Poster Film Dilan 1990

Telat ya, mungkin di bioskop dah hampir hilang juga, tapi gak apa-apa lah ini untuk catatan opini saya juga. Ini gara-gara antara ingin nonton atau enggak, soalnya saya masih mengemban pemikiran orang hemat, jadi sayang kalo duit 50ribu dipake nonton film indonesia. Namun karena bener-bener penasaran dan kebetulan suka sama novelnya juga, yaudah saya putuskan nonton Dilan bersama istri. Menurutku Dilan adalah film indonesia pertama tanpa konflik yang saya tonton. Dengan alur yang lempeng-lempeng aja, lurus gak ada intrik-intrik cuman memamerkan gombalan-gombalan dilan, cukup berhasil membuat saya melek terus sampe akhir, mungkin karena nonton sama istri dan respon dia cukup seneng nontonnya. Emosi dan isi dari film cukup nyampe, cuman menurutku masih ada yang kurang, entah backsound, situasi yang dibangun, atau akting pemerannya sehingga ada beberapa momen kebahagiaan milea yang kurang nyampe.

Saya tetep kurang sreg kalo Iqbal yang memerankan Dilan. Ya beberapa bulan lalu ketika spoiler pemeran Dilan diumumkan banyak yang menyayangkan dan mendukung terkait Iqbal sebagai pemeran Dilan. Beberapa teman saya terutama fans-nya iqbal, pro dengan keputusan tersebut. Katanya “kasih kesempatan Iqbal untuk membuktikan kalo dia bisa memerankan Dilan”. Mungkin diantara kalian menilai Iqbal cukup sukses memerankan DIlan, tapi angger mang euy, di novel digambarkan kalo penampilan Dilan itu pas-pasan sementara Iqbal kegantengan. Menurutku yang istimewa dari novel Dilan itu adalah ketika dia dengan muka pas-pasan mengeluarkan jurus sepik-sepik sama cewe sehingga dia mendapatkan wanita secantik milea. Di film Dilan, Iqbal tuh ganteng, bahkan lebih ganteng daripada Nandan & Beni. Ya kalo dipikir-pikir, gak Perlu susah-susah pake jurus kusus untuk memikat milea kalo Dilan-nya seganteng Iqbal.

Menurutku sih itu doang yang hilang. Di novel Dilan, seorang anak SMA yang mukanya pas-pasan bisa dapetin Wanita secantik milea sehingga terkesan seperti buku trik mendapatkan wanita cantik, jadi cowok-cowok yang mukanya pas-pasan bisa merasa terwakilkan. Tapi kalo seganteng Iqbal, ya simpulkan saja sendiri.