut yaitu Gusman, jadi klo kalian para penampil merasa gak nyaman dengan review-ku, salahin aja Gusman yak.

Seperti penulis stand up review lainnya, mari kita mulai dengan perjalanan aku dari rumah menuju venue. Ujan tapi aku paksakan untuk berangkat karena saya ingin support sahabat-sahabatku juga ingin melihat bagaimana cara mereka memperlakukan show karena beberapa dari mereka sering saya liat di Riung tawa bandung atau openmic bandung. Oke skip kita langsung bahas show-nya aja ya, membosankan juga ngebahas kehidupan aku yang pasti gak menarik untuk kalian. Ohiya show ini cukup unik karena biasanya dibeberapa show stand up comedi tidak diperbolehkan makan dan minum, disini aku malah dikasih popcorn sama air mineral botol kecil walopun isinya dikit dan popcornnya keburu abis sebelum acara mulai. Walaupun kapasitas cuman sekitar 30-50 orang kalo gak salah, tapi dengan posisi tempat duduk yang bertingka keatas terasa seperti show besar, aku selalu merasa excited ketika berada dalam suasana pertunjukan seperti ini.

Awal show masuk lah seorang pria gendut brewokan dengan topi terbalik, dia salah satu performer di acara ini namanya Kuns Kurniawan, dia disini berperan sebagai MC, sendirian dan berhasil banget ngangkat crowd seperti yang biasa saya liat di acara Riung tawa bandung, the always funny Kuns Kurniawan. Meskipun dia mengakui dirinya bukan seorang komika tapi kemampuan riffing-nya menurutku diatas rata-rata dan impovisasinya juga selalu berhasil, kalopun tidak berhasil dia selalu membuat itu berhasil.

Aku gak ngerti ilmu MC jadi bagiku Kuns Kurniawan itu MC yang keren karena dia berada disegmen yang berbeda dengan kami (seorang komika). Berikutnya giliran penampil stand up show pertama, yaitu Giawan. Tampil setelah Kuns menghangatkan suasana bisa berdampak baik atau bruk, baiknya crowd sudah hangat, penonton sudah dibiasakan tertawa jadi tugas Giawan tinggal meneruskan tradisi tertawa yang sudah dibangun oleh Kuns, jeleknya Giawan akan terbebani karena tidak bisa menandingi kelucuan Kuns. Diawal-awal aku melihat itu, aku melihat show ini terasa seprti beban untuknya, beberapa kata ada yang salah, keceletot, banyak pengulangan sampe aku gak tega ngeliatnya. Tapi mulai masuk ditengah-tengah kata-katanya mulai tertata rapi, senyumnya mulai terlihat tulus dan penonton pun sudah mulai mau diajak untuk mengikuti ritme materi Giawan. Dari tengah sampe ending, cukup menghibur, bahkan menurutku Giawan sudah memperlakukan show ini sebagai show, maksudnya performa dia dari tengah sampe akhir terlihat jauh lebih baik dibanding ketika biasa aku lihat di Opemnic.

Penampil berikutnya Acil atau Fadli Mulyadi. Dia salah satu sahabatku kami punya pemikiran yang tidak jauh berbeda tentang perkembangan stand up comedy dan komika-komika yang baru bermunculan jadi sejak awal membeli tiket show ini, Acil adalah komika pertama yang ingin aku tonton. Hasilnya Acil yang saya liat terlihat bukan seperti Acil yang saya kenal. Acil yang saya kenal itu tengil, sarkas, sembarangan begitupun yang sering saya liat di Riung tawa, di show itu Acil terlihat sopan, sangat sopan bahkan beberapa gestur terlihat agak unyu, itu hal yang baru hari itu aku lihat dari Acil, entah mungkin karena salah satu penonton yang membawa anak kecil sehingga membuat Acil menyembunyikan sisi tengilnya. Barulah diakhir-akhir ketika dia mengeluarkan joke sensor TV terlihat tengilnya Acil dan hasilnya kami sangat terhibur. Believe me he’s a good comedian.

Penampil berikutnya Tama Randi, juga salah satu sahabatku, dia lebih berpengalaman daripada kedua penampil sebelumnya karena Tama sudah pernah bikin stand up show sendiri yang bernama Tama-sya Cinta. Selalu diawali dengan kata “Malam” yang juga selalu membuat penonton bingung, ini sapaan atau pernyataan? suatu hal yang menurutku janggal tapi Tama selalu melakukan itu disetiap penampilannya. Auranya berbeda dari dua penampil sebelumnya, mungkin karena showmanship dia sudah terbentuk, dengan mudahnya dia menggiring asumsi penonton. Aku selalu salut dengan delivery dia yang stabil. Namun delivery yang stabil tidak dibarengi dengan punchline yang worth it, joke-nya tentang pengantin barunya, harapan tentang anaknya, juga tentang relationshipnya menurutku masih belum dalam performa punchline yang worth it. Padahal ini level-nya show.

Penampil berikutnya adalah sahabatku Guzman Sige. Dia juga salah satu komika yang menurutku lebih berpengalaman dari komika sebelumnya karena Gusman ini beberapa kali sudah masuk TV, kualitasnya sudah diakui oleh komika senior lainnya dan penonton pun sudah banyak yang mengenal dia. Pembukaan Gusman lebih hangat dari komika sebelumnya, mungkin karena dia berprofesi sebagai seorang penyiar juga. Diawali dengan joke-joke ringan diantaranya ada beberapa joke yang pernah saya dengar diawal karirnya, dari awal sampai tengah kebanyakan joke candaan, saya baru bisa sepenuhnya menikmati penampilan Gusman dari tengah sampai akhir ketika dia mulai impersonate ‘euceu-euceu’ sampai cerita menyedihkan dia tentang relationship joke-nya. Yang saya kagumi dari seorang Gusman adalah cara dia menanggapi hackler.

GIliran komika terakhir yaitu Kamal. Dia seorang komika yang pernah melangkah sampai 7 besar di kompetisi SUCI 6 Kompas tv. Diawali dengan kata “kita istirahat dulu ya” which is seharusnya itu kata yang pantang dikatakan penampil apa lagi levelnya udah show, seolah-olah dia hanya akan menampilkan joke-joke ringan. Diluar dugaan, dia memulai dengan materi budaya sunda dengan mengangkat isu-isu yang tanpa sadar aku tau itu ada namun dia berhasil menemukan premis itu. Brilian.

Dengan tiket sebesar Rp. 30.000 + popcorn dan minum, 88’ show cukup worth it. Penampil saling mengisi kekurangan satu sama lain sehingga show terasa cukup berisi. Aku bukan penulis review yang baik dan ini pertama kalinya. Yang saya harapkan dari acara stand up comedy show adalah penampilan yang spesial dari komika tersebut. Tidak harus materi yang berat-berat tapi materi yang benar-benar direncanakan, dilatih dan ditulis berkali-kali sehingga membuat semua terasa spesial.

Segitu aja, thanks for the show guys.