Selesai membeli pulsa aku beranjak menaikin motorku lalu menyalakan mesinnya. Tak sengaja aku melihat ke sebrang, sepertinya aku mengenali tukang roti bakar itu. Itu Dani?

Setiap hari selasa adalah mata pelajaran penjaskes atau olah raga. Rutinitas yang membuatku semangat adalah ketika kita harus berlari ke komplek yang lumayan jauh dan harus menyebrangi sawah. Ketika itu aku masih berstatus siswa baru dihadapan penghuni kelas 5 SD. Aku yang memiliki kendala dalam bersosialisasi sangat membutuhkan waktu untuk berbaur dengan mereka. Ditambah lagi dengan wajahku yang katanya jutek, semakin sulitlah aku berbaur dengan mereka. Ketika kami berlari menyebrangi sawah, aku hanya berlari sendirian. Tak ada satupun yang mau menemaniku, ditambah lagi staminaku yang sangat lemah membuatku selalu berada di posisi paling belakang. Aku selalu tertinggal. Teman2 baruku sudah jauh di depannku, aku melihat mereka menaiki mobil kol buntung yang kebetulan lewat. Mobil melambat karena menunggu mereka naik, sementara aku berlari semakin kencang untuk meraih mobil itu. Jarakku dengan mobil itu semakin dekat namun mobil mulai melaju.

“fan sini naik” Sahut salah satu teman sekelasku sambil mengulurkan tangan kearahku. Aku masih ingat, tangannya kasar, kekar, terlihat seperti tangan yang terlatih mengerjakan hal-hal berat.

Aku berusaha keras meraih tangannya namun mobil melaju semakin kencang sehingga aku hanya membungkuk kecapean dan berhenti berlari.

“ah elu diajakin naik malah berenti lari” sambil berjalan kearahku.

“eh elu kok turun? Gak ikut naik mobil?”.

“ah banyak tanya lu, yok lari lagi. Oh iya kenalin nama gue Dani”.

Akhirnya kami lari berdua, sementara yang lain berangkat lebih dulu dengan menaiki mobil kol buntung tersebut. Ketika itulah aku pertama kali mengenal dia.

___

Jam sudah memasuki detik-detik terakhir menuju bubar kelas. Seperti biasa guruku mengadakan permainan siapa yang bisa menjawab, boleh pulang. Guruku bertanya “siapa yang memiliki wewenang dalam pemerintahan indonesia” aku tidak tau persis, kurang lebih pertanyaannya seperti itu.

Aku mengacungkan tangan dan menjawab “PRESIDEN!!”

“iya betul, irfan silahkan kamu boleh pulang duluan”

Akupun pergi keluar kelas. Permainan ini terlihat sangat seru karena hadiahnya adalah boleh pulang duluan, semua teman-temanku bersemangat karena mereka sangat tergiur dengan hadiahnya. Namun yang sering kami lakukan ketika kami boleh pulang malah menunggu teman dekat kita pulang. Tidak ada artinya hadiah itu. Itu juga yang sering aku lakukan, ketika aku diperbolehkan untuk pulang duluan aku menunggu Dani sampai dia diperbolehkan untuk pulang.

Akhirnya Dani diperbolehkan untuk pulang karena dia berhasil menjawab pertanyaan dari guru kamu tentang biologi. Kami berjalan menuju gerbang. Ketika sampai ke gerbang, banyak orang yang masuk dan keluar gerbang secara tidak beraturan. Ya karena ketika itu siswa/ siswi yang kebagian jam siang harus masuk ke gerbang, sementara kami yang kebagian jam pagi harus keluar gerbang sehingga jalan harus berdesakan.

“Fan ikutin gue ya”

Lalu aku terus mengikuti dia dari belakang. Ditengah kerumbunan orang-orang aku terseret mundur sampai kehilangan keseimbangan lalu aku memegang celana Dani.

“Dan tolong dan gue keseret.. tolong dan toloooong..”

Lalu dia malah memukuli tanganku “ih lepas lepas!!”

“Dan gue keseret Dan tolooong”

Pukulannya semaki keras “ih lepas!!”

Ketika aku liat, ternyata aku tidak sedang memegang celananya Dani, tapi sedang memegang roknya Dian. Tidak aneh jika dia terus memukuli tanganku sampai merah.

“oh iya maaf” akhirnya aku terseret sampai masuk sekolah lagi.

___

“Irfaaaaaaaan”. Dani berdiri di depan rumahku. Seperti biasa dipagi hari sebelum berangkat sekolah Dani ke rumahku agar bisa berangkat bersama ke sekolah. karena  jarak rumah kami berdekatan, rutinitas itu terus berlanjut dari semenjak kami pertama kali kenal sampai kami sekelas lai di kelas 3 SMP ini. Kami berjalan menuju sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Perjalanan ke sekolah sering kali kami isi dengan membicarakan perempuan-perempuan di sekolah. Ya meskipun aku selalu gugup jika berhadapan dengan perempuan. Aku sering membicarakan perempuan yang berbeda setiap harinya, namun Dani hanya membicarakan satu perempuan yang bernama wati.  Tak jarang dia bercerita tentang ketidak yakinannya, tak jarang juga dia bercerita dengan semangat ketika mengalami hal yang menyenangkan terhadap perempuan pujaannya itu.

Ditengah perjalanan, aku yang selalu terkena flu setiap pagi karena alergi udara sering sekali membuang ludah ke pinggir rumah. Ketika itu aku merasa sangat ingin meludah, ingin mengeluarkan dahak yang menyumbat ditenggorokan ini. Aku menepi ke salah satu rumah dengan gerbang berwarna putih, “KHOOEEEKKKK CUUUUHHHH!!” aku arahkan ke tepi rumah itu. Tiba-tiba ada yang teriak, “ANJING SIAH!! GOBLOG SIAH!! SETAN SIAH!!  BUDAK SMP GOBLOG!!”. Ternyata dibalik gerbang ada orang yang sedang makan bubur putih. Spontan kami kaget dan berlari. Ditngah-tengah kami berhenti, kami terdiam. Lalu serempak tertawa terbahak-bahak ketika menyadari ada orang yang sedang makan bubur dibalik gerbang itu.

___

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan Dani. Dulu aku masih belum mengerti handphone sehingga ketika kami terpisah, hilanglah kontak kami. Ditambah sekarang rumahku sudah pindah yang artinya rumah kami sudah tidak berdekatan lagi. Aku dulu sekolah di STM. Di STM jam belajarnya sangat padat, ditambah lagi aku mengikuti kelas khusus yang mengharuskan pulang ke rumah jam 8 malam. Otakku terisi dengan kegiatan sekolah, tak jarang ketika hari sabtu minggu pun aku dipanggil ke sekolah untuk menjaga lab komputer. Aku lupa pada sahabatku. Meskipun begitu aku selalu bertanya pada diriku sendiri “Dani dimana ya sekarang?” karena ketika kami lulus SMP, Dani tidak memberi tau ke SMA mana dia akan meneruskan. Itu karena keadaan keluarganya yang tidak mampu, sehingga Dani tidak tau harus menjawab apa ketika seseorang bertanya “lu mau nerusin ke SMA mana?”.

Suatu ketika, aku masuk sekolah pagi. Aku harus datang lebih awal untuk mengikuti UAN. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya, tiba-tiba aku menabrak seseorang. PRAKKK!! Kami saling melihat.

“Irfan?”

“Dani?”

“haaai apa kabar?? Udah lama banget ikta gak ketemu”. Kami berpelukan.

“kemana aja lu fan? Gila lu ganteng sekarang, pake janggot segala lagi, makin mirip lu sama bapak lu”

“haha lu sekarang dimana dan, gaya lo pake sorban segala, pake baju serba putih juga. Lu jadi wali songo sekarang?”

“haha bisa aja lu. Sekarang gue belajar agama fan di mesjid sebelah.”

“oo gitu, Alhamdulillah deh, dan gue harus cepet-cepet ke sekolah nih, mau UAN sampe ketemu lagi ya”

“yaudah buruan gih, iya sukses ya UANnya”

itu kejadian yang sangat langka dan semenjak itu, kami tidak pernah bertemu lagi.

___

Jam kantor sudah menunjukkan pukul 17.00, artinya sudah waktunya pulang. Namun seperti biasa aku mengobrol dulu dengan teman-teman sekantorku sampai bosan. Ketika itu aku sama sekali tidak mengingat Dani. Dia sudah hilang dipikiranku, karena aku sudah memiliki banyak sahabat sehingga benar-benar aku tidak terpikir untuk bertemu dengan Dani. Aku banyak berubah. Dulu aku pendiam, sekarang aku adalah orang yang senang berbincang, sering menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan teman-teman sekantor meskipun aku masih baru di kantor ini.

Tak terasa sudah jam 20.00 malam dan aku bergegas memakai jaket dan menyalakan motor pulsar-ku lalu pulang. Jembatan pasupati dimalam hari sangat indah. Lampu-lampu kendaraan, angin yang menerpa jaket hangatku, pemandangan rumah-rumah membuatku nyaman menikmati perjalanan ini. Sungguh suasana malam yang membuatku tidak mau beranjak dari kota bandung ini. Aku mulau memasuki jalan kebon kopi yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Kebetulan pulsa handphone-ku habis. Aku beranjak membeli pulsa yang tidak jauh dari sini. Selesai membeli pulsa aku beranjak menaikin motorku lalu menyalakan mesinnya. Tak sengaja aku melihat ke sebrang, sepertinya aku mengenali tukang roti bakar itu. Itu Dani?

Aku turun dari motor lalu akau mendekatninya. “Dan?”

Dia terlihat sangat sibuk sampai-sampai dia tidak mendengarku. “DAN?”

Dia melihat kearahku, lalu diam sejenak “IRFAN??? Heeeeeey brroooooo” spontan dia memelukku.

“jualan roti sekarang Dan?”

“iya fan” sambil mengaduk adonan telur dengan sangat mahir. Ketika melihat tangannya, sejenak aku teringat tangannya kasar, kekar, terlihat seperti tangan yang terlatih mengerjakan hal-hal berat ketika ia mengulurkan tangan kearahku waktu pelajaran olah raga dulu.

“yaudah gue beli 3”

“siiaaapp.. gawe dimana sekarang lu?”

“gue gawe di perusahaan konsultan IT”

“widiih keren lu, gak nyangka padahal rapot lu dulu kebakar mulu haha”

“haha inget aja lu”

“gila lu makin gede makin ganteng aja lu, makin mirip bapak lu. Suka ganti-ganti cewek lu pasti”

“kagak, boro-boro. Kan lu tau gue cupu”

“haha bener-bener, iya gue lupa”

“trus lu sekarang udah punya cewe belum?”

“gue udah nikah doooong. Dulu gue mau undang lu, tapi lu udah pindah rumah”

“serius? Nikah sama siapa?”

“sama cewek yang selalu gue ceritain sama elu”

“Wati?? Wih mantap men”

Ketika itu kami berbagi cerita dan berbagi nomor kontak. Kami bertemu lagi.

Sahabat tidak akan pernah hilang, dia hanya berada di suatu tempat mendukung kita dengan doanya.